KORAN MANDALA – Lomba Jampana dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Desa Purwajaya, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, bukan sekadar perlombaan. Di balik arak-arakan Jampana, tersimpan doa dan harapan warga terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani.
Jampana yang diarak warga dihiasi berbagai hasil bumi, seperti padi dan singkong, serta nasi tumpeng. Bagi masyarakat Purwajaya yang kehidupannya dekat dengan sektor agraris, hasil pertanian tersebut menjadi simbol kehidupan sekaligus bentuk rasa syukur atas hasil bumi.
Tenaga pendidik SDN 2 Purwajaya, Ismail Ginanjar, mengatakan Jampana dalam tradisi Sunda identik dengan hasil bumi, hasil pertanian, dan aneka makanan.
DPRD Garut Dorong Pembangunan Jalan Banjarwangi dengan Sejumlah Opsi
Menurutnya, nasi tumpeng berwarna kuning keemasan yang menjadi bagian dari Jampana memiliki makna simbolis sebagai doa dan harapan agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.
“Secara simbolis itu merupakan doa dan harapan bagi warga supaya ke depannya kesejahteraan meningkat, hasil pertanian meningkat, hama menjauh,” kata Ismail.
Selain tumpeng, Jampana dapat diisi padi ranggeuyan, singkong, serta berbagai hasil pertanian lainnya. Hasil bumi tersebut ditata sedemikian rupa, termasuk dalam bentuk rumah-rumahan kecil, kemudian diarak dalam rangkaian peringatan HUT RI.
Bagi warga Purwajaya, tradisi tersebut menjadi ruang untuk menampilkan hasil pertanian sekaligus memperlihatkan kedekatan masyarakat dengan kehidupan agraris.
Kepala Desa Purwajaya, Suhardiana, mengatakan hasil pertanian masyarakat, termasuk padi dan berbagai tanaman lainnya, diharapkan terus menjadi bagian dari kegiatan peringatan kemerdekaan di desa.
Menurutnya, lomba Jampana juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.
“Tujuannya adalah untuk kebersamaan, untuk mempererat silaturahmi, dan jangan sampai hilang dari nenek moyang dulu yang ada di desa kami,” ujar Suhardiana.
Jampana dan Semangat Gotong Royong
Tak hanya hasil bumi, nilai gotong royong menjadi bagian penting dalam tradisi Jampana. Ismail menjelaskan, Jampana biasanya dibawa sedikitnya dua orang dan maksimal empat orang menggunakan pemikul yang terbuat dari dua batang bambu.
Proses pembuatannya pun dilakukan secara bersama-sama oleh warga. Hal tersebut mencerminkan kerja sama dan gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa.
“Jampana itu dibawa minimal dua orang, maksimal empat orang. Itu simbol dari gotong royong. Di dalam pembuatannya pun dilakukan secara beramai-ramai oleh warga,” katanya.
Sekretaris Desa Purwajaya sekaligus Ketua Panitia kegiatan Agustusan, Utang Nurodin, mengatakan Jampana telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat.
“Ini merupakan budaya. Mungkin kalau lebih jauhnya itu saya tidak tahu apakah di daerah-daerah lain ada Jampana atau enggak. Tapi di kita sudah terbiasa itu Jampana itu ada,” kata Utang.
Utang berharap tradisi tersebut tidak hanya menjadi sarana mempertahankan budaya, tetapi juga memperkuat keharmonisan masyarakat. Menurutnya, kegiatan Jampana dapat mempererat hubungan antarpemuda dan warga dari berbagai kampung serta dusun.
Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk semakin aktif berkontribusi dalam pembangunan desa.
Sementara itu, Bidan Desa Purwajaya sekaligus juri lomba, Siti Masnina, mengatakan kegiatan Jampana di Purwajaya telah digelar sejak 2017.
Menurut Siti, aspek penilaian dalam lomba meliputi kreativitas dan bentuk Jampana, cita rasa nasi tumpeng, serta jenis makanan yang disajikan.
“Antusiasnya mungkin dari kekompakan juga, terus melihat kreativitas masyarakat terhadap perayaan Hari Kemerdekaan,” ujar Siti.
Menjaga Tradisi, Menanamkan Nilai kepada Generasi Muda
Bagi masyarakat Purwajaya, Jampana menjadi perpaduan antara hasil bumi, kreativitas, dan semangat gotong royong. Tradisi tersebut sekaligus menjadi media untuk menyampaikan harapan terhadap kesejahteraan masyarakat dan mempertahankan budaya yang telah hidup di tengah warga.
Ismail berharap kegiatan Jampana dapat terus dilaksanakan dan menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Nilai kerja sama, solidaritas, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap tanah air dinilai dapat ditanamkan melalui kegiatan tersebut.
“Harapan saya, ini bisa terlaksana selamanya. Pertama, melatih gotong royong dan solidaritas masyarakat,” ujarnya.
Dengan demikian, Jampana bagi warga Purwajaya bukan hanya kemeriahan dalam perayaan HUT RI. Hasil bumi yang diarak menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa agar sektor pertanian terus berkembang dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.
