KORANMANDALA.COM – Sabtu, 28 Februari 2026. Bandung jika sudah memasuki malam Minggu memiliki aura yang berbeda. Dari kawasan Braga yang estetik hingga keriuhan di Gasibu, semuanya terasa bergerak cepat. Namun, di tengah klakson dan antrean kendaraan yang mengular di Kopo atau Dago, kita—yang sedang menjalani hari kesepuluh puasa—sebenarnya sedang berada di sebuah titik peristirahatan (checkpoint).
Sepuluh hari pertama telah terlewati. Euforia “semangat baru” di awal Ramadhan mungkin mulai menguap, berganti rasa lelah yang mulai terasa di pundak. Namun, justru di titik lelah inilah, kejujuran batin kita sedang diuji. Apakah kita akan terus mendaki, atau justru kehilangan arah?
Jadwal Imsakiyah 10 Ramadhan 1447 H (Bandung & Sekitarnya)
Penanda waktu bagi Anda yang sedang menata ulang langkah di titik kesepuluh ini:
| Ibadah | Waktu (WIB) |
| Magrib (Buka Puasa) | 18.15 |
| Isya | 19.21 |
| Imsak (Minggu, 1 Mar) | 04.29 |
| Subuh (Minggu, 1 Mar) | 04.39 |
Pukul 18.15 WIB nanti, saat langit Bandung mulai meredup dan lampu jalanan menyala, biarkan air yang membasuh tenggorokanmu juga menyirami kekeringan di dalam batin.
Tasawuf Ringan: Checkpoint untuk Menilik Diri
Dalam tradisi suluk (perjalanan batin), ada momen di mana kita harus berani berhenti sejenak. Bukan karena menyerah, tapi untuk melihat ke dalam. Jangan-jangan, selama sepuluh hari ini, fisik kita berpuasa namun “ego” kita justru sedang berpesta di balik layar ponsel.
Tuhan memberikan pengingat yang sangat halus:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini bukan menyuruh kita menjadi penyelia batin yang kaku, melainkan menjadi pengamat yang jujur. Seperti melihat pantulan diri di genangan air setelah hujan di trotoar Dago; terkadang yang terlihat bukan wajah asli kita, melainkan bayangan yang buyar terkena riak.
Perjalanan ke Dalam Diri: Menata Kembali “Isi Ransel”
Malam Minggu ini, mumpung hari libur segera tiba, luangkan waktu 15 menit saja setelah tarawih untuk benar-benar sendirian. Bukan untuk scrolling TikTok, tapi untuk berbincang dengan diri sendiri:
-
Mana yang Berat? Rasakan apa yang membuat hatimu terasa “sumpek” akhir-akhir ini? Apakah tuntutan pekerjaan, rasa tidak enak pada orang lain, atau ambisi yang terlalu jauh? Di checkpoint ini, beranikan diri untuk berkata: “Saya lepaskan beban ini, saya titipkan pada Allah.”
-
Melihat Kompas: Ibarat pemain Persib yang harus menjaga stamina dan ritme napas agar tidak kehabisan tenaga di babak kedua, puasa kita juga bukan soal sprint. Ingat, Allah “lebih dekat daripada urat leher” (QS. Qaf: 16). Dia tidak menunggu kita di puncak prestasi, tapi di titik paling jujur dari hati kita.
-
Menikmati Langkah Kecil: Jangan terobsesi ingin langsung menjadi “suci” dalam semalam. Syukuri jika hari ini Anda bisa tersenyum tulus pada kurir paket yang datang saat Anda sedang lapar-laparnya. Itu adalah bentuk nyata dari transformasi batin Anda.
Sepuluh hari pertama ini barulah pemanasan. Jangan terburu-buru ingin sampai ke garis akhir. Nikmati macetnya, nikmati laparnya, dan nikmati heningnya. Di checkpoint pertama ini, tarik napas panjang, hargai diri sendiri yang sudah berjuang, dan bersiaplah untuk pendakian berikutnya dengan hati yang lebih lapang.
Selamat berbuka puasa, warga Bandung. Teruslah berjalan ke dalam, karena sejauh-jauhnya Anda pergi, rumah paling indah adalah hati yang tenang. (FMA)
