ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Dekan Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (Unisba), Asep Ahmad Shidiq, menilai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum reflektif dan transformatif untuk mengaktualisasikan akhlak Rasulullah dalam kehidupan umat.
Menurut Asep, esensi Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, melainkan menghadirkan kembali risalah, keteladanan, dan misi kemanusiaan yang beliau ajarkan agar menjadi pedoman dalam membentuk perilaku personal maupun sosial.
“Menurut saya, Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum reflektif dan transformatif untuk mengaktualisasikan akhlak Rasulullah dalam kehidupan umat,” ujar Asep Saat dihubungi Koran Mandala Selasa (25/8/2026)
Ia menuturkan, Al-Qur’an telah menegaskan keteladanan Rasulullah melalui firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21.
“Al-Qur’an menegaskan, ‘Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu’ (QS. Al-Ahzab: 21),” katanya.
Keteladanan tersebut, lanjut Asep, diperkuat dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Qalam ayat 4 yang menegaskan bahwa Rasulullah memiliki akhlak yang agung.
“Keteladanan tersebut diperkuat oleh firman Allah, ‘Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung’ (QS. Al-Qalam: 4). Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah idealnya tidak hanya diekspresikan melalui pujian dan peringatan, tetapi dibuktikan melalui perubahan karakter,” tuturnya.
Asep juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya akhlak sebagai bagian dari kualitas seorang Muslim.
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya manusia yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya’ (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas keberagamaan memiliki dimensi moral yang sangat kuat,” ujarnya.
Menurutnya, keimanan semestinya melahirkan berbagai perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kejujuran, amanah, kesantunan, keadilan, kesabaran hingga kepedulian terhadap sesama.
“Keimanan semestinya melahirkan kejujuran, amanah, kesantunan, keadilan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama,” katanya.
Ia menambahkan, aktualisasi keteladanan Nabi dapat dimulai dari hal-hal sederhana dan konkret dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam praktik sehari-hari, aktualisasi keteladanan Nabi dapat dimulai dari hal-hal yang konkret: jujur dalam pekerjaan, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, santun dalam berkomunikasi, adil dalam mengambil keputusan, serta peduli terhadap keluarga, tetangga, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.
Karena itu, Asep memandang Maulid Nabi sebagai gerakan untuk membawa umat dari sekadar simbol menuju substansi. Menurutnya, keberhasilan peringatan Maulid tidak seharusnya hanya dilihat dari kemeriahan kegiatan, tetapi dari perubahan perilaku masyarakat setelah memperingatinya.
“Karena itu, saya melihat Maulid Nabi sebagai gerakan dari simbol menuju substansi. Keberhasilan Maulid tidak semestinya diukur dari kemeriahan acaranya, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai kenabian berubah menjadi perilaku nyata,” ungkapnya.
Ia berharap Maulid Nabi mampu mendorong umat untuk melalui proses mulai dari mengenal, mencintai, hingga meneladani Rasulullah dan menerapkannya dalam kehidupan sosial.
“Jadi, Maulid idealnya menghasilkan perubahan dari mengenal Nabi menuju mencintai Nabi, dari mencintai Nabi menuju meneladani Nabi, dan dari meneladani Nabi menuju pembentukan kehidupan sosial yang berakhlak,” pungkas Asep
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






