ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Bagi sebagian orang, reuni sekolah mungkin hanya menjadi ajang bernostalgia. Namun, berbeda dengan Keluarga Besar Alumni (KBA) SMPN 1 Garut. Sejak berdiri pada 12 Oktober 2024, wadah silaturahmi lintas angkatan itu perlahan berkembang menjadi ruang untuk saling peduli dan membantu sesama alumni.
Menjelang dua tahun berdiri, KBA mampu mempertemukan alumni dari berbagai generasi. Mulai dari alumni angkatan 1965 hingga generasi yang lebih muda, termasuk angkatan 2001.
Menariknya, KBA berjalan tanpa struktur organisasi formal. Meski demikian, hubungan kekeluargaan yang terbangun justru membuat komunitas tersebut tetap berjalan dan mampu merangkul alumni dari berbagai angkatan.
ADVERTISEMENT
Pemkab Garut dan Forkopimda Perkuat Pengawasan Obat Terlarang dan Jam Malam Anak
Pertemuan rutin digelar satu kali setiap bulan. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga diisi dengan kajian dan kegiatan kerohanian.
Namun, kepedulian KBA tidak berhenti pada alumni yang aktif mengikuti pertemuan. Semangat tersebut kemudian berkembang menjadi kepedulian kepada seluruh keluarga besar alumni SMPN 1 Garut.
Salah satunya diwujudkan melalui tradisi menyisihkan sebagian rezeki sebagai bentuk sumbangsih atau kadeudeuh bagi keluarga alumni yang tengah berduka.
Awalnya, tidak ada rencana untuk membuat kotak amal. Gagasan tersebut muncul dari salah seorang alumni dan kemudian mendapat respons positif. Dana yang terkumpul selanjutnya diperuntukkan bagi keluarga alumni yang ditinggalkan.
Semangat itu kembali terlihat ketika sejumlah alumni mendatangi rumah duka keluarga Fredy Antonie, alumni SMPN 1 Garut angkatan 1986 yang meninggal dunia pada Senin (10/8/2026).
Aa Priatna, alumni angkatan 1975, datang bersama sejumlah alumni dari angkatan 1988, 1996 dan 2001 untuk bertakziah.
Kedatangan mereka ternyata menjadi kejutan sekaligus penguat bagi keluarga almarhum. Istri Fredy Antonie mengaku terharu karena tidak menyangka akan mendapat perhatian dari keluarga besar alumni SMPN 1 Garut.
“Alhamdulillah, KBA peduli kepada seluruh alumni SMPN 1 Garut. Kedatangan kami ke keluarga almarhum Fredy Antonie, pihak keluarga sangat terharu. Kata istrinya, tidak disangka-sangka akan datang dari alumni SMPN 1. Dia juga mengucapkan terima kasih atas perhatiannya kepada seluruh jemaah KBA,” kata Aa Priatna, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, kegiatan takziah tersebut dapat dilakukan secara bergiliran agar hubungan antarsesama alumni semakin dekat. Namun, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut tidak bersifat wajib.
“Sebaiknya dalam takziah ini bergilir agar semua bisa saling dekat dan kenal, juga saling mengetahui kegiatan yang ada di KBA. Itu pun bukan suatu paksaan atau keharusan. Mangga, siapa pun yang ada waktu dan kesempatan silakan ikut,” ujarnya.
Peduli Tanpa Membedakan Angkatan
Semangat KBA mendapat apresiasi dari para alumni. Yuyun, alumni angkatan 1988, mengaku bangga melihat kepedulian yang ditunjukkan komunitas tersebut.
Menurutnya, KBA tidak membedakan apakah seorang alumni aktif mengikuti kegiatan KBA atau tidak. Ketika ada alumni yang mengalami musibah, seluruhnya tetap dianggap sebagai bagian dari keluarga besar.
“Alhamdulillah, merasa bangga dengan adanya KBA yang peduli kepada semua alumni. Meski yang meninggal bukan jemaah kajian KBA, tidak dibeda-bedakan ke semua alumni. Merasa berbangga hati bisa ada KBA. Semoga selalu istiqamah dan selalu dimudahkan untuk kebaikan,” kata Yuyun.
Hal senada disampaikan Nenden, alumni angkatan 1996. Menurutnya, kepedulian kepada seluruh alumni merupakan semangat utama yang ingin terus dipertahankan.
“Ketika kami mendapatkan informasi, kami pasti datang untuk takziah. Ini berlaku bukan hanya jemaah yang di KBA saja, tapi untuk semua angkatan. Karena santunan yang kami berikan ini berasal dari jemaah, jadi dari kita untuk kita,” ujar Nenden.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota KBA yang secara sukarela menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu sesama alumni.
“Tidak lupa saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh jemaah yang sudah menyisihkan rezekinya. Semoga Allah SWT ganti berlipat,” katanya.
Kehangatan yang sama dirasakan Liceu, alumni angkatan 2001. Meski datang dalam suasana duka, ia melihat keluarga almarhum menyambut kedatangan para alumni dengan hangat.
“Kedatangan kami disambut hangat oleh keluarga almarhum. Istri almarhum dalam keadaan sedih namun tabah. Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian kepada seluruh jemaah di KBA,” tutur Liceu.
Bagi KBA SMPN 1 Garut, perjalanan hampir dua tahun bukan sekadar tentang menjaga hubungan dengan teman-teman lama. Lebih dari itu, KBA perlahan membangun kembali rasa persaudaraan yang melampaui perbedaan usia dan angkatan.
Dari alumni yang bersekolah pada 1960-an hingga generasi 2000-an, semuanya dipertemukan oleh satu identitas yang sama: pernah menjadi bagian dari SMPN 1 Garut.
Dan ketika salah satu dari mereka berduka, yang datang bukan sekadar teman lama, melainkan keluarga besar yang masih menyimpan kepedulian.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






