KORAN MANDALA – Kopi kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dari secangkir kopi hitam di pagi hari hingga espresso, cappuccino, latte, dan kopi susu kekinian, minuman ini hadir dalam berbagai bentuk dan cita rasa.
Namun, perjalanan kopi hingga menjadi minuman yang mendunia tidak berlangsung singkat. Kopi memiliki sejarah panjang yang melintasi benua, budaya, dan zaman, sebelum akhirnya menjadi salah satu komoditas penting, termasuk di Indonesia.
Bagi sebagian orang, kopi identik dengan kafein yang membantu meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk. Namun, dunia kopi jauh lebih luas dari sekadar efek kafein.
ADVERTISEMENT
Konser Ratusan Juta di Tengah Defisit APBD Bandung, Prioritas Anggaran Dipertanyakan
Jenis biji, varietas, daerah asal, kondisi lingkungan, proses pengolahan, tingkat sangrai, hingga metode penyeduhan dapat menghasilkan karakter rasa dan aroma yang berbeda.
Tidak Hanya Arabika dan Robusta
Arabika dan Robusta merupakan dua jenis kopi yang paling dikenal masyarakat. Namun, dunia kopi juga mengenal Liberika dan Excelsa yang memiliki karakteristik serta cita rasa tersendiri.
1. Kopi Arabika
Kopi Arabika (Coffea arabica) banyak dibudidayakan di daerah dengan kondisi lingkungan yang sesuai, terutama wilayah dataran tinggi.
Arabika dikenal memiliki karakter rasa yang relatif kompleks. Bergantung pada varietas, daerah asal, proses pengolahan, dan penyeduhan, kopi ini dapat menghadirkan nuansa buah, bunga, cokelat, kacang, hingga rempah.
Biji Arabika umumnya berbentuk lebih lonjong dengan garis tengah yang melengkung. Kandungan kafeinnya juga cenderung lebih rendah dibandingkan Robusta.
Karakter rasa yang beragam membuat Arabika banyak diminati penikmat kopi dan memiliki nilai ekonomi penting dalam perdagangan kopi dunia.
2. Kopi Robusta
Berbeda dengan Arabika, kopi Robusta (Coffea canephora) dikenal memiliki karakter rasa yang lebih kuat, pahit, dan cenderung earthy.
Tanaman Robusta relatif lebih mudah beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan dan memiliki ketahanan lebih baik terhadap penyakit tertentu dibandingkan Arabika. Kandungan kafeinnya juga umumnya lebih tinggi.
Dalam cangkir, Robusta dapat menghadirkan karakter pahit dengan nuansa kacang dan cokelat. Tingkat keasamannya biasanya lebih rendah dibandingkan Arabika.
Karakter yang kuat membuat Robusta banyak digunakan sebagai campuran dalam espresso. Jenis kopi ini juga menjadi salah satu komoditas penting bagi sejumlah negara penghasil kopi, termasuk Indonesia.
3. Kopi Liberika
Kopi Liberika (Coffea liberica) memiliki buah dan biji yang relatif lebih besar dibandingkan Arabika dan Robusta.
Tanaman ini dikenal mampu tumbuh pada kondisi lingkungan yang lebih menantang, termasuk wilayah dengan tingkat kelembapan tinggi. Di Indonesia, Liberika juga dibudidayakan di sejumlah daerah.
Dari sisi cita rasa, Liberika menawarkan karakter yang berbeda. Kopi ini dapat menghadirkan nuansa buah, kayu, rempah, hingga smoky, tergantung varietas, daerah asal, proses pengolahan, dan penyeduhan.
Keunikan bentuk biji dan karakter rasanya membuat Liberika menjadi salah satu pilihan bagi penikmat kopi yang ingin menjelajahi jenis kopi di luar Arabika dan Robusta.
4. Kopi Excelsa
Excelsa memiliki sejarah klasifikasi yang cukup menarik. Dalam klasifikasi botani modern, kopi yang sebelumnya dikenal sebagai Coffea excelsa umumnya ditempatkan sebagai bagian dari Coffea liberica.
Meski demikian, nama Excelsa masih banyak digunakan dalam perdagangan dan budaya kopi untuk menyebut karakter kopi tertentu.
Excelsa dikenal memiliki profil rasa yang kompleks, dengan perpaduan nuansa asam, buah, rempah, dan earthy. Karakter tersebut membuatnya dapat digunakan sebagai kopi tunggal maupun campuran.
Dibandingkan Arabika dan Robusta, Excelsa relatif lebih jarang ditemukan di pasaran. Kondisi itu justru membuatnya menarik bagi penikmat kopi yang ingin mencoba pengalaman rasa berbeda.
