KORAN MANDALA –Mahasiswa yang tergabung dalam Poros Barisan kembali menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Kamis (29/10/2026). Mereka mendesak pemerintah segera menindaklanjuti tuntutan yang sebelumnya disampaikan dalam aksi pada 20 Oktober lalu.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar menampung aspirasi, tetapi juga menunjukkan langkah konkret untuk merealisasikan tuntutan. Mereka bahkan mengancam akan meningkatkan eskalasi gerakan apabila tidak ada tindak lanjut dari pemerintah.
Massa aksi berasal dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Islam Nusantara (Uninus), Universitas Langlangbuana (Unla), Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Politeknik Bandung (Polban).
Massa mulai tiba di lokasi sekitar pukul 15.40 WIB. Berdasarkan pantauan di lokasi, sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang berjaga di sekitar Gedung DPRD Jabar.
Presiden Mahasiswa Unpas, Muamar Baasir, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk desakan agar pemerintah segera merespons berbagai aspirasi yang telah disampaikan mahasiswa.
Menurutnya, seluruh tuntutan yang dibawa dalam aksi dirangkum dalam seruan utama bertajuk Pulihkan Indonesia. Seruan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga mencakup berbagai sektor kehidupan masyarakat.
“Dari semua poin-poin tuntutan yang kita kaji bersama, sektor Indonesia ini kita kemas dalam satu poin, yaitu Pulihkan Indonesia. Bukan memulihkan dalam faktor kebakaran hutan dan lahan, tapi pulihkan seluruh sektor,” ujar Muamar di sela-sela aksi.
Ia juga mendesak pemerintah mengevaluasi kebijakan dan program yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Selain itu, mahasiswa mendorong penguatan supremasi sipil yang disertai penegakan hukum.
Muamar menilai, tuntutan yang disampaikan dalam aksi sebelumnya belum mendapatkan tindak lanjut yang memadai. Kondisi tersebut menjadi alasan mahasiswa kembali turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Soroti Komersialisasi Pendidikan
Selain tuntutan pemulihan berbagai sektor, mahasiswa menyoroti persoalan pendidikan, khususnya komersialisasi pendidikan yang dinilai membebani mahasiswa di perguruan tinggi swasta.
Presiden Mahasiswa Uninus, Muhamad Azmi Labhani, mengatakan persoalan pendidikan perlu mendapat perhatian pemerintah dan para pemangku kebijakan agar akses pendidikan dapat semakin baik.
“Kami juga menggarisbawahi bahwa mahasiswa hari ini begitu sangat resah dengan kondisi pendidikan. Muatan-muatan yang dihadirkan oleh sistem pendidikan di Indonesia justru dijadikan sebuah komersialisasi pendidikan, terkhususnya kampus-kampus swasta,” kata Azmi.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa Unla, Muhammad Azmi Faturrahman, menyoroti tata kelola pemerintahan dan penanganan sejumlah persoalan yang dinilai belum tuntas, termasuk pengungkapan pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan.
Ia juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menurutnya berdampak terhadap masyarakat.
Azmi mengatakan, aksi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa untuk menyuarakan keadilan dan menuntut penyelesaian berbagai persoalan publik.
Ancam Gelar Aksi dengan Eskalasi Lebih Besar
Muamar menegaskan, mahasiswa akan terus mengawal tuntutan yang telah disampaikan. Ia menyebut aksi pada Kamis tersebut tidak membawa tuntutan baru, melainkan kembali mendesak pemerintah merealisasikan aspirasi sebelumnya.
“Poin-poinnya sama. Hari ini kita belum bikin poin-poin baru, tapi poin-poin yang lama kan belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Ia mengatakan, gerakan mahasiswa akan berlanjut hingga tuntutan mereka mendapatkan tindak lanjut dari pemerintah. Menurutnya, keresahan mahasiswa di Bandung memiliki kesamaan dengan gerakan mahasiswa di daerah lain, termasuk Jakarta.
“Target dari kami, kami akan tetap membuat satu gelombang gerakan sampai poin aspirasi kita ini dapat diejawantahkan oleh pemerintah. Karena saya percaya ketika rakyat bersatu, kita tidak akan bisa dipisahkan,” kata Muamar.
Ia mengingatkan pemerintah agar segera merespons tuntutan tersebut. Jika tidak ada perbaikan, mahasiswa mengancam akan kembali menggelar aksi dengan eskalasi yang lebih besar.
“Pemerintah hari ini ketika dia tidak bergegas untuk memperbaiki, kita akan datang dengan eskalasi yang lebih besar lagi,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






