KORAN MANDALA – – Upaya memperkuat keberlanjutan Seni Bebegig Sukamantri sebagai identitas budaya Kabupaten Ciamis terus dilakukan melalui serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, masyarakat tidak hanya diajak melestarikan Bebegig sebagai seni helaran, tetapi juga didorong untuk mengembangkan keterampilan, inovasi produk, dan kreativitas yang dapat membuka peluang ekonomi berbasis budaya.
Program yang dilaksanakan bersama Sanggar Seni Bebegig Sukamantri Baladdewa ini mencakup tiga kegiatan utama, yaitu Pelatihan Produksi Topeng Bebegig Sukamantri, Pelatihan Produksi Cenderamata Bertema Bebegig Sukamantri, serta Kompetisi Desain Bebegig Sukamantri. Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan sepanjang Mei hingga Agustus 2026 dan melibatkan perajin, seniman, generasi muda, serta masyarakat yang memiliki minat terhadap pengembangan Seni Bebegig.
Program ini didanai melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) BIMA–PISN 2026, Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI.
ADVERTISEMENT
Regenerasi Perajin melalui Pelatihan Topeng
Kegiatan pertama berupa Pelatihan Produksi Topeng Bebegig Sukamantri yang dilaksanakan pada 31 Mei–7 Juni 2026 di Sanggar Seni Bebegig Sukamantri Baladdewa, Dusun Cempaka, Desa Sukamantri, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis.
Pelatihan diarahkan untuk menjawab salah satu persoalan penting dalam keberlanjutan Bebegig, yakni keterbatasan regenerasi perajin topeng. Peserta tidak hanya belajar teknik pahat kayu, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai filosofi, karakter visual, dan identitas Bebegig Sukamantri.
Dalam kegiatan tersebut diperkenalkan hasil kajian mengenai tiga karakter Bebegig, yaitu Raksasa, Détya, dan Dénawa, sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman terhadap karakter Bebegig kuno. Dengan demikian, proses kreatif tidak sekadar menghasilkan bentuk topeng, tetapi tetap mempertimbangkan nilai historis dan identitas budaya yang melekat pada Seni Bebegig Sukamantri.
Pendekatan learning by doing diterapkan melalui proses perencanaan bentuk, pembentukan karakter, pemahatan detail, penghalusan, pewarnaan, hingga finishing. Pelatihan ini diharapkan menjadi ruang regenerasi pengetahuan dan keterampilan dari perajin senior kepada generasi penerus.
Dari Topeng ke Produk Cendera Mata
Tahap berikutnya adalah Pelatihan Produksi Cendera Mata Bertema Bebegig Sukamantri yang dilaksanakan pada 12–18 Juli 2026. Kegiatan ini berangkat dari persoalan lain, yaitu belum berkembangnya produk suvenir yang dapat menjadi media promosi Seni Bebegig sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sebanyak 20 peserta terlibat dalam kegiatan pelatihan. Peserta berasal dari anggota sanggar dan masyarakat yang memiliki minat untuk mengembangkan produk kreatif bertema Bebegig.
Melalui pendekatan learning by doing, peserta diperkenalkan pada proses pembuatan master miniatur topeng, pembuatan silicone rubber mold, reproduksi menggunakan epoxy resin, pewarnaan, finishing, hingga pengemasan.
Hasilnya, karakter visual Bebegig mulai ditransformasikan menjadi berbagai bentuk cendera mata, antara lain miniatur topeng, gantungan kunci, magnet kulkas, mug, tumbler, kaus, dan aksesori lainnya.
Inovasi ini menjadi penting karena Seni Bebegig tidak hanya hadir ketika helaran berlangsung. Karakter visualnya dapat dibawa pulang oleh wisatawan sebagai kenangan sekaligus menjadi media promosi budaya Ciamis. Dengan teknologi cetak, produk juga memiliki peluang untuk diproduksi secara lebih efisien dan seragam dibandingkan apabila seluruh produk dibuat secara manual.
Kompetisi Desain: Membuka Ruang Kreativitas
Rangkaian kegiatan PISN 2026 kemudian dilanjutkan dengan Kompetisi Desain Bebegig Sukamantri pada 16–17 Agustus 2026. Kompetisi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengeksplorasi kreativitas sekaligus memperkaya referensi visual Bebegig Sukamantri.
Kompetisi desain tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan dan mengembangkan identitas visual Bebegig. Melalui kegiatan ini, masyarakat diberi kesempatan untuk melihat Bebegig dari perspektif kreatif tanpa melepaskan akar budaya yang menjadi karakter utamanya.
Dengan adanya dokumentasi desain dan karya masyarakat, diharapkan semakin banyak referensi yang dapat digunakan untuk pengembangan produk seni, cendera mata, media promosi, maupun inovasi kreatif lainnya.
Memperkuat Ekosistem Seni dan Ekonomi Kreatif
Ketiga kegiatan tersebut dirancang sebagai satu rangkaian yang saling melengkapi. Pelatihan topeng memperkuat regenerasi perajin; pelatihan cendera mata membuka peluang hilirisasi seni menjadi produk ekonomi kreatif; sedangkan kompetisi desain memperluas ruang kreativitas dan pengembangan identitas visual Bebegig.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat dan sanggar bukan sekadar sebagai penerima program, tetapi sebagai pelaku utama dalam menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi budaya lokal.

Ke depan, hasil kegiatan diharapkan dapat berkembang menjadi ekosistem usaha cendera mata berbasis Bebegig Sukamantri, termasuk melalui pengembangan kios atau pusat suvenir di kawasan wisata. Dengan demikian, wisatawan yang datang ke Sukamantri tidak hanya menyaksikan pertunjukan helaran, tetapi juga dapat membawa pulang produk yang merepresentasikan identitas budaya daerah.
Program PISN 2026 pada akhirnya menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan. Bebegig Sukamantri tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber inspirasi bagi desain, inovasi seni, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Kabupaten Ciamis.
Melalui kreativitas masyarakat, Bebegig Sukamantri diharapkan terus hidup, bukan hanya sebagai pertunjukan budaya, tetapi sebagai identitas, inspirasi, dan kekuatan ekonomi kreatif masyarakat Sukamantri.
Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 dari Itenas Bandung diketuai oleh Drs. Edi Setiadi Putra, M.Ds. (Prodi Desain Produk) dengan anggota dosen : Drs. M. Djalu Djatmiko, M.Ds. (Prodi Desain Produk), Iyus Kusnaedi, S.Sn., M.Ds., (Prodi Desain Interior) dan Ardhiana Muhsin M., S.T., M.T. (Prodi Asitektur). Kegiatan ini juga melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Desain Produk, yaitu : M. Abimanyu Al Farisi, M. Rachmat Sarodji, dan Rizki M. Nurdin.
Pada kesempatan tersebut tim mengucapkan terima kasih kepada: DPPM- kemendiktisaintek, LPPM Institut Teknologi Nasional Bandung, Fakultas Arsitektur dan Desain – Institut Teknologi Nasional Bandung, Kepala Desa Sukamantri kec Sukamantri kab Ciamis, Ketua dan Pengurus Sanggar Seni Bebegig Sukamantri Ciamis (*)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