Berawal dari Ethiopia
Sejarah kopi kerap dikaitkan dengan Ethiopia di Afrika Timur, wilayah yang memiliki hubungan panjang dengan tanaman kopi.
Salah satu cerita paling populer adalah legenda tentang Kaldi, seorang penggembala kambing yang disebut melihat hewan peliharaannya menjadi lebih aktif setelah memakan buah dari tanaman kopi.
Kisah Kaldi lebih dikenal sebagai legenda daripada catatan sejarah yang terverifikasi. Namun, hubungan Ethiopia dengan sejarah kopi memang sangat kuat.
Dari Afrika Timur, kopi kemudian menyebar ke wilayah Arab. Sekitar abad ke-15, masyarakat Yaman mulai membudidayakan dan mengolah kopi sebagai minuman.
Dari kawasan tersebut, kopi kemudian menyebar ke berbagai wilayah hingga mencapai Eropa pada abad ke-17.
Kopi pun berkembang bukan hanya sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial. Kedai kopi bermunculan di sejumlah kota Eropa dan menjadi tempat masyarakat bertemu, berdiskusi, bertukar informasi, hingga membicarakan berbagai persoalan sosial.
Kopi Masuk ke Indonesia pada Masa Kolonial Belanda
Perjalanan kopi kemudian berlanjut ke Indonesia. Belanda membawa tanaman kopi Arabika dari Malabar, India, ke Pulau Jawa pada 1696.
Pemerintah kolonial mencoba membudidayakan tanaman kopi di Kedawung, wilayah pertanian di sekitar Batavia. Namun, percobaan pertama tersebut gagal akibat kondisi cuaca ekstrem dan bencana alam.
Belanda kemudian kembali mendatangkan tanaman kopi dari Malabar sekitar tiga tahun kemudian. Upaya berikutnya menunjukkan hasil lebih baik.
Pada 1706, tanaman kopi berhasil dikembangkan di Pulau Jawa. Keberhasilan tersebut mendorong pemerintah kolonial memperluas perkebunan kopi ke berbagai wilayah.
Kopi kemudian menjadi salah satu komoditas ekspor penting. Perdagangan kopi memberikan keuntungan besar bagi pemerintah kolonial Belanda, sementara sistem perkebunan pada masa itu juga menjadi bagian dari sejarah panjang eksploitasi ekonomi di Hindia Belanda.
Namun, perkembangan perkebunan kopi menghadapi persoalan serius pada akhir abad ke-19. Pada 1878, penyakit karat daun yang disebabkan jamur Hemileia vastatrix menyerang tanaman Arabika dan merusak banyak perkebunan.
Belanda kemudian mencoba mengganti Arabika dengan Liberika yang diharapkan lebih tahan terhadap penyakit. Upaya tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena tanaman Liberika juga menghadapi serangan penyakit.
Memasuki 1900, Robusta mulai diperkenalkan dan dibudidayakan di Jawa Timur. Ketahanannya terhadap penyakit karat daun membuat Robusta berkembang dan kemudian menyebar ke sejumlah wilayah lain, termasuk Sumatra.
Perkembangan tersebut turut membentuk keragaman kopi Indonesia yang dikenal hingga sekarang.
Dari Minuman Pengusir Kantuk Menjadi Gaya Hidup
Seiring perkembangan zaman, fungsi kopi dalam kehidupan masyarakat ikut berubah.
Kopi tidak lagi sekadar diminum untuk membantu mengurangi rasa kantuk. Kedai kopi berkembang menjadi ruang sosial baru. Masyarakat datang untuk mengerjakan tugas, bekerja, bertemu teman, berdiskusi, hingga sekadar menghabiskan waktu.
Industri kopi pun terus berinovasi. Berbagai minuman berbasis espresso, kopi susu, es kopi, hingga racikan dengan beragam bahan tambahan bermunculan untuk memenuhi selera konsumen.
Di sisi lain, berkembang pula budaya menikmati kopi berdasarkan asal daerah, metode pengolahan, teknik penyeduhan, hingga karakter rasa.
Perjalanan panjang kopi menunjukkan bagaimana sebuah tanaman dapat melintasi batas geografis dan budaya hingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dunia.
Dari Ethiopia, menyebar ke dunia Arab, berkembang di Eropa, kemudian menjadi komoditas penting di Indonesia, kopi kini telah menjelma menjadi bagian dari budaya, industri, dan gaya hidup.
Secangkir kopi pada akhirnya bukan hanya tentang rasa pahit atau aroma yang khas. Di dalamnya terdapat perjalanan panjang sejarah, perdagangan, budaya, hingga perubahan cara manusia menikmati sebuah minuman.(Raul Krishnandi)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






