ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di tengah kawasan Jalan Braga yang tak pernah sepi wisatawan, ada cerita sederhana yang kerap luput dari perhatian. Di sela trotoar yang ramai, seorang perantau asal Cilacap menggantungkan harapan pada lembaran plastik tipis bernama jas hujan.
Sudah dua tahun terakhir, Sukarjo pria berusia (45) tahun itu mencoba peruntungan sebagai penjual jas hujan musiman. Bukan pekerjaan utama, melainkan jalan alternatif setelah sebelumnya ia hidup dari mulung. Dengan modal kecil, ia membeli jas hujan dari pemasok keliling, lalu menjualnya kembali kepada para pejalan kaki yang terjebak hujan Bandung.
“Awalnya mah coba-coba saja, siapa tahu ada rezeki. ternyata walaupun musiman, alhamdulillah ada saja yang beli,” tuturnya Saat diwawancarai Jumat 3/4/2026
ADVERTISEMENT
Musim hujan menjadi berkah sekaligus harapan. Di hari-hari biasa, ia mengaku bisa saja pulang tanpa membawa uang. Namun saat hujan turun, rezeki perlahan datang, meski tak pernah pasti.
“Kalau sekarang mah lumayan, ada saja. Paling kecil Rp50.00 ribu sehari,” katanya.

Jas hujan yang ia jual dibanderol, mulai dari Rp10.000 hingga Rp15.000. Keuntungan tipis tak menjadi soal, selama dapur tetap mengepul.
“Alhamdulillah disyukuri, dicukup-cukup saja,” ucapnya, tersenyum tipis.
Namun di balik itu, ada tantangan yang tak kalah deras dari hujan itu sendiri. Persaingan sesama pedagang membuat harga kerap ditekan. Belum lagi kehadiran petugas yang membuatnya harus terus waspada.
“Kalau kendala mah banyak saingan. Sama kadang ada yang ngusir oleh Satpol PP,” ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap bertahan di kawasan Braga, mengandalkan ramainya wisatawan yang berlalu-lalang. Baginya, tempat itu adalah peluang, sekaligus ruang bertahan hidup.
Di bawah langit Bandung yang kerap mendung, kisahnya mengalir pelan seperti hujan yang jatuh tanpa suara, namun penuh makna.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






