ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Ahmad Faisal membuktikan keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Mantan satpam berusia 29 tahun itu menghafal Al-Qur’an di sela-sela tugas di pos penjagaan demi mendapatkan beasiswa.
Sebelum akhirnya lulus dari Universitas Islam Bandung (Unisba) dengan predikat cumlaude, IPK 3,59, dalam waktu 3 tahun 10 bulan.
Perjalanan Faisal bukan perkara mudah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya harus mencari jalan agar bisa mengenyam pendidikan tinggi tanpa membebani kedua orang tuanya.
ADVERTISEMENT
Ia pun mengandalkan usaha, doa, dan kesempatan beasiswa untuk mewujudkan keinginannya melanjutkan pendidikan.
Faisal merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Unisba, angkatan 2018. Ia menyelesaikan studinya pada 2022 dengan predikat cumlaude. Kini, setelah melewati berbagai keterbatasan selama kuliah, ia bekerja sebagai tenaga kependidikan di kampus yang sama.
Keinginannya melanjutkan pendidikan tumbuh dari harapan sederhana mengangkat derajat keluarga dan menjadi contoh bagi adik-adiknya.
“Latar belakang saya untuk memutuskan kuliah tentunya, ingin mengangkat derajat keluarga saya, orang tua saya, dan menjadi contoh bagi adik-adik saya. Meskipun kita dari keluarga yang tidak mampu, selama ikhtiar dan doa kita lakukan maka insya Allah, Allah akan bukakan jalan,” ujar Faisal saat diwawancarai Koran Mandala, Selasa (13/10/2026).
Enam Bulan Menghafal Al-Qur’an di Pos Satpam
Sebelum menjadi mahasiswa, Faisal bekerja sebagai satpam pada 2017. Di tengah pekerjaannya, ia tidak berhenti mencari informasi beasiswa yang bisa membantunya melanjutkan pendidikan.
Kesempatan itu datang ketika ia mengetahui adanya beasiswa mahasiswa baru melalui jalur tahfiz Al-Qur’an. Meski saat itu belum memiliki hafalan, Faisal memilih mencoba daripada mengurungkan niatnya.

Ia mulai menghafal sejumlah surat Al-Qur’an di sela-sela waktu senggang saat bertugas. Pos satpam yang menjadi tempatnya bekerja sekaligus menjadi ruang untuk mengawali perjuangan menuju perguruan tinggi.
“Setelah mendapatkan informasi beasiswa tahfiz itu, saya langsung memulai hafalan selama menjadi satpam. Selama saya bertugas, saya mencoba memanfaatkan di sela-sela waktu senggang untuk menghafal beberapa surat di pos satpam. Itu berlangsung selama kurang lebih enam bulan,” tuturnya.
Selama sekitar enam bulan, Faisal berusaha memanfaatkan waktu yang tersedia di antara tugas penjagaan untuk mengejar hafalan.
Baginya, kesempatan kuliah tidak datang begitu saja. Ia harus mempersiapkan diri dan berusaha memenuhi persyaratan beasiswa yang menjadi pintu masuk menuju pendidikan tinggi.
Tidur di Masjid demi Bertahan Kuliah
Setelah diterima kuliah, Faisal memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai satpam. Keputusan itu berarti ia harus menghadapi persoalan lain yaitu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus menyelesaikan pendidikan.
Sejak awal, orang tuanya telah menyampaikan bahwa mereka tidak mampu membiayai tempat tinggal maupun kebutuhan kuliah. Faisal memahami keadaan tersebut dan berusaha meyakinkan keluarganya bahwa keterbatasan materi tidak harus membuatnya berhenti mengejar cita-cita.
“Setelah masuk kuliah, saya memutuskan untuk resign dari satpam. Selama kuliah tentunya saya harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena sebelum kuliah pun orang tua sudah berbicara bahwa tidak bisa membantu, baik untuk tempat tinggal ataupun untuk sehari-hari,” kenangnya.
Pada awal masa kuliah, Faisal sempat tidur di Masjid Kampus Unisba selama beberapa tahun. Ia juga mencari pekerjaan tambahan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat akhir pekan, ia bekerja di salah satu toko di dekat Masjid Salman. Penghasilan dari pekerjaan itu membantunya bertahan di tengah keterbatasan biaya.
