ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di tengah padatnya kawasan Sekeloa, Kota Bandung, berdiri sebuah kantin sederhana yang menyimpan kisah kemanusiaan lintas generasi. Kantin Ibu Tatang (80) bukan sekadar tempat makan murah bagi mahasiswa, tetapi juga ruang kepercayaan, empati, dan kebersamaan yang kian langka di tengah kehidupan kota yang serba cepat.
Kantin ini telah berdiri sejak 1990 dan menjadi sandaran mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari mahasiswa sarjana hingga pascasarjana pernah mengisi bangku-bangku sederhana di sana.
Anak Ibu Tatang, Dede (54), menuturkan kantin tersebut bermula dari usaha kecil yang menyasar mahasiswa di kawasan Sekeloa, yang saat itu masih minim pilihan tempat makan.
ADVERTISEMENT
“Awalnya cuma kantin kecil. Pelanggannya mahasiswa S1 sampai S3. Dulu belum banyak tempat makan di sekitar sini,” ujar Dede saat ditemui di Kantin Ibu Tatang, Rabu (14/1).
Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah. Kantin pun berkembang menjadi dua lantai, namun tetap mempertahankan konsep rumah makan sederhana dengan suasana hangat layaknya makan di rumah sendiri.
“Konsepnya memang rumahan. Ibu enggak mau ribet. Yang penting orang makan senang, seperti keluarga,” kata Dede.
Keistimewaan Kantin Ibu Tatang tak berhenti pada masakan rumahan. Warung ini dikenal luas karena sistem kepercayaan yang dipegang teguh sang pemilik. Mahasiswa diperbolehkan makan meski belum memiliki uang.

“Pesan ibu dari dulu, mahasiswa boleh makan dulu. Kalau belum ada uang, nanti dibayar kalau sudah dikirimi keluarga. Ibu percaya,” tutur Dede.
Tak jarang, kisah kepercayaan itu berbuah haru. Bertahun-tahun kemudian, mantan mahasiswa kembali ke kantin hanya untuk melunasi utang lama yang pernah tertunda.
“Ada yang datang lagi setelah 20 tahun, mau bayar karena dulu belum sempat. Tapi sama ibu sudah dianggap selesai,” ujar Dede menirukan ucapan sang ibu.
Hingga kini, Kantin Ibu Tatang tetap beroperasi dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Meski pembeli kerap membludak, Ibu Tatang memilih tak memperpanjang jam buka.
“Ibu enggak mau terlalu capek. Yang penting sehat. Rezeki itu sudah ada yang ngatur, biar sama-sama kebagian,” kata Dede.
Kini, pelanggan kantin tak hanya mahasiswa aktif. Banyak alumni kembali, bahkan membawa anak mereka yang kini juga berkuliah di Bandung.

“Ada yang dulu kuliah di sini, sekarang anaknya juga kuliah dan makan di sini. Sudah turun-temurun,” ungkap Dede.
Bagi Ibu Tatang, berdagang bukan semata mencari keuntungan. Kantin menjadi cara untuk tetap aktif, sehat, dan bermanfaat bagi orang lain.
“Yang penting ada aktivitas, sehat, dan bisa berguna,” ujarnya singkat.
Kepercayaan dan harga yang terjangkau membuat Kantin Ibu Tatang tetap diminati mahasiswa. M. Hudani (21), mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba), mengaku mengetahui kantin tersebut dari media sosial TikTok.
“Harganya worth it, rasanya enak. Mahasiswa wajib coba ke sini karena benar-benar masuk di kantong,” katanya.
Hal senada disampaikan Aldi Saputra (21), mahasiswa Unisba, yang pertama kali datang atas rekomendasi teman.
“Harganya cocok buat mahasiswa. Pelayanannya juga baik, neneknya ramah. Kita biasa manggilnya Ibu Tatang,” tuturnya.
Di tengah naiknya biaya hidup mahasiswa, Kantin Ibu Tatang berdiri sebagai pengingat sederhana: bahwa kepercayaan dan kepedulian masih hidup, disajikan hangat bersama sepiring nasi dan lauk rumahan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






