KORAN MANDALA – Kepedulian terhadap maraknya perundungan terhadap anak mendorong Kang Hertigol (52) seorang petugas kebersihan di Kota Bandung, melakukan hal sederhana yang jarang terpikirkan banyak orang.
Ia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk mengajak anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya belajar tentang keberanian, persaudaraan, dan pentingnya menghentikan perundungan.
Di tengah kesibukannya bekerja sebagai petugas kebersihan sekaligus marbot masjid, Herti berupaya menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.
ADVERTISEMENT
Ia mengemas pesan antiperundungan melalui drama sederhana, kostum unik, hingga konten edukasi yang dibuat bersama anak-anak di sekitar rumahnya.
Bagi Herti, edukasi tidak harus berlangsung di ruang kelas atau melalui sosialisasi formal. Halaman rumah, persimpangan jalan, hingga bagian kecil di aula kantor RW bisa menjadi tempat untuk menanamkan nilai saling menghargai sejak dini.
Pria yang tinggal di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), itu mengaku tergerak setelah melihat berbagai kasus perundungan terhadap anak yang berulang kali muncul di media sosial dan televisi.
“Saya Merasa miris, sedih, dan prihatin melihat di media sosial atau televisi selalu terjadi perundungan terhadap anak-anak generasi emas Indonesia. Maka, saya tergerak dengan hati yang ikhlas dan tulus ingin mengedukasi anak-anak Indonesia,” ujar kang Hertigol saat dihubungi Koran mandala Selasa (20/10/2026)
Ia memulai gerakannya dari lingkungan terdekat. Anak-anak tetangga diajak terlibat dalam kegiatan edukasi, termasuk anak yatim, anak difabel, anak berkebutuhan khusus, serta anak-anak yang mengikuti pengajian dan bersekolah di sekitar tempat tinggalnya.
“Saya melakukan edukasi mulai dari lingkungan saya karna didaerah saya juga banyak anak anak kecil, anak yatim, anak anak berkebutuhan khusus, difabel.” katanya
Melalui drama,Herti mendorong mereka untuk berani mengekspresikan diri dan tampil di depan orang lain. Ia ingin anak-anak memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan, terlepas dari keterbatasan yang dimiliki.
“Biasanya saya tampil dengan kostum yang unik untuk menarik perhatian anak- anak dan mendorong mereka untuk berani mengekspresikan diri mereka di depan banyak orang dan memberikan semangat karna setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya” ungkapnya
Modal dari Gaji Sendiri
Di balik kegiatan yang mulai menarik perhatian anak anak, ada pengorbanan yang harus dilakukan Herti. Seluruh kebutuhan kegiatan selama ini diupayakan dari penghasilannya sendiri sebagai petugas kebersihaan.

Ia mengatakan, setidaknya membutuhkan Rp100.000 untuk menggelar satu kegiatan pembuatan konten edukasi bersama anak-anak. Uang tersebut digunakan untuk membeli jajanan, camilan, alat tulis, serta kebutuhan pendukung lainnya.
“Kalau ada ide, saya tinggal mengumpulkan anak-anak sepulang kerja atau pada akhir pekan ketika tidak ada jadwal kegiatan. Kendala utamanya biaya, karena semuanya dari uang sendiri, setiap minggu saya menyisihkan uang untuk membelikan barang atau berupa uang untuk anak anak” tuturnya.
Bagi Herti, cara tersebut bukan sekadar memberikan hadiah. Ia ingin membuat kegiatan belajar terasa menyenangkan sehingga anak-anak tertarik untuk terlibat tanpa merasa sedang mengikuti ceramah.
Ia pun berusaha memanfaatkan barang-barang yang masih layak digunakan untuk membuat perlengkapan konten. Sebagai petugas kebersihan, Herti mengumpulkan bahan yang bisa didaur ulang atau digunakan kembali, kemudian mengolahnya menjadi properti sederhana. Ia tinggal membeli kertas berwarna atau mencetak gambar sesuai kebutuhan.
“Setiap edukasi, saya cosplay misalnya jadi pahlawan indonesia dengan alat media atau tulisan – tulisan anti perundungan (Stop Bulying) supaya menarik dan anak-anak ingin melihat dengan baik, Saya ingin mereka gembira,” katanya.
Herti berharap kegiatan yang dirintisnya tidak berhenti hanya karena keterbatasan biaya. Ia ingin tetap bisa mengajak anak-anak belajar dan berkegiatan selama masih memiliki waktu serta kemampuan untuk melakukannya.
