ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Suara “moo…” terdengar bersahutan dari deretan kandang di Depot Amanda Kurban,di Jalan Tubagus Ismail No. 57A, Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
H-7 menjelang Iduladha, suasana di lokasi penjualan hewan kurban mulai dipenuhi aktivitas. Aroma rumput segar bercampur jerami menguar di udara, sementara suara mesin pencacah rumput sesekali memecah suasana.
Di tengah kesibukan itu, Agus (30) penanggung jawab makanan hewan kurban (Sapi) tampak berjalan dari satu kandang ke kandang lainnya. Tangannya yang dilapisi sarung tangan menggenggam pisau kecil untuk memotong lapisan daun jagung. Dengan gerakan cepat, ia merapikan tumpukan pakan sebelum memasukkannya ke mesin pencacah.
ADVERTISEMENT
Di hadapannya, sapi-sapi yang sedari tadi bersuara pelan mulai mendekat. Beberapa tampak menggerakkan kepala ke arah Agus, seolah mengetahui waktu makan telah tiba.
Suara “moo…” kembali terdengar. Sesaat kemudian sapi-sapi itu langsung lahap menyantap campuran jerami, daun jagung, dan rumput gajah yang baru selesai diracik.

Di antara deretan sapi itu, tampak beberapa lembar kertas dengan coretan merah mencolok yang diletakkan di bagian tubuh hewan. Coretan tersebut bukan hiasan atau penanda biasa. Di tempat itu, garis merah berarti satu hal: sapi tersebut telah laku terjual.
Sambil memperhatikan sapi-sapi yang sedang makan, Agus menjelaskan pakan yang setiap hari ia siapkan.
“Makanannya jerami, daun jagung sama rumput gajah. Itu diracik supaya menggemukkan sapi,” ujar Agus, Saat ditemui Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, peningkatan penjualan tahun ini mulai terasa cukup besar.
“Alhamdulilah Hampir 80 persen peningkatan penjualan di sini dibanding tahun lalu,” katanya.
Dari total 29 ekor sapi yang baru datang ke depot, sebagian besar ternyata sudah menemukan pemiliknya.
“Yang sudah terjual sekitar 21 ekor, jadi tinggal sekitar delapan ekor lagi,” ujarnya.
Coretan merah di atas kertas pada sapi terus bertambah setiap harinya. Namun bagi Agus, semakin banyak tanda itu muncul, semakin dekat pula waktunya berpisah dengan hewan yang selama ini ia rawat.

Setiap hari Agus tidak hanya datang untuk memberi makan. Ia memastikan pakan tersedia, memperhatikan kondisi sapi, dan menjaga agar hewan-hewan tersebut tetap sehat.
Saat ditanya apakah ada rasa sedih ketika sapi yang dirawat akhirnya dibawa pembeli, Agus terdiam sejenak.
“Ada perasaan sedih. Lumayan saya ini… enggak bisa dikata-katakan,” katanya sambil tersenyum kecil.
Baginya, rasa itu muncul bukan tanpa alasan.
” Iya Karena sudah dirawat, dikasih makan terus,” lanjutnya.
Di balik ramainya transaksi menjelang Iduladha, ada pekerjaan yang berjalan dalam diam. Ada tangan-tangan yang memastikan hewan tetap terawat sebelum sampai ke tangan pembeli.
Sore itu suara “moo…” masih terdengar dari dalam kandang. Agus kembali mengangkat tumpukan daun jagung, lalu menyiapkan pakan berikutnya.
Sementara coretan merah di atas tubuh sapi semakin banyak bermunculan, bagi pembeli itu adalah tanda hewan telah terjual. Namun bagi Agus, itu juga perlahan menjadi tanda bahwa perpisahan semakin dekat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






