KORAN MANDALA –Film horor masih menjadi salah satu genre yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Kehadiran film horor di bioskop kerap menarik perhatian penonton, terutama ketika sineas mengangkat kisah mistis, legenda lokal, hingga mitos yang sudah dikenal masyarakat.
Popularitas genre horor membuat berbagai film dengan tema tersebut terus menghiasi layar bioskop Indonesia. Para sineas tidak hanya mengandalkan adegan menegangkan dan jumpscare, tetapi juga menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan serta budaya masyarakat.
Besarnya minat masyarakat terhadap film horor terlihat dari jumlah penontonnya dalam beberapa tahun terakhir. Data yang dipaparkan dalam diskusi Tren Film Horor 2026 mencatat film horor produksi dalam negeri telah mengumpulkan lebih dari 101 juta penonton dalam kurun waktu tiga tahun.
Jika digabungkan dengan film horor impor, jumlah penontonnya mencapai lebih dari 128 juta orang.
Sanitasi Masih Jadi Masalah di Antapani, DPRD Bandung Dorong Penanganan Berbasis RW
Angka tersebut menunjukkan bahwa horor memiliki pasar yang kuat dalam industri film Indonesia. Bioskop menjadi salah satu tempat yang dipilih masyarakat untuk menikmati pengalaman menegangkan sekaligus mengikuti perkembangan film horor terbaru.
Pada 2024, sebanyak 68 film horor tayang di bioskop Indonesia dan berhasil menarik sekitar 57 juta penonton. Sejumlah film, seperti Vina: Sebelum 7 Hari, Kang Mak: from Pee Mak, Badarawuhi di Desa Penari, dan Siksa Kubur, bahkan mampu mengumpulkan jutaan penonton.
Produksi film horor semakin ramai pada 2025. Data perfilman mencatat sekitar 90 judul film horor beredar di bioskop sepanjang tahun tersebut. Jumlah itu menjadikan horor sebagai salah satu genre dengan produksi terbanyak, sementara film drama mencapai 66 judul.
Salah satu film horor yang menunjukkan besarnya potensi pasar pada 2025 adalah Pabrik Gula. Film tersebut berhasil mengumpulkan sekitar 4,7 juta penonton dan menjadi salah satu film horor lokal dengan jumlah penonton tinggi pada tahun tersebut.
Film Horor Dekat dengan Budaya Lokal
Salah satu alasan masyarakat menyukai film horor adalah cerita yang dekat dengan budaya lokal. Sineas kerap mengangkat kisah mengenai hantu, mitos, legenda urban, tempat angker, hingga berbagai kepercayaan masyarakat ke dalam film.
Kedekatan tersebut membuat penonton tidak hanya merasakan ketegangan, tetapi juga menemukan unsur budaya yang sudah mereka kenal sejak kecil. Pengamat perfilman Ekky Imanjaya menyebut masyarakat Indonesia telah lama mengenal cerita rakyat dan berbagai kisah mistis sehingga kondisi tersebut turut membangun ketertarikan terhadap genre horor.
Kesuksesan KKN di Desa Penari pada 2022 turut memperkuat posisi film horor dalam industri perfilman nasional. Film tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 10 juta penonton dan masuk dalam jajaran film Indonesia dengan jumlah penonton terbesar sepanjang sejarah.
Keberhasilan tersebut kemudian mendorong rumah produksi untuk menghadirkan lebih banyak film dengan tema horor. Sineas juga mulai menggabungkan horor dengan berbagai genre lain, seperti drama, komedi, thriller, hingga isu sosial.
Perkembangan tersebut membuat film horor tidak selalu bergantung pada kemunculan sosok hantu. Para pembuat film dapat membangun rasa takut melalui konflik karakter, suasana, misteri, maupun persoalan yang dekat dengan kehidupan penonton.
Bioskop Menawarkan Pengalaman Berbeda
Sebagian penonton menikmati rasa takut yang muncul ketika menyaksikan film horor. Ketegangan, rasa penasaran, suara mengejutkan, dan adegan jumpscare memberikan pengalaman emosional yang berbeda dibandingkan genre film lainnya.
Bioskop juga mampu memperkuat pengalaman tersebut. Ruangan yang gelap, layar berukuran besar, serta sistem suara membuat penonton lebih mudah terbawa ke dalam suasana yang dibangun film.
Selain itu, masyarakat kerap menjadikan menonton film horor sebagai kegiatan bersama teman atau keluarga. Mereka dapat menikmati ketegangan sekaligus berbagi reaksi ketika film menghadirkan adegan yang mengejutkan.
Kebiasaan tersebut membuat menonton film horor tidak hanya menjadi aktivitas untuk menikmati cerita. Bagi sebagian penonton, pergi ke bioskop bersama orang terdekat juga menjadi pengalaman sosial yang menyenangkan.
Media Sosial Ikut Populerkan Film Horor
Media sosial turut membantu film horor menjangkau lebih banyak calon penonton. Cuplikan adegan, trailer, ulasan, hingga reaksi penonton dapat tersebar dengan cepat melalui berbagai platform digital.
Konten tersebut kemudian dapat membangun rasa penasaran terhadap sebuah film. Ketika film horor ramai diperbincangkan di media sosial, masyarakat yang sebelumnya tidak mengetahui judul tersebut dapat ikut mencari informasi dan mempertimbangkan untuk menontonnya di bioskop.
Penonton juga dapat membagikan pengalaman setelah menyaksikan film. Mereka bisa mengunggah reaksi, membahas alur cerita, hingga membuat teori mengenai misteri yang muncul sepanjang film.
Percakapan tersebut menciptakan efek berantai. Semakin banyak masyarakat membicarakan sebuah film horor, semakin besar pula peluang film tersebut mendapatkan perhatian dari calon penonton lainnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas film horor tidak hanya bergantung pada promosi melalui bioskop atau media konvensional. Media sosial kini ikut memainkan peran dalam membentuk rasa penasaran dan mendorong masyarakat untuk menyaksikan film di layar lebar.
Dengan jumlah produksi dan penonton yang terus menunjukkan potensi besar, film horor masih memiliki posisi penting dalam industri perfilman Indonesia. Tantangan bagi para sineas adalah mempertahankan minat penonton dengan menghadirkan film yang kreatif, memiliki alur kuat, dan menawarkan pendekatan horor yang tidak monoton.
Pada akhirnya, penonton tidak hanya mencari jumpscare ketika datang ke bioskop. Mereka juga mencari film dengan cerita menarik, suasana yang kuat, serta pengalaman yang dapat dibicarakan setelah menyaksikannya. (Raul Krishnandi)
