KORAN MANDALA – Langkah kaki Yudha Pramudya (14) sore itu terasa biasa saja saat berjalan pulang melewati gang usai menuntaskan jam belajar di sekolah.
Namun, sebuah pesan yang masuk ke ponselnya seketika mengubah hari biasa murid kelas IX SMP Negeri 2 Kota Cimahi tersebut menjadi momen yang tak terlupakan.
Foto potret perajin kayu asal Jepara yang dikirimkannya beberapa bulan sebelumnya berhasil meraih juara pertama dalam ajang fotografi internasional UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads 2026 ke-8 untuk kelompok usia 14–17 tahun.
Prestasi itu menjadi kejutan bagi Yudha yang baru mulai menekuni dunia fotografi. Sebelumnya, ia sempat gagal dalam kompetisi fotografi tingkat lokal di Cimahi. Namun, kegagalan tersebut justru mendorongnya untuk kembali mencoba.
“Saya juga enggak nyangka karena pernah ikut nyoba sekali di Cimahi enggak menang. Nyoba lagi yang internasional menang, taunya itu pas pulang sekolah dan langsung ngasih tahu orang tua,” ujar Yudha.
Perjalanan Yudha menuju kompetisi internasional bermula ketika ia menemukan informasi lomba melalui media sosial. Saat melihat unggahan mengenai Youth Eyes on the Silk Roads Photo Contest 2026, ia tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut.
Pendaftaran kompetisi dibuka sejak 8 April 2026 dengan batas akhir pengumpulan karya pada 28 Juli 2026. Yudha kemudian mendaftarkan diri pada akhir Juni 2026.
“Awalnya nemu postingan di Instagram dan langsung mau nyoba, aku daftar di akhir bulan Juni,” ungkapnya.
Untuk kompetisi tersebut, Yudha memilih foto yang menampilkan aktivitas seorang perajin kayu tradisional Jepara. Dalam jepretan itu, ia menangkap ketelitian tangan perajin saat mengerjakan detail ukiran kayu.
Karya tersebut diberi judul A Legacy in Every Carving atau Warisan Dalam Setiap Ukiran. Foto itu kemudian dikirimkan untuk bersaing dalam kompetisi fotografi yang diikuti peserta dari berbagai negara.
Yudha menyebut foto tersebut tidak sekadar menggambarkan aktivitas seorang perajin. Melalui jepretannya, ia ingin menunjukkan keterampilan sekaligus warisan budaya yang masih dipertahankan para perajin kayu Jepara.
Karya Yudha bersaing dengan sekitar 7.000 karya dari 100 negara yang mengikuti kompetisi. Dari ribuan karya yang mengangkat sejarah dan kebudayaan Jalur Sutra, foto perajin kayu Jepara yang diabadikannya berhasil meraih penghargaan tertinggi pada kelompok usia 14–17 tahun.
Bagi Yudha, penghargaan tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan awalnya di dunia fotografi. Apalagi, prestasi itu diraih setelah sebelumnya ia gagal dalam kompetisi tingkat lokal.
Kegagalan tersebut justru menjadi titik awal bagi Yudha untuk mencoba kesempatan yang lebih luas. Dari sebuah jepretan tentang perajin kayu Jepara, karya pelajar asal Cimahi itu akhirnya mendapat pengakuan di panggung internasional UNESCO.
