ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Minggu, 1 Maret 2026. Bandung di Minggu pagi biasanya dipenuhi warga yang berburu keringat di Gasibu atau sekadar jalan santai di kawasan Saparua. Namun, bagi kita yang sedang menempuh perjalanan batin di hari kesebelas ini, ada ritme yang mulai berubah. Tantangan terbesar di 10 hari kedua bukanlah rasa lapar, melainkan kejenuhan terhadap rutinitas.
Eforia awal Ramadhan mungkin mulai memudar. Di titik inilah, nilai Konsistensi (Istiqomah) menjadi pembeda. Ibarat pendaki yang sudah melewati checkpoint pertama, kini kita diuji oleh tanjakan panjang yang landai namun melelahkan.
Jadwal Buka Puasa 11 Ramadhan 1447 H (Bandung & Sekitarnya)
Penanda syukur bagi Anda yang terus menjaga nyala api semangat hari ini:
ADVERTISEMENT
Ibadah Waktu (WIB)
Magrib (Buka Puasa) 18.15
Isya 19.21
Imsak (Senin, 2 Mar) 04.29
Subuh (Senin, 2 Mar) 04.39
Pukul 18.15 WIB nanti, saat Bandung mungkin dibalut gerimis tipis yang syahdu, jadikan momen berbuka sebagai bahan bakar baru untuk menjaga langkah yang mulai terasa berat.
Tasawuf Ringan: Melampaui Ritual Menuju Spiritual
Banyak dari kita terjebak pada angka: berapa juz yang sudah dibaca atau berapa rakaat yang sudah dikerjakan. Padahal, kualitas “kehadiran” hati jauh lebih penting. Dalam ilmu tasawuf, ini disebut sebagai Muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi, bukan hanya saat kita bersujud, tapi juga saat kita menghadapi antrean kendaraan di Pasteur atau berinteraksi dengan orang rumah.
Tuhan memberikan janji kedekatan yang menenangkan:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat…” (QS. Al-Baqarah: 186)
Konsistensi adalah bukti cinta. Seseorang yang mencintai tidak akan merasa jenuh dengan rutinitas, karena setiap detiknya adalah kesempatan untuk “berjumpa” dengan Sang Pemilik Kehidupan di dalam hatinya sendiri.
Self-Discovery: Mengenal Diri Melalui “Jeda”
Agar Ramadhan tidak hanya menjadi perpindahan waktu makan, mari lakukan langkah praktis untuk mengenal diri lebih dalam di minggu kedua ini:
Mendeteksi “Kebocoran” Niat: Perhatikan apa yang paling sering mengalihkan fokus Anda. Apakah itu keinginan untuk terlihat paling religius di media sosial? Atau justru rasa malas yang mulai menggerogoti? Mengenali gangguan ini adalah cara Anda melihat batas-batas ego sendiri.
Praktik 10 Menit Hening: Luangkan waktu sejenak sebelum berbuka tanpa ponsel. Biarkan pikiran Anda mengalir. Di dalam keheningan itulah, suara nurani yang sering tertutup bisingnya aktivitas Bandung akan mulai terdengar kembali.
Menata Ulang Tujuan: Tanyakan pada diri sendiri: “Jika Ramadhan berakhir besok, perubahan apa yang paling ingin aku bawa selamanya?” Jawaban jujur Anda akan menjadi kompas baru untuk sisa perjalanan ini.
10 hari kedua adalah fase di mana para “pejalan” sejati mulai terlihat. Jangan biarkan langkah Anda melambat hanya karena tubuh mulai terbiasa dengan lapar. Ramadhan adalah tentang transformasi diri yang maksimal, bukan sekadar durasi 30 hari.
Selamat berbuka puasa, warga Bandung. Teruslah menjaga api di dalam hati, agar cahaya-Nya tetap menuntun langkah kita melampaui segala kejenuhan. (FMA)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






