Koran Mandala – Di tengah gegap gempita klaim keberhasilan Kementerian Pertanian, suasana di Kampung Haur Hapit, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, seperti tidak tersentuh gema pembangunan. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan bahwa Indonesia tengah menuju swasembada pangan yang akan diumumkan pada Oktober 2025. Bulog juga mencatat cadangan beras sebanyak 4 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Mekanisasi dan pencetakan jutaan hektare sawah terus didorong.
Indikator keberhasilan pertanian modern pun dipamerkan: nilai tukar petani (NTP) menyentuh angka 121 per Mei 2025, jauh di atas target. Namun, bagi Sahali (64), seorang petani tradisional yang telah mengolah sawah selama puluhan tahun, angka-angka tersebut hanya gema jauh yang tak menyentuh kehidupannya.
Kisah Petani Tua
Di lahan kecil 1.400 meter persegi, Sahali (64) menjemur gabah di atas terpal seadanya. Dengan alat sederhana seperti garu, ia membalikkan padi dari pagi hingga sore, berharap hujan tak turun. Hasil panennya sekitar 6 kuintal, jauh dari klaim panen 8 ton per hektare yang sering digaungkan pemerintah.
“Nyawah ayeuna mah ngan ngilu dahar tina galengan,” ujarnya dalam bahasa Sunda yang artinya, “Bertani sekarang hanya cukup untuk ikut makan dari pinggir sawah.”
Pengakuan Buruh Tani
Tak jauh dari tempat Sahali, buruh tani seperti Rohman (38) mencangkul sawah tanpa bantuan alat modern. Upahnya Rp 70 ribu sehari, kadang lebih kecil bila sistem borongan. Dulu, Rohman berjualan basreng (baso goreng) di depan sekolah, tapi kini beralih menjadi buruh tani karena sepinya pembeli.
Sementara itu, di Jakarta, Menteri Pertanian merilis data bahwa petani milenial kini bisa bergaji hingga Rp 10 juta per bulan. Sebuah kesenjangan mencolok bila dibandingkan dengan realita para petani dan buruh tani di Jawa Barat yang masih bekerja dengan cangkul dan harapan seadanya.
Webinar, drone, dan modernisasi pertanian mungkin menjadi wajah pertanian masa kini, tapi bagi banyak petani di kampung-kampung, pertanian tetap tradisional—dan penuh tantangan.
Tulisan ini bukan sekadar kisah Sahali atau Rohman, melainkan gambaran dari ribuan petani lainnya yang tak tersentuh oleh kebijakan dan teknologi. Di sinilah tantangan nyata pemerintah: memastikan bahwa modernisasi tidak hanya menjadi narasi di pusat, tetapi juga nyata dirasakan oleh para petani di akar rumput.