Memasuki tahun ketiga kuliah, Faisal pindah ke Masjid Jabal Rahmah untuk menjadi marbot. Ia menjalani pekerjaan tersebut hingga menyelesaikan pendidikan sarjananya.
“Awal kuliah saya sempat tidur di Masjid Kampus Unisba selama beberapa tahun dan bekerja mencari tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, di waktu weekend saya bekerja di salah satu toko dekat Masjid Salman. Dan di tahun ke-3 kuliah, saya pindah dari masjid kampus ke Masjid Jabal Rahmah untuk menjadi marbot di masjid tersebut sampai lulus kuliah,” ucapnya.
Tak Menargetkan Cumlaude
Di balik perjuangan tersebut, Faisal justru mengaku tidak pernah secara khusus menargetkan predikat cumlaude. Ia memilih berfokus pada hal-hal yang bisa dikerjakannya setiap hari, yakni mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, dan menjaga agar pekerjaan akademik tidak menumpuk.
“Sebetulnya tidak ada strategi khusus untuk bisa menyelesaikan kuliah dengan predikat cumlaude. Saya pun tidak merencanakan sama sekali untuk lulus cumlaude, karena saya hanya fokus kuliah, menyelesaikan semua tugas, tidak menunda-nunda setiap tugas yang diberikan,” katanya.
Usaha itu mengantarkannya menyelesaikan studi pada 2022 dengan predikat cumlaude. Capaian tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga yang sebelumnya mengetahui betapa terbatasnya kemampuan mereka untuk membiayai pendidikan tinggi.
Faisal juga menyebut dirinya sebagai satu-satunya anggota keluarga yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu, kelulusannya bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi harapan bagi keluarga.
Dalam perjalanan kuliahnya, Faisal tidak berjalan sendirian. Ia mendapat dukungan dari Baitul Maal Unisba, teman-teman di Masjid Al-Asy’ari, serta sejumlah orang yang membantunya ketika menghadapi kesulitan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan makan.
Ia menyebut beberapa orang yang turut memberikan dukungan, di antaranya Kang Ramdan, Kang Roni, Kang Ridfi, Kang Teo, Ghozali, Rijal Robbani, dan Iko, serta orang-orang yang dikenalnya di Kompleks Bojong Koneng.
Bagi Faisal, bantuan dan kepedulian mereka menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya hingga berhasil menyandang gelar sarjana.
Ingin Melanjutkan Pendidikan dan Berdakwah
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Unisba, Faisal masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ia juga ingin memberikan kontribusi nyata dalam bidang dakwah.
“Harapan yang pertama tentunya, ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, memberikan kontribusi yang nyata dalam dakwah,” ungkapnya.
Kepada mereka yang ingin kuliah tetapi terkendala pekerjaan, biaya, ataupun usia, Faisal berpesan agar tidak buru-buru menyerah. Ia meyakini bahwa usaha harus disertai doa dan tujuan yang jelas.
“Pertama tanamkan dalam diri kita bahwa yang memberikan kita rezeki itu adalah Allah. Sebesar apa pun biayanya, jika Sang Pemberi Rezeki sudah ridha maka insya Allah sesuatu yang mustahil bagi kita akan tidak mustahil jika Allah sudah berkehendak. Kedua, tentukan tujuan melanjutkan studi, untuk apa dan untuk siapa, karena tujuan ini akan menjadi motivasi bagi kita,” tuturnya.
Ia juga memiliki pesan yang menggambarkan keyakinannya selama menjalani perjuangan tersebut.
“Kejar, buktikan kepada orang yang ragu kepada saya, Allah bersama saya. Bismillah,” ujar Faisal.
Dari pos satpam tempatnya menghafal Al-Qur’an hingga masjid yang menjadi tempatnya bertahan selama kuliah, perjalanan Ahmad Faisal menunjukkan bahwa keterbatasan bukan selalu akhir dari sebuah cita-cita.
Dengan ikhtiar, dukungan orang-orang di sekitarnya, dan ketekunan menyelesaikan pendidikan, ia berhasil meraih gelar sarjana yang dahulu hanya bisa ia perjuangkan sedikit demi sedikit.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






