KORANMANDALA.COM –Di tengah gempuran musik digital dan platform streaming seperti Spotify, sebuah toko kaset lawas di Kota Bandung tetap kokoh berdiri selama seperempat abad. Du 68 Music, yang berlokasi di Jalan Dipati Ukur No. 68B Lantai 2, menjadi saksi bisu perjalanan panjang industri musik analog yang menolak sepenuhnya ditelan zaman.
Pemilik toko, yang akrab disapa Bang Ben (48) mengungkapkan bahwa Du 68 Music telah beroperasi di lokasi yang sama sejak tahun 2000. Pria asal Palembang itu sudah melayani para pencinta musik di Kota Kembang lebih dari 25 tahun, tanpa pernah berpindah tempat.
“Dari awal buka sampai sekarang, tetap berdiri. Kita yang pertama kali ngontrak di ruko ini, sampai sekarang enggak bergeser,” ujar Bang Ben saat ditemui di tokonya, Selasa (14/1/2026).
Di saat banyak yang menganggap kaset sebagai medium usang, Bang Ben justru menepis anggapan bahwa bisnis kaset tengah mati suri. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir, kaset justru mengalami kebangkitan. Menariknya, segmen pembeli kini bergeser drastis.
“Yang beli malah Gen Z sebenarnya. Sudah ganti generasi. Bisa dibilang 75 persen pembeli di sini itu anak-anak muda,” katanya.
Bang Ben menilai generasi muda merasakan semacam “kekosongan” ketika hanya mendengarkan musik melalui gawai dan layanan streaming. Kehadiran medium fisik kaset, sampul, hingga suara analog memberikan pengalaman dan kepuasan koleksi yang tidak tergantikan.
Sebelum memiliki toko fisik seperti sekarang, Bang Ben memulai perjalanannya sebagai pedagang kaki lima di kawasan Asia Afrika. Dari lapak sederhana itulah kecintaannya pada musik analog tumbuh dan bertahan.
Kini, Du 68 Music menyimpan ribuan koleksi kaset, termasuk rilisan band legendaris Indonesia seperti Harry Rusli, yang di pasar kolektor bisa dibanderol Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per kaset.
Meski identik dengan medium analog, Bang Ben tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi digital. Ia justru menganggap internet dan platform streaming sebagai mitra yang membantu keberlangsungan tokonya.
“Sebenarnya bagus teknologi sekarang. Kita kebantu. Info band sekarang semuanya ada di Google atau YouTube. Justru kebantu juga kita,” ucapnya.
Di tengah perubahan zaman, Du 68 Music bukan sekadar toko kaset. Ia menjadi ruang nostalgia, titik temu lintas generasi, sekaligus bukti bahwa musik dalam bentuk apa pun selalu menemukan cara untuk tetap hidup. (Muhamad Yura Adani Putra/MG)
