ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Perbedaan waktu dan pola turunnya hujan di Indonesia masih sulit diprediksi secara akurat. Selisih antara hasil model cuaca dan kondisi nyata bahkan bisa mencapai beberapa jam, terutama saat fenomena Osilasi Madden-Julian (MJO) berlangsung.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Sopia Lestari, menyoroti kompleksitas hujan di wilayah maritim seperti Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Sumatra. Ia menjelaskan, kawasan benua maritim memiliki karakter hujan yang kompleks dan cenderung sulit dimodelkan.
“Yang menjadi fokus studi saya karena di benua maritim secara umum siklus curah hujan selalu memiliki bias yang persisten,” kata Sopia, dalam keterangan terulis dikutip Minggu (5/4/2026).
ADVERTISEMENT
MJO adalah gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur, membawa fase hujan lebat dan fase kering secara bergantian. Fenomena ini memengaruhi kondisi cuaca harian. Sopia membandingkan hasil model dengan data pengamatan dan menemukan ketidaksesuaian dalam menangkap puncak curah hujan.
“Kita tahu bahwa MJO adalah osilasi skala besar yang melewati Indonesia dan juga memiliki fase 1 hingga 8. Kita dapat melihat bahwa puncak curah hujan yang diamati oleh WARP memiliki dua puncak sedangkan yang diamati oleh satelit STEM hanya memiliki satu puncak. Jadi, dari gambar ini kita dapat menunjukkan bahwa model menangkap fase puncak curah hujan yang tidak akurat selama MJO,” jelas Sopia.
Perbandingan di wilayah Sumatra dan Borneo juga memperlihatkan perbedaan waktu turunnya hujan antara model dan kondisi nyata. Selisih tersebut cukup signifikan dalam memahami pola cuaca.
“Jadi, garis putus-putus menunjukkan rata-rata curah hujan per jam dan garis tebal dan garis tipis, garis tebal menunjukkan pengamatan, garis tipis menunjukkan model. Jadi, kita dapat melihat di sini bahwa puncak curah hujan yang ditunjukkan oleh model dan juga oleh pengamatan memiliki jeda waktu yang cukup berbeda,” tegasnya.
Menurut Sopia, hujan biasanya mencapai puncak pada larut malam. Namun dalam model, puncak tersebut tidak tergambar dengan jelas.
“Jadi dari sini kita dapat melihat ada kesalahan dalam penentuan waktu curah hujan global dan maksimum empat hingga lima jam yang menunjukkan bahwa pemisahan jenis curah hujan sangat penting untuk mensimulasikan fase siklus curah hujan dengan benar, terutama di atas benua maritim,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan penelitian di Indonesia yang memiliki bentuk wilayah kompleks. Keterbatasan data membuat kajian terkait jenis hujan masih belum banyak berkembang.
“Jadi tantangan saat ini adalah bahwa di atas benua maritim Indonesia kita memiliki topografi yang sangat kompleks tetapi kita memiliki kumpulan data yang sangat sedikit dan hanya ada sedikit penelitian tentang jenis curah hujan,” sebutnya.
Struktur awan juga memengaruhi waktu dan sebaran hujan, namun penelitian detail tentang pola hujan skala kecil di Indonesia masih terbatas.
“Tetapi sejauh ini belum banyak penelitian yang mencoba menyelidiki pola temporal spasial skala halus di atas benua maritim Indonesia, khususnya untuk curah hujan,” tutur Sopia.
Dari hasil penelitian, hujan tipe stratiform atau hujan dari awan berlapis menjadi yang paling dominan saat MJO berlangsung, terutama di Sumatra.
“Dan stratiform di Sumatera memiliki frekuensi yang lebih tinggi daripada di Jawa dan curah hujan stratiform lebih tinggi selama fase aktif. Dan tampaknya tidak terkait dengan siklus Indian Ocean,” tutup Sopia.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






