KORANMANDALA.COM –Langit masih gelap ketika Dewi melangkah keluar dari rumahnya di Limbangan, Kabupaten Garut. Jam baru menunjukkan pukul empat pagi. Udara dingin menusuk, jalanan masih lengang, namun langkahnya sudah pasti.
Di pundaknya, bukan sekadar barang dagangan yang ia bawa. Ada harapan sederhana yang ikut dipikul: dagangannya laku, dan ia bisa pulang membawa rezeki untuk keluarganya.
Bersama dua anaknya, Dewi memulai perjalanan panjang menuju Bandung. Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam. Saat tiba sekitar pukul 10.00 WIB, tak ada waktu untuk beristirahat. Ia langsung menata barang-barangnya—boboko, nyiru, ayakan, hingga hihid—peralatan dapur khas Sunda yang kini kian tersisih oleh zaman.
Sembilan Laga Penentu! Ini Jadwal Lengkap Persib Bandung di Penghujung Musim
Di tengah hiruk pikuk kota, Dewi berjalan perlahan. Menyusuri trotoar, menghampiri orang-orang yang berlalu lalang, menawarkan satu per satu anyaman bambu yang ia bawa.
Bagi sebagian orang, itu hanya barang sederhana. Namun bagi Dewi, itulah napas kehidupan.
“Saya ke Bandung untuk berdagang, membawa boboko, nyiru, ayakan, dan hihid. Ini dari kampung, peninggalan orang tua. Saya ingin barang-barang ini tetap ada, tidak hilang oleh zaman,” tuturnya pelan.
Ia sadar, zaman telah berubah. Banyak orang kini beralih ke peralatan modern. Namun Dewi tetap percaya, anyaman bambu punya nilai yang tak tergantikan.
“Ini lebih alami, lebih sehat,” katanya.
Barang-barang itu bukan hasil produksinya sendiri. Ia mengambil dari kampung, lalu menjualnya kembali di kota. Harganya pun tak mahal—mulai dari Rp25 ribu hingga Rp75 ribu. Namun di balik harga itu, ada perjalanan panjang dan tenaga yang tak sedikit.
Perjalanan Dewi ke Bandung bukan tanpa pengorbanan.
Ia harus bangun sebelum subuh, menempuh perjalanan berjam-jam, lalu berjalan seharian menjajakan dagangan. Saat malam tiba, ia tak selalu punya tempat untuk pulang.
Masjid menjadi tempatnya beristirahat.
“Biasanya menginap di masjid. Kadang satu malam, kadang dua. Yang penting bisa jualan dan ada hasil untuk dibawa pulang,” ujarnya.
Di balik keteguhannya, tubuh Dewi tak selalu kuat. Ia mengaku sering kelelahan, bahkan pernah pingsan saat berjualan.
Namun hidup tak memberinya banyak pilihan.
“Kalau pulang pergi Garut-Bandung, fisik sudah tidak kuat. Pernah pingsan di jalan. Tapi mau bagaimana lagi, harus tetap usaha untuk keluarga,” katanya lirih.
Ia memiliki lima anak yang harus dipikirkan masa depannya—sekolah, makan, dan kehidupan sehari-hari.
“Yang penting bisa membahagiakan keluarga, walaupun sedikit-sedikit,” tambahnya.
Di antara lima anaknya, ada satu yang setia menemani: Reihan (14).
Di usia remaja, Reihan tak menghabiskan waktu dengan bermain atau bersantai. Ia justru berjalan menyusuri kota, menawarkan dagangan bersama ibunya.
“Saya senang bisa membantu Ibu. Tidak malu, karena ini untuk Ibu juga untuk saya,” ujarnya.
Dari pagi hingga sore, ia mendampingi Dewi tanpa keluhan. Di balik senyumnya, tersimpan pemahaman yang jauh lebih dewasa dari usianya.
“Mudah-mudahan Ibu selalu sehat. Saya ingin dagangan Mama cepat laku supaya bisa cepat pulang,” katanya.
Reihan juga punya mimpi. Ia ingin menjadi konten kreator suatu hari nanti. Namun untuk saat ini, ia memilih satu hal: membantu ibunya.
“Sekarang saya ingin bantu orang tua dulu,” ucapnya mantap.
Bagi Dewi, Bandung bukan sekadar tempat mencari nafkah. Kota ini adalah ruang untuk mempertahankan sesuatu yang lebih besar—warisan tradisi.
Di tengah arus modernisasi, ia percaya bahwa anyaman bambu bukan hanya soal fungsi, tetapi juga identitas.
“Ini tradisi dari orang dulu, jangan sampai hilang,” tuturnya.
Di sudut-sudut kota yang sibuk, langkah Dewi mungkin tak banyak diperhatikan. Ia hanya satu dari sekian banyak pedagang kecil yang berjuang di antara riuhnya urbanisasi.
Namun di balik langkah itu, ada cerita tentang keteguhan. Tentang seorang ibu yang tak kenal lelah menjaga tradisi, sambil menenun harapan untuk masa depan anak-anaknya—helai demi helai, seperti anyaman bambu yang ia jual setiap hari.
