KORAN MANDALA – Kemarau panjang mulai memukul kehidupan warga Desa Kubang, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.
Minimnya ketersediaan air tidak hanya menyulitkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menghentikan aktivitas pertanian hingga menyebabkan sejumlah tanaman gagal panen.
Kondisi tersebut dirasakan langsung para petani. Salah satunya Didi Iskandar (55), yang mengaku tidak dapat mengelola lahan pertaniannya secara maksimal karena kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah dan kebun.
GIIAS Bandung 2026, BYD Bawa Pilihan Kendaraan Produksi Lokal
“Bapak kemarin nanam padi enggak berhasil, nanam timun enggak berhasil. Modal sudah habis sekitar Rp5 jutaan. Karena enggak ada air,” ujar Didi.
Menurut Didi, kondisi tersebut berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Saat itu, saluran air masih dapat mengalir hingga wilayah Desa Kubang dan menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian warga.
Kini, saluran tersebut tidak lagi berfungsi sehingga petani kesulitan mendapatkan air. Sejumlah tanaman seperti padi, tomat, timun, dan kacang panjang pun terdampak.
“Sekarang mah enggak bisa nyiram perkebunan Bapak. Di sawah juga kering. Tanam padi, tomat, timun, kacang panjang, enggak ada hasilnya,” katanya.
Didi mengatakan perbedaan hasil pertanian antara musim hujan dan kemarau cukup drastis. Ketika curah hujan mencukupi, ia pernah memperoleh hasil kacang panjang hingga sekitar tujuh ton.
Sementara itu, tanaman padi dengan penggunaan bibit sekitar 50 kilogram disebutnya dapat menghasilkan hingga delapan ton.
Namun, kondisi tersebut tidak terjadi pada musim kemarau panjang kali ini. Minimnya air membuat Didi memilih menghentikan sementara aktivitas di sawah dan kebun karena tidak mampu merawat tanaman.
“Jauh berbeda. Bapak sekarang musim kemarau enggak ada penghasilan. Kalau musim hujan ada penghasilan dari kebun, dari sawah,” ujarnya.
Pasokan Sayuran Menurun, Harga Ikut Naik
Dampak kemarau tidak berhenti di tingkat petani. Pedagang sayuran di Desa Kubang juga mulai merasakan berkurangnya pasokan hasil pertanian yang berimbas pada kenaikan harga sejumlah komoditas.
Cia (48), salah seorang pedagang sayur, mengatakan harga timun dan kacang panjang mengalami kenaikan selama musim kemarau.
Harga timun yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp5.000 kini dapat mencapai Rp16.000 hingga Rp20.000.
“Selama musim kemarau sayuran pada naik, pada mahal. Timun juga sampai Rp16.000, Rp20.000. Biasanya Rp5.000, kadang-kadang Rp2.000,” kata Cia.
Menurut Cia, pasokan dari petani mengalami penurunan, terutama untuk sejumlah jenis sayuran. Meski stok masih tersedia di pasaran, harga menjadi lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Kenaikan harga tersebut turut memengaruhi daya beli masyarakat. Cia mengatakan konsumen mulai mengurangi pembelian, terutama terhadap sayuran yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi.
“Berkurang, karena pada naik, pada mahal, jadi belinya kurang. Yang mahal enggak sering dibeli,” ujarnya.
Warga Desak Solusi Persoalan Air
Kesulitan air juga dirasakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketua RT 03 Kampung Cihonje, Desa Kubang, Sahih Sulaiman, mengatakan sebagian masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air untuk mandi, memasak, hingga kebutuhan minum.
Menurut Sahih, persoalan tersebut telah disampaikan melalui sejumlah usulan, di antaranya pembangunan sumur bor dan penyediaan sumber air dari kawasan pegunungan. Namun, hingga kini upaya tersebut belum terealisasi.
“Musim kemarau kepanjangan, kebanyakan di Kampung Cihonje khususnya, umumnya Desa Kubang, petani juga sudah mengeluh karena enggak ada air. Panen juga enggak bakalan panen,” kata Sahih.
Selain pertanian, Sahih menilai kemarau turut menekan kondisi ekonomi warga. Berkurangnya hasil pertanian membuat pasokan sayuran menurun dan harga sejumlah kebutuhan pangan meningkat.
“Kalau kemarau begini karena harga-harganya melambung tinggi. Orang-orang kecil enggak bakalan makan sayuran untuk sementara,” ujarnya.
Sahih berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan atau perbaikan saluran air agar distribusi air ke permukiman dan lahan pertanian lebih merata.
Bagi warga Desa Kubang, kemarau panjang kini bukan sekadar persoalan sawah yang mengering. Krisis air telah merembet ke pendapatan petani, pasokan sayuran, harga pangan, hingga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga berharap ketersediaan air segera kembali normal sehingga aktivitas pertanian dapat berjalan dan roda ekonomi masyarakat kembali bergerak.
