KORAN MANDALA – Ketika sebagian besar hamparan sawah di Jawa Barat merana dihantam gelombang kemarau panjang, lumpur basah di pesawahan justru mulai menyembul di Desa Bunijaya, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada Kamis (15/10/2026).
Di tengah debu yang beterbangan dan tanah perkampungan tetangga yang pecah-pecah memanggil hujan, para petani di desa ini melangkah ke petakan lumpur dengan traktor, menatap musim dengan optimisme yang tak biasa.
Di antara mereka adalah Asep (50), seorang pria paruh baya bertopi caping yang wajahnya dipenuhi garis-garis ketangguhan khas petani Priangan. Berdiri di tepi petakan sawahnya yang basah, Asep mengamati aliran air bening yang menyusup pelan di antara galengan.
Bagi Asep dan rekan-rekannya, aliran air di tengah kemarau ekstrem bukan sekadar keberuntungan, melainkan helaan napas kehidupan.
“Alhamdulillah, di sini masih ada air meskipun musim kemarau panjang, jadi kami para petani mau menanam padi,” tutur Asep seraya menyapu keringat di dahinya.
Keberanian para petani Bunijaya untuk kembali turun ke sawah bukannya tanpa cerita pahit. Musim kemarau kali ini tidak sepenuhnya ramah sejak awal. Desa Bunijaya pun sempat bertekuk lutut ketika pasokan air benar-benar terhenti beberapa waktu lalu.
Asep mengenang, sekitar dua bulan yang lalu, rasa cemas sempat menyelimuti ruang-ruang obrolan warga di saung-saung sawah. Tanah sempat mengering, dan harapan untuk menanam padi seolah pupus digilas cuaca ekstrem.
“Sempat mengalami kekeringan di sini juga sekitar dua bulan yang lalu, tetapi air ada lagi meskipun bendungannya rusak,” ungkap Asep.
Ungkapan sederhana itu menyimpan kisah ketangguhan pasokan air alami di wilayah lereng Bandung Barat ini. Meski infrastruktur irigasi dan bendungan lokal dalam kondisi rusak serta memprihatinkan, urat-urat air dari mata air pegunungan sekitar seolah enggan membiarkan warga Bunijaya kehilangan harapan.
Air merembes dan mengalir kembali, melintasi struktur bendungan yang seadanya, menyuplai petakan-petakan sawah yang menanti di hilir.
Pemandangan di Desa Bunijaya menyajikan mosaik pertanian yang unik dan dinamis. Di satu sudut desa, mesin perontok padi berderu menandakan panen yang berhasil diselamatkan. Namun, hanya beberapa lemparan batu dari sana, denyut kehidupan baru justru baru saja dimulai.
Sistem pengairan yang kembali stabil membuat kalender tanam ant blok sawah menjadi bervariasi. Ketika petani di blok lain sedang bersuka cita menikmati hasil jerih payahnya, Asep dan kelompoknya baru saja memulai babak baru pertaruhan musim ini.
“Kalau di sini mah baru mau menanam padi, kalau yang sebelah sana sudah panen,” kata Asep sambil menunjuk ke arah perbukitan di seberang, tempat hamparan jerami kuning sisa panen membentang.
Perbedaan masa tanam ini justru menjadi berkah tersendiri. Pasokan air yang ada tidak perlu diperebutkan secara bersamaan dalam jumlah besar, sehingga aliran air yang terbatas akibat bendungan rusak tetap mencukupi kebutuhan bibit padi muda milik Asep dan tetangganya.
Bagi Asep dan masyarakat petani Desa Bunijaya, menanam padi di puncak musim kemarau bukan sekadar urusan perut dan mata pencaharian. Ini adalah simbol perlawanan terhadap ketidakpastian iklim yang kian sulit diprediksi.
Selama air terus mengalir, meski harus melewati sela-sela bendungan yang retak dan rusak, jemari tangan mereka yang kasar akan terus menancapkan benih-benih hijau ke dalam lumpur.
Di tengah bayang-bayang ancaman kekeringan nasional, Desa Bunijaya membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tak melumpuhkan harapan selama alam masih bersahabat dan manusia mau terus berusaha.
Di bawah langit Rongga yang cerah, Asep kembali melanjutkan meneraktor lahannya. Dalam setiap tanah yang ia gemburkan, tersemat doa agar air terus mengalir, hingga bulir-bulir emas kembali siap dipanen di musim berikutnya
