KORANMANDALA.COM – Senin, 2 Maret 2026. Melintasi Tol Purbaleunyi menuju Bandung sering kali menguji nyali. Kita kerap menjumpai pengemudi yang melakukan aksi zig-zag, saling salip, dan mengabaikan marka jalan seolah sedang berada di lintasan Tamiya (mobil balap mini berpenggerak empat roda). Semua ingin paling depan, semua ingin cepat sampai dan segera tuntas perjalanan, namun abai pada keselamatan dan etika berkendara.
Di hari keduabelas Ramadhan ini, fenomena “Tamiya” tersebut sering kali pindah ke dalam batin kita. Kita menjalani puasa dengan mentalitas balapan: ingin cepat berbuka, ingin cepat khatam, dan ingin cepat sampai ke Idul Fitri, hingga lupa menikmati setiap proses “tanjakan” spiritual yang sedang kita daki.
Jadwal Imsakiyah 12 Ramadhan 1447 H (Bandung & Sekitarnya)
Penanda waktu bagi Anda yang sedang menahan diri dari keriuhan lintasan aspal maupun batin:
| Ibadah | Waktu (WIB) |
| Magrib (Buka Puasa) | 18.15 |
| Isya | 19.21 |
| Imsak (Selasa, 3 Mar) | 04.29 |
| Subuh (Selasa, 3 Mar) | 04.39 |
Pukul 18.15 WIB nanti, saat Anda mungkin masih terjebak di antara deretan lampu rem di Cipularang, ingatlah bahwa Magrib bukan sekadar “garis finis”, melainkan momen untuk mensyukuri perjalanan yang telah ditempuh.
Tasawuf Ringan: Bahaya Ketergesaan (Al-Ajalah)
Dalam kearifan Islam, ketergesaan (Al-Ajalah) adalah sifat yang muncul saat ego mengambil kendali. Puasa yang “mengebut” hanya akan menyisakan lapar dan dahaga. Kita melakukan ritual secara mekanis—persis seperti dinamo Tamiya yang berputar kencang namun tanpa kendali batin.
Esensi perjalanan batin adalah Sakinah (ketenangan). Tuhan mengingatkan:
“…Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan mereka…” (QS. Al-Fath: 4)
Jika di jalan tol kita bisa celaka karena mengabaikan rambu, di dalam Ramadhan kita sering “menabrak” rambu kesabaran hanya karena merasa lelah atau ingin segera menuntaskan ritual harian.
Self-Reminder: Apakah Anda “Pengemudi” yang Bijak?
Gunakan momen perjalanan Anda untuk mengenal diri lebih dalam melalui audit batin sederhana:
-
Audit Kecepatan Batin: Tanyakan pada diri sendiri, “Mengapa aku ingin hari ini cepat berlalu?” Jika tujuannya hanya untuk segera makan enak, kita sedang kehilangan makna perjalanan itu sendiri.
-
Memeriksa Marka Etika: Apakah selama 12 hari ini kita masih sering “memotong jalur” dengan menyakiti perasaan orang lain atau merasa paling benar sendiri hanya karena sedang berpuasa?
-
Seni Menikmati “Kemacetan”: Titik jenuh dalam beribadah sebenarnya adalah momen untuk berhenti sejenak dan memeriksa mesin niat. Jangan dipaksa mengebut jika “oli” keikhlasan kita sedang kering.
Ramadhan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai di hari kemenangan. Ini tentang siapa yang mampu menjaga “rem” egonya di setiap tikungan hari. Jangan jadikan puasamu seperti lintasan Tamiya yang kencang namun tanpa arah. Pelankan langkah, nikmati setiap embusan napas, dan patuhi rambu-rambu cinta-Nya. (FMA)
