ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Mengapa umat Islam diwajibkan menunaikan salat lima kali sehari? Mengapa ibadah ini mendapat kedudukan yang begitu istimewa hingga menjadi amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat?
Pertanyaan tersebut menjadi tema utama khutbah Jumat yang disampaikan Ustadz Adi Hidayat di Pesantren Ma’had Islam Rafiah Akhyar (MIRA), Jumat, 29 Mei 2026.
Di hadapan jamaah, Ustadz yang akrab disapa UAH itu mengajak umat Islam memahami salat bukan hanya sebagai kewajiban ritual yang dilakukan berulang setiap hari. Menurutnya, Al-Qur’an telah memberikan jawaban yang sangat rasional, menyentuh aspek spiritual, intelektual, sekaligus kebutuhan manusia dalam menjalani kehidupan.
ADVERTISEMENT
“Pernahkah di antara kita bertanya mengapa kita harus menunaikan salat lima kali yang pokok dalam sehari?” tanya UAH mengawali khutbahnya.
Dari pertanyaan itulah, UAH kemudian menguraikan lima jawaban Al-Qur’an tentang hikmah di balik perintah salat.
1. Salat Membuktikan Bahwa Kita Bertuhan kepada Allah
Menurut UAH, jawaban pertama dapat ditemukan dalam Surah Thaha ayat 14.
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ ١٤
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menyembah-Nya dan menegakkan salat. Bagi UAH, salat merupakan bentuk pembuktian paling nyata bahwa seorang Muslim benar-benar mengakui Allah sebagai Tuhannya.
Keimanan tidak cukup hanya diucapkan melalui syahadat atau disimpan dalam hati. Keimanan harus tampak dalam tindakan.
“Kalau kita mengaku bertuhan kepada Allah, maka salat adalah pembuktiannya,” jelasnya.
Karena itu, salat menjadi salah satu pembeda utama antara orang yang benar-benar tunduk kepada Allah dengan mereka yang belum menjalankan konsekuensi keimanannya.
2. Salat Menjaga Manusia dari Perbuatan Keji dan Mungkar
Jawaban kedua merujuk pada Surah Al-Ankabut ayat 45 yang menjelaskan bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
UAH menjelaskan bahwa keburukan pada dasarnya bersumber dari dua hal: dorongan syahwat yang tidak terkendali dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.
Karena itu, salat yang dilakukan dengan benar akan membentuk karakter seseorang. Orang yang menjaga salatnya akan lebih mudah menjaga ucapan, perilaku, serta tindakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa tujuan salat bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan membentuk pribadi yang semakin baik dari waktu ke waktu.
“Orang yang salat lisannya akan berkata yang baik. Orang yang salat tangannya memegang yang baik. Orang yang salat kakinya melangkah kepada yang baik,” ujarnya.
3. Salat Adalah Cara Membangun Koneksi dengan Allah
Salah satu bagian yang paling menarik dalam khutbah tersebut adalah ketika UAH menggunakan analogi yang sangat dekat dengan kehidupan modern.
Menurutnya, salat merupakan cara seorang hamba membangun “koneksi” atau “sinyal” dengan Allah SWT.
Sebagaimana seseorang membutuhkan jaringan yang baik untuk berkomunikasi melalui telepon seluler, manusia juga membutuhkan hubungan yang kuat dengan Tuhannya.
Semakin kuat hubungan itu, semakin dekat pula seseorang dengan pertolongan Allah.
UAH mencontohkan kisah Nabi Zakaria AS yang berdoa dalam salatnya ketika menginginkan keturunan. Meski secara manusiawi tampak mustahil karena faktor usia dan kondisi istrinya, Allah tetap mengabulkan doa tersebut dengan menganugerahkan Nabi Yahya AS.
Menurutnya, kisah itu menunjukkan bahwa salat bukan hanya ibadah, melainkan ruang komunikasi antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
“Kalau hambaku benar salatnya, apa yang ia minta akan Aku kabulkan,” ujar UAH saat menjelaskan hadis qudsi tentang dialog seorang hamba dengan Allah dalam bacaan Al-Fatihah.
4. Salat Menghadirkan Ketenangan Jiwa
Keutamaan berikutnya adalah ketenangan.
UAH menjelaskan bahwa tidak semua persoalan hidup langsung selesai setelah seseorang berdoa. Namun Allah sering kali lebih dahulu memberikan ketenangan kepada hati seorang hamba sebelum menghadirkan solusi atas masalah yang dihadapinya.
Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim dianjurkan kembali mendekat kepada Allah melalui salat.
Menurutnya, sujud merupakan posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Pada saat itulah seseorang dapat mencurahkan segala kegelisahan, harapan, dan doa.
“Walaupun solusinya belum datang, Allah berikan ketenangan pada jiwa kita,” kata UAH.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah bahwa hati akan menjadi tenteram dengan mengingat-Nya.
5. Salat Menjadi Bekal Menuju Husnul Khatimah
Jawaban terakhir berkaitan dengan akhir perjalanan hidup manusia.
Menurut UAH, salat melatih seseorang untuk memiliki tumakninah atau ketenangan dalam setiap gerakan dan bacaan. Ketenangan yang terus dilatih itu lambat laun membentuk jiwa yang tenang atau nafsul muthmainnah.
Jiwa yang tenang inilah yang kelak diharapkan dapat mengantarkan seseorang kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik.
UAH mengutip Surah Al-Fajr ayat 27 hingga 30 yang menggambarkan panggilan Allah kepada jiwa yang tenang untuk kembali kepada-Nya dengan penuh keridaan.
“Orang-orang yang salatnya bagus maka pulangnya pun enak, meninggalkan dunia ini dengan tenang,” ujarnya.
Amal Pertama yang Akan Dihisab
Menjelang akhir khutbah, UAH mengingatkan bahwa salat merupakan amal pertama yang akan diperiksa pada Hari Kiamat.
Jika salat seseorang baik, maka amal-amal lainnya akan mengikuti. Sebaliknya, jika salatnya bermasalah, maka hal itu menjadi pertanda bahwa masih banyak aspek kehidupan yang perlu diperbaiki.
Karena itu, menurut UAH, salat bukan sekadar kewajiban harian, melainkan sarana yang Allah berikan agar manusia terus terhubung dengan-Nya, terjaga dari keburukan, memperoleh ketenangan, dimudahkan dalam doa-doanya, serta dipersiapkan menuju akhir kehidupan yang baik.
Khutbah yang disampaikan di Pesantren Ma’had Islam Rafiah Akhyar (MIRA) tersebut menjadi pengingat bahwa di balik perintah salat lima waktu, tersimpan hikmah besar yang menyentuh seluruh aspek kehidupan seorang Muslim, dari dunia hingga akhirat. (FMA)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






