KORANMANDALA.COM – Tingginya angka pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi menjadi sorotan. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional BPS Mei 2026, sebanyak 1.033.182 orang berlatar belakang sarjana terapan, S-1, S-2, dan S-3 tercatat berstatus pengangguran.
Pengamat ekonomi Universitas Insan Cendekia Mandiri (UICM) Bandung, Deni Rizky, menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan antara dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, dengan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri.
“Kemarin ternyata pas bulan Mei bahwa salah satu paling banyak pengangguran itu dari lulusan sarjana. Nah, ini artinya ada masalah nih antara sektor pendidikan dengan lapangan pekerjaan,” ujar Deni Saat dihubungi Koran Mandala Minggu (16/8/2026)
Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, perguruan tinggi dinilai perlu melakukan penyesuaian kurikulum agar lebih relevan dengan perkembangan industri.
“Nah, ini masalahnya ketidaksesuaian. Berarti artinya kamu harus menyesuaikan kurikulumnya, ya. Antara perguruan tinggi kampus dengan kurikulum yang memang dibutuhkan industri,” katanya.
Deni menilai lulusan perguruan tinggi idealnya memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Terlebih, perkembangan industri saat ini berlangsung cepat seiring masuknya investasi dan berkembangnya teknologi baru.
“Kan harusnya sekarang itu kelulusan perguruan tinggi itu sama dengan apa yang dibutuhkan industri,” ucapnya.
Ia mencontohkan perkembangan industri kendaraan listrik yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan sesuai teknologi terbaru. Namun, menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara teknologi yang digunakan industri dengan pengalaman praktik yang diperoleh mahasiswa.
“Industri menginginkan Investasi di Jawa Barat itu tentang kendaraan listrik, Tapi sekarang mahasiswa kampus-kampus gitu, praktiknya menggunakan kendaraan tahun 80-an, gitu ya,” tuturnya.
Kondisi tersebut, lanjut Deni, menunjukkan pentingnya kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi dan sektor industri.
Ia mendorong perusahaan, khususnya sektor manufaktur, untuk turut terlibat dalam pengembangan pendidikan melalui pembentukan kelas industri maupun program pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
“Makanya perguruan tinggi ya harus bisa berkolaborasi dengan sektor-sektor industri,” ujarnya.
Menurut Deni, kolaborasi tersebut tidak hanya memberikan keuntungan bagi mahasiswa karena memperoleh pengalaman dan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar, tetapi juga dapat membantu perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang siap bekerja.
“ jadi misalkan sektor-sektor manufaktur itu mempunyai skema untuk berinvestasi. Karena ini akan memangkas anggaran untuk mereka. Mereka kan bisa buka kelas industri, dapat tenaga kerja yang berkualitas, dan siap untuk dibuat industri,” katanya.
Selain perguruan tinggi dan industri, Deni menilai pemerintah memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan kedua sektor tersebut. Pemerintah perlu memastikan terdapat keterhubungan antara kurikulum pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.
“Tapi kan ini hal ini peran pemerintah juga bagaimana menjembatani antara kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan industri,” pungkasnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri dapat diperkuat sehingga lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja.

Ilustrasi Wisuda (Sumber: Pinterest)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.