ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Di tengah derasnya arus modernisasi, sebuah kampung di Kabupaten Tasikmalaya tetap teguh mempertahankan cara hidup warisan leluhur.
Kampung Naga, kampung adat yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Sunda menjaga tradisi sekaligus hidup selaras dengan alam.
Kampung Naga bukan sekadar destinasi wisata. Di tempat ini, kehidupan masyarakat masih lekat dengan adat istiadat dan aturan leluhur. Berbagai pengaruh modernisasi dibatasi demi mempertahankan keaslian budaya dan ketenangan lingkungan.
ADVERTISEMENT
220 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia di Tasikmalaya, Kerja Lebih Ringan Ekonomi Tetap Jalan
Secara geografis, Kampung Naga berada di lokasi yang cukup mudah dijangkau. Letaknya tidak jauh dari jalan raya sehingga wisatawan dapat mengaksesnya menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Dari Kabupaten Garut, jaraknya sekitar 24 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 45 hingga 60 menit. Wisatawan dari Garut juga dapat menggunakan angkutan umum seperti elf atau bus antarkota dan antarkabupaten. Tarif bus dari Terminal Guntur Ciawitali Garut disebut sekitar Rp15.000.
Menariknya, untuk memasuki kawasan wisata Kampung Naga, wisatawan tidak dikenakan retribusi.
Begitu memasuki kawasan kampung adat, suasana berbeda langsung terasa. Hampir seluruh bangunan mempertahankan bentuk dan material tradisional. Fasilitas umum, termasuk toilet, dibangun menggunakan bahan alami seperti bambu dan kayu.
Rumah-rumah warga pun memiliki karakteristik yang khas. Bangunannya menggunakan kayu, sementara dindingnya terbuat dari anyaman bambu atau bilik dalam bahasa Sunda. Atap rumah menggunakan bahan alami berupa ijuk atau aren.
Arsitektur rumah adat Kampung Naga juga memiliki keunikan tersendiri. Dalam pembangunannya, rumah tidak menggunakan paku maupun material modern seperti semen. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat mempertahankan bentuk dan nilai tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Kehidupan masyarakat Kampung Naga juga tidak bisa dipisahkan dari alam. Meski berada di kawasan lembah, lingkungan sekitar justru memberikan sumber kehidupan bagi warga. Hamparan sawah membentang di sekitar permukiman dan kawasan tersebut diapit aliran Sungai Ciwulan.
Secara keseluruhan, kawasan Kampung Naga memiliki luas sekitar 10 hektare. Sementara kawasan kampung adat atau kampung inti memiliki luas sekitar 1,5 hektare yang mencakup rumah adat, musala, halaman, tempat penyimpanan padi, serta sejumlah bangunan lainnya.
Kampung Naga kini menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan alam yang menarik perhatian wisatawan. Banyak pengunjung datang untuk melihat langsung kehidupan masyarakat adat yang masih mempertahankan tradisi di tengah perkembangan teknologi dan era digital.
Kehidupan tanpa listrik dan minim sentuhan teknologi modern kerap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kesederhanaan yang terlihat di Kampung Naga bukan semata-mata karena ketidakmampuan mengikuti perkembangan zaman, melainkan bagian dari pilihan masyarakat untuk menjaga adat, keaslian budaya, serta ketenangan kehidupan mereka.
Di tengah dunia yang terus bergerak menuju modernitas, Kampung Naga seolah menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak selalu harus menghapus jejak masa lalu.
Kampung Naga tetap berdiri dengan adat, tradisi, dan arsitektur rumah yang diwariskan leluhur—menjadi salah satu jejak budaya Sunda yang masih bertahan hingga kini.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






