ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Deru mesin bus datang dan pergi silih berganti di Terminal Leuwipanjang. Suara klakson, teriakan kondektur, hingga langkah kaki para pemudik yang menuruni tangga bus berpadu menjadi satu irama khas menjelang arus mudik Lebaran.
Di tengah hiruk pikuk itu, deretan ojek pengkolan duduk menunggu dengan sabar di pangkalan. Helm diletakkan di setang motor, sebagian pengemudi berbincang santai, sebagian lagi memandang ke arah pintu keluar terminal, berharap ada penumpang yang menghampiri.
Salah satunya adalah Aang (42). Sudah sekitar sepuluh tahun ia menggantungkan hidup dari pangkalan ojek di depan terminal tersebut.
ADVERTISEMENT
Di pangkalan Ojek Baraya, tempat Aang biasa mangkal, sekitar 30 pengemudi ojek pengkolan berbagi rezeki. Pos mereka terbagi di tiga titik: di dalam terminal, di luar area terminal, dan di pinggir jalan depan terminal. Mereka saling bergantian mengambil penumpang yang datang.
Pada hari-hari biasa, penumpang memang tetap ada—kebanyakan pekerja yang terburu-buru mengejar waktu. Namun suasana menjelang Lebaran terasa berbeda. Terminal lebih ramai, dan harapan para pengemudi ojek pun ikut meningkat.
“Alhamdulillah sekarang menjelang Lebaran pendapatan lumayan bertambah. Beda sama hari-hari biasa, ada peningkatan,” ujar Aang saat ditemui, Jumat (13/3/2026).
Seperti kebanyakan pengemudi ojek pangkalan lainnya, penghasilan Aang tidak pernah pasti. Semua tergantung ramai atau tidaknya penumpang yang datang.
Namun ketika arus mudik mulai terasa, peluang mendapatkan penumpang pun ikut bertambah.
“Pendapatan di sini memang enggak tentu. Tapi kalau lagi ramai, kadang bisa dapat Rp200 ribu lebih sehari. Itu juga tergantung harinya,” katanya.
Para pemudik yang turun di terminal tidak hanya berasal dari Bandung. Banyak di antara mereka yang baru tiba dari berbagai daerah dan akan melanjutkan perjalanan ke kota lain di Pulau Jawa.
“Yang mudik macam-macam tujuannya. Ada yang ke Bekasi, Solo, sampai Madiun. Tadi juga ada yang nanya ke saya jalur mudik gratis, saya arahkan saja masuk ke dalam terminal,” ujar Aang.
Bagi Aang sendiri, musim mudik tidak selalu berarti pulang kampung jauh-jauh. Warga yang tinggal tidak jauh dari terminal itu mengaku hanya mudik ke daerah yang masih bisa ditempuh pulang pergi dalam sehari.
“Kalau saya mudiknya enggak jauh, paling ke Soreang. Masih bisa PP,” katanya sambil tersenyum.
Aang adalah ayah dari tiga anak. Anak sulungnya sudah bekerja, sementara anak keduanya masih sekolah dan yang paling kecil masih duduk di bangku PAUD. Karena itu, setiap penumpang yang datang bukan sekadar perjalanan singkat, tetapi juga harapan untuk menambah nafkah keluarga.
Di tengah berkembangnya layanan ojek daring, Aang tidak melihatnya sebagai ancaman. Baginya, semua pengemudi pada dasarnya sedang mencari rezeki dengan cara yang sama.
“Menurut saya sama saja, baik ojek online maupun ojek pangkalan. Sama-sama kerja cari nafkah buat keluarga. Kita saling menghargai saja,” ujarnya.
Meski musim mudik memberi sedikit napas lega bagi pengemudi ojek pangkalan, Aang tetap menyimpan harapan sederhana untuk masa depan.
“Harapannya ke depan semoga lebih baik lagi dari sekarang. Yang penting kita tetap berusaha cari nafkah dengan jujur,” katanya.
Di tengah keramaian Terminal Leuwipanjang yang dipenuhi pemudik, Aang dan puluhan pengemudi ojek pangkalan lainnya terus menunggu di pangkalan.
Bagi mereka, setiap tas yang turun dari bagasi bus, setiap langkah pemudik yang keluar dari pintu terminal, bisa menjadi awal perjalanan kecil—dan juga rezeki di musim mudik Lebaran.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






