KORAN MANDALA –Tak ada yang istimewa dari koin uang Rp500. Nilainya kecil, bahkan mungkin kerap luput dari perhatian. Namun, ketika ratusan siswa menyisihkan nya dengan ikhlas dan dilakukan terus-menerus, kepingan kecil itu perlahan berubah menjadi sebuah harapan besar.
Bagi As Syakira Pratama, siswi SMAN 1 Padalarang, harapan itu akhirnya menjadi kenyataan.
Impian terbesarnya untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci Makkah yang selama ini hanya ada dalam doa, kini semakin dekat untuk diwujudkan.
Syakira terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa umrah setelah mengikuti ujian munaqosah hafalan Al-Qur’an yang digelar melalui program pendidikan karakter berbasis Pancawaluya di sekolahnya.
BRT Bandung Tetap Jalan Meski Dipersoalkan, Wali Kota Akui Banyak Tantangan
Kabar itu datang seperti sesuatu yang nyaris tak dipercayainya.
Saat namanya disebut di atas panggung, Syakira tak mampu menyembunyikan rasa haru. Matanya berkaca-kaca, wajahnya sembab, sementara teriakan bahagia pecah ketika ia menyadari bahwa salah satu impian terbesarnya akhirnya menemukan jalan untuk menjadi kenyataan.
“Alhamdulillah, rezeki saya tahun ini dan takdir dari Allah. Saya bisa berangkat umrah tahun 2026,” ujar Syakira dengan suara penuh haru.
Bukan tanpa perjuangan Syakira sampai pada titik tersebut. Ia mengaku sempat merasa minder ketika melihat kemampuan hafalan peserta lain yang menurutnya lebih baik.
Rasa tidak percaya diri itu sempat membuatnya bertanya-tanya apakah dirinya mampu bersaing. Namun, ia memilih tetap menjalani proses dan memperkuat hafalannya.
Hasilnya, ketekunan itu berbuah manis.
“Kalau ditanyakan perasaan tentu senang. Salah satu impian terbesar saya bisa pergi ke Tanah Suci. Terharu juga, sangat tidak menyangka. Sempat insecure juga melihat orang lain bagus-bagus,” kata Syakira.
Di balik terwujudnya impian tersebut, ada kisah gotong royong yang jauh lebih besar daripada nominal uang yang dikumpulkan.
Selama tiga tahun terakhir, SMAN 1 Padalarang menjalankan inovasi pendidikan karakter berbasis Pancawaluya. Salah satu kebiasaan yang ditanamkan kepada para siswa adalah menyisihkan uang saku sebesar Rp500 setiap hari selama empat hari dalam sepekan.
Para guru dan tenaga kependidikan pun ikut mengambil bagian melalui program Sabulan Sarebu, yakni kebiasaan bersedekah Rp1.000 setiap bulan.
Sedikit demi sedikit. Kecil demi kecil.
Koin dan uang yang terkumpul kemudian dihimpun menjadi kekuatan bersama. Tahun ini, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp63 juta.
Dari kebiasaan sederhana tersebut lahirlah program munaqosah beasiswa tahfiz Al-Qur’an dan infak umrah. Program yang dibangun dari kebiasaan berbagi itu kemudian membuka kesempatan bagi perwakilan siswa, guru, dan tenaga kependidikan untuk menunaikan ibadah umrah pada 2026.
Bagi Syakira, keberangkatannya bukan semata-mata tentang dirinya. Ada banyak tangan yang ikut mengantarkannya menuju Tanah Suci.
Ia menyadari, uang Rp500 yang disisihkan oleh teman-temannya mungkin terlihat kecil. Namun, ketika dilakukan bersama-sama dan dengan konsistensi, nilainya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: kesempatan untuk mewujudkan impian seseorang.
Karena itu, Syakira menyampaikan terima kasih kepada teman-temannya yang telah ikut berpartisipasi dalam program tersebut.
“Untuk teman-teman saya yang ikut berpartisipasi, saya ucapkan terima kasih atas dedikasinya. Doa untuk SMA 1 Padalarang, mudah-mudahan belajarnya lancar, studinya juga lancar, garapan dan cita-citanya semoga terkabul,” tuturnya.
Kisah Syakira menjadi gambaran bahwa sebuah mimpi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, ia berawal dari kebiasaan sederhana. Dari uang saku yang disisihkan. Dari Rp500 yang mungkin dianggap terlalu kecil untuk berarti.
Namun, ketika ratusan orang melakukan hal yang sama, dengan ketulusan dan semangat gotong royong, kepingan-kepingan kecil itu dapat berubah menjadi jalan menuju sebuah impian besar.
SMAN 1 Padalarang menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya tentang apa yang diajarkan di ruang kelas. Ia juga tumbuh dari kebiasaan berbagi, kepedulian terhadap sesama, dan keyakinan bahwa kebaikan sekecil apa pun akan memiliki arti ketika dilakukan bersama.
Dari koin-koin Rp500 itu, sebuah mimpi akhirnya mendapat tiket menuju Tanah Suci.
Dan bagi Syakira, Makkah bukan lagi sekadar nama yang ia dengar dalam doa. Tahun ini, ia bersiap menyaksikannya dengan mata sendiri.
