ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Melambungnya harga kedelai dan plastik dalam beberapa pekan terakhir membuat produsen tempe mulai terhimpit. Maya, pengelola rumah produksi tempe di Cibiru Hilir, Kab. Bandung, mengatakan pihaknya akan menaikkan harga jual dalam beberapa hari ke depan merespons situasi ini.
“Sekarang masih Rp12.000 per papan, tapi kita udah rencana kemungkinan naik Rp200 mulai 7 April,” kata Maya, Jumat (3/4/2026).
Ia mengungkapkan harga kedelai yang dipakai sebagai bahan baku tempe di rumah produksinya kini mencapai Rp10.750 per kilogram. Padahal, sebelum Lebaran 2026, harganya masih berada di kisaran Rp9.650 per kilogram.
ADVERTISEMENT
Setiap harinya, rumah produksi tersebut membutuhkan bahan baku sekitar 1 ton kedelai untuk memproduksi 2.600 papan tempe.
“H-7 lebaran harga kedelai sudah naik. Cuma yang tercepat, terbesar, itu di minggu ini. Ini paling kencang kenaikannya, tiap hari naik,“ ujarnya.
Menurut Maya, pihaknya sejauh ini masih bisa mempertahankan harga jual karena memakai stok kedelai yang dibeli sejak sebelum Lebaran sekitar 16 ton. Namun, stok tersebut kini tinggal tersisa untuk beberapa hari saja sebelum pihaknya melakukan penyesuaian harga.
“Estimasi paling kuat 5 harian lagi bertahan di harga yang sama. Karena kalau mau disiasati dikecilin lagi kayaknya udah nggak mungkin, udah kecil banget ini,” tuturnya.
Selain kedelai, tekanan produksi juga semakin diperparah dengan kenaikan harga plastik kemasan. Maya mengungkapkan harga plastik yang digunakan untuk membungkus tempe di rumah produksinya mengalami kenaikan hingga 111 persen.
“Kita pakai plastik premium, naiknya 111 persen dari asal harganya Rp36.000 per kilogram sekarang Rp76.000 per kilogram,” ungkapnya.
Kenaikan harga kedelai dan plastik ini disebut merupakan dampak dari terganggunya rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah. Kedelai di pasaran Indonesia sendiri saat ini didominasi kedelai impor dari Amerika dan Kanada. Sedangkan bahan baku utama plastik kebanyakan dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Maya mengaku kelimpungan jika situasi konflik terus berlangsung, karena kenaikan harga bukan hanya akan terjadi pada kedelai dan plastik, tapi juga merembet ke berbagai pos biaya operasional lainnya.
“Pokoknya kalau perang belum reda apalagi memanas, harga bakal terus naik. Terus yang kedua, kalau ditambah bensin naik, upah juga naik, udah repot aja ini bener-bener bingung kita ini pasti mogok jualan tempe tahu se-Indonesia,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk menstabilkan harga bahan baku utama atau memberi dukungan melalui skema seperti subsidi.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