Menjangkau Anak-anak Lewat Sepak Bola
Selain di lingkungan tempat tinggalnya, Herti menyisipkan pesan antiperundungan ketika mendapat pekerjaan sebagai penyiar atau komentator festival sepak bola usia dini.
Kegiatan tersebut mempertemukannya dengan anak-anak berusia 8 hingga 13 tahun dari berbagai sekolah sepak bola (SSB). Pesertanya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari sekolah negeri, swasta, pesantren, hingga sekolah unggulan dan internasional.
Dalam kesempatan itu, ia memanfaatkan waktu untuk menyampaikan pesan positif kepada para pemain muda. Ia mengajak mereka tidak hanya berprestasi di lapangan, tetapi juga menjadi anak yang menghormati orang tua, rajin belajar, memperkuat nilai agama, serta menjadi teladan di lingkungan masing-masing.
“Adik-adik, mari kita jadikan sekolah aman, nyaman, dan pintar. Dengan filosofi Sunda ‘silih asih, silih asah, silih asuh’, jadilah pemain sepak bola yang hebat, pintar di sekolah, patuh terhadap orang tua, rajin mengaji, serta menjadi panutan di keluarga, lingkungan, dan negeri kita Indonesia tercinta,” ucapnya.
Pesan itu menjadi bagian dari cara Herti menyebarkan edukasi ke luar lingkungan tempat tinggalnya. Ia ingin nilai saling menghargai tidak hanya dikenal anak-anak melalui slogan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perundungan tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Candaan yang merendahkan, saling mengejek, hingga menyindir kondisi teman juga bisa melukai perasaan apabila dilakukan berulang kali dan tidak disikapi dengan tepat.
Di lingkungan tempat tinggalnya yang padat, Herti kerap menemukan anak-anak saling mengejek. Ia berusaha menegur dan mengarahkan mereka agar tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan.
“Jangan begitu, Dek. Kita sama-sama manusia, sama-sama diciptakan Tuhan, sama-sama Indonesia. Yuk, saling silih asih, silih asah, silih asuh,” katanya menirukan pesan yang biasa disampaikan kepada anak-anak.
Ia juga berupaya membangun kedekatan dengan anak-anak melalui kegiatan keagamaan. Menjelang azan Magrib, ia mengajak mereka datang ke masjid dan membiasakan diri saling bersalaman. Ketika melihat Herti membersihkan masjid, beberapa anak bahkan ikut membantu memegang sapu, gayung, atau ember.
“Alhamdulillah anak meniru apa yang saya lakukan misalnya seperti saya sedang membersihkan masjid, anak anak juga ingin membantu saya” ucapnya
Bagi Herti, perubahan kecil seperti itu menjadi bagian dari pendidikan karakter yang ingin dibangun. Ia berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang saling menghormati, memiliki kepedulian terhadap sesama, dan tidak mudah merendahkan orang lain.
Berharap Gerakannya Mendapat Dukungan
Meski telah menjalankan kegiatan tersebut secara mandiri, Herti mengaku belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat.
Ia berharap upayanya bisa menjangkau lebih banyak pihak, terutama pemerintah dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Ia memiliki cita-cita membangun tempat atau aula yang nyaman bagi anak-anak di wilayahnya.
“Kalau ada modal, saya ingin terus mengedukasi anak-anak dan mempunyai tempat atau aula yang nyaman untuk anak-anak Indonesia di wilayah saya,” ujarnya.
Herti juga berharap kampanye anti perundungan dapat dilakukan secara rutin, termasuk melalui lingkungan sekolah. Menurutnya, pesan untuk menghentikan perundungan perlu terus disampaikan agar anak-anak memahami bahwa setiap orang berhak merasa aman dan dihargai.
“Semoga edukasi yang saya lakukan bisa menekan angka perundungan di Indonesia. Anak-anak Indonesia itu sumber dayanya hebat-hebat. Saya berharap mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, hebat, dan takwa,” tuturnya
Di tengah keterbatasan biaya dan fasilitas, Herti terus bergerak dengan caranya sendiri. Sebagian penghasilan dari pekerjaannya ia sisihkan untuk membangun kegiatan yang berangkat dari kepedulian terhadap anak-anak.
Ia mungkin tidak memiliki aula besar atau anggaran khusus untuk menggelar kampanye. Namun, melalui kostum unik, drama sederhana, jajanan, dan pesan yang disampaikan dengan penuh perhatian, Herti berusaha menanamkan satu hal kepada anak-anak perbedaan bukan alasan untuk merendahkan, dan setiap anak berhak tumbuh tanpa perundungan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






