ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Sudah jatuh tertimpa tangga, Mungkin pepatah itu bisa menggambarkan kondisi profesi wartawan saat ini. Sudah bersaing dengan teknologi ditambah banyak juga yang mengaku-ngaku wartawan.
Hal itu seperti yang disampaikan Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Golkar Yomanius Untung saat menjadi narasumber dihadapan peserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Jawa Barat Angkatan 74-75-76, di Gor Wartwan, Jalan Wartawan II no 23 Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.
Pria bertubuh gempal itu dengan jelas mengatakan, peran kuli tinta itu sangat penting selain penyampai informasi juga merupakan pilar keempat demokrasi di Indonesia ini.
ADVERTISEMENT
SPMB Kota Bandung Tahap 2 Dibuka, Orang Tua Diminta Cermati Data dan Persyaratan
Namun sayang, peran penting itu dirusak oleh segelintir orang yang mengaku-ngaku wartawan. Tanpa ada Kredibilitas dan integritas mereka mengaku sama dengan wartawan yang mengerjakan pekerjaannya dengan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.
“Wartawan yang tidak kredibel dan tidak berintegritas akan merusak dirinya dan profesinya,” kata Ketua Anggota Komisi V tersebut.
Sialnya, dia mengaku pernah berhadapan langsung dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai wartawan. Dari etika dan pertanyaan yang dilontarkan tidak objektif dan cenderung menyudutkan.
“Wartawan abal-abal memeras, mengancam membuat berita negatif,” ucap Politisi dari Golkar tersebut.
Ucapan dari pria berkacamata itu nyatanya didasari dengan data yang cukup menohok, dari data yang dihimpun dari divisi Humas Polri kasus pemerasan yang dilakukan oleh oknum wartawan khususnya di Jawa Barat ternyata cukup mengkhawatirkan.
Pertama Pemerasan ASN di Subang (Maret 2026) Kejadian: Polres Subang menangkap seorang oknum wartawan berinisial MH (47) yang memeras seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Bapenda Subang. Ke dua Wartawan Gadungan Peras Kepala Desa di Sumedang (Juli 2025). Dan Pemerasan di Cianjur (Februari 2025).
Kasusnya dan modusnya mirip-mirip melakukan teror dan mengancam akan memberitakan berita yang negatif terhadap para korbannya.
Padahal dari data Dewan Pers saat ini para kuli tinta di Jawa Barat terdapat 5.360 orang dan yang tersertifikasi baru tercatat 2.659, melihat data itu dia berharap PWI Jawa Barat bisa menggelar sertifikasi ini rutin agar secara SDM bisa meningkat.
“Sertifikasi itu menjadi penting untuk mengupgrade diri dan memastikan dalam bekerja menjujung tinggi kode etik jurnalistik nya,” ujarnya.
Keresahan banyaknya wartawan abal-abal ini dirasakan oleh Muhammad Azam wartawan dari Wartawan kota (Karawang). Azam yang keseharian meliput di Karawang itu mengaku resah dengan munculnya wartawan abal-abal ini.
“Pastinya resah karena kadang kita yang bekerja dengan menjunjung kode etik malah kalah dengan wartawan yang entah dari mana asalnya,” Ucapnya.
Dikhawatirkan kata dia, jika tidak dihilangkan malah profesi wartawan ini akan mendapatkan citra yang buruk dari masyarakat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






