ADVERTISEMENT
Entah apa dosa bangsa ini. Malapetaka yang menimpa, datang beruntun. Ketika anak Krakatau belum usai memuntahkan riaknya, si Jago Merah sudah beraksi di mana-mana. Belum lagi si Jago Merah berhasil dijinakkan, laut Jawa menelan kapal motor Virgo Transport 8.
Dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, kapal pecah ditelan laut. Maklum kapal tua. Kabarnya, kapal itu dibangun di Jepang pada tahun 1987. Jadi sudah 39 tahun usianya.
Kapal tua itu sarat dengan penumpang. Tak kurang dari 243 orang.Badan kapal tak kuat menahan hantaman gelombang Laut Jawa. Kapal pecah dan kemudian tenggelam.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, 6 orang ditemukan meninggal. Yang lebih menyedihkan, 129 orang dinyatakan hilang karena hanya 108 orang yang dapat diselamatkan.
Pihak Basarnas,yang melaporkan bahwa kecelakaan disebabkan cuaca buruk, tidak menyinggung kesiapan kapal ketika akan berangkat. Apakah tidak overload ?. Apakah kapal itu dilengkapi dengan sekoci pengaman penumpang yang cukup ?
Taat hukum
Kebakaran hutan (Karhutla) yang terjadi terutama di lahan gambut Kalimantan, setiap tahun terjadi. Si Jago Merah semakin merajalela manakala angin bertiup kencang.
Sulit ditaklukkan karena air yang minim. Selain jauh, area kebakaran memang sulit dijangkau.Karena itu, pemadaman liwat udara dianggap sangat membantu. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun itu, mengakibatkan penduduk sengsara. Bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di negeri jiran. Malaysia, Brunai Darussalam bahkan Pilipina. Asap menutup pemandangan. Napas menjadi sesak.
Diiringi sumpah serapah, penduduk terpaksa menggunakan masker kalau keluar rumah. Itu semua, akibat ulah kita.Kita, membiarkan saja setiap tahun si Jago Merah beraksi.Keluh kesah tetangga tak kita hiraukan. Padahal kita mengetahui betul penyebab kebakaran itu terjadi.
Hutan tak dibabat tetapi sengaja dibakar, karena lebih murah lagi praktis.Pembakaran banyak dilakukan oleh Pengusaha kelapa sawit yang akan memperluas perkebunannya. Juga oleh para Petani yang hendak memperluas ladangnya. Siapa pelakunya sudah diketahui oleh pihak berwajib. Tetapi entah mengapa, siklus kebakaran terus terjadi setiap tahun di musim kemarau.
Di antara malapetaka yang terjadi, sebenarnya ada yang dapat kita cegah, paling tidak kita minimalisir. Ketaatan akan hukum dan peraturan menjadi kuncinya. Penggunaan kapal-kapal tua harus dihindari. Syahbandar harus mencegah kapal-kapal yang akan berlayar tanpa memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku. Untuk menghindari Karhutla, perluasan Perkebunan dan pertanian harus dilakukan berencana dan cermat.
Apa yang kita saksikan selama ini merupakan malapetaka berulang yang terjadi karena kekuasaan yang dilaksanakan tanpa mengindahkan peraturan yang seharusnya mengiringi.
Memang,kekuasaan di tangan Pejabat seharusnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Saling membutuhkan.***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






