ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kota Bandung kembali dihadapkan pada persoalan serius di dunia pendidikan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan dosen Universitas Islam Bandung (Unisba), puluhan ribu siswa di Kota Kembang dilaporkan mengalami gangguan mental. Angka yang mencapai sekitar 62 ribu siswa itu memantik keprihatinan berbagai pihak, termasuk kalangan legislatif.
Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKB, Muhamad Syahlevi Erwin Apandi, angkat bicara terkait temuan tersebut. Ia menilai kondisi ini tidak bisa dianggap sepele dan membutuhkan respons cepat serta terukur dari pemerintah daerah.
“Angka 62 ribu itu bukan jumlah kecil. Ini harus jadi perhatian serius semua pihak, terutama pemerintah kota. Artinya, ada persoalan besar yang sedang dihadapi anak-anak kita,” ujar Syahlevi saat dimintai tanggapan, Senin (13/4/2026).
ADVERTISEMENT
Indri Rindani Masuk Bursa Calon Ketua DPC PKB Kota Bandung, Satu-satunya Perempuan
Menurutnya, salah satu langkah konkret yang harus segera dilakukan adalah memaksimalkan kembali Program Lentera yang selama ini menjadi salah satu upaya penanganan kesehatan mental bagi pelajar di Kota Bandung.
Ia menilai program tersebut belum berjalan optimal dan perlu diperluas jangkauannya agar bisa menjangkau lebih banyak siswa yang membutuhkan pendampingan.
“Program Lentera harus dimasifkan lagi. Jangan sampai hanya sebatas program di atas kertas. Harus benar-benar hadir di sekolah-sekolah dan dirasakan langsung manfaatnya oleh siswa,” tegasnya.
Selain itu, Syahlevi juga menyoroti keterbatasan jumlah tenaga psikolog yang menjadi kendala dalam penanganan kasus kesehatan mental di kalangan pelajar. Dengan jumlah siswa terdampak yang cukup besar, ia mendorong adanya strategi untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada.
“Memang jumlah psikolog kita masih terbatas. Tapi itu bukan alasan untuk tidak maksimal. Harus ada langkah-langkah inovatif, misalnya kolaborasi dengan kampus, komunitas, atau memperkuat peran guru BK agar bisa menjadi garda terdepan,” katanya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya pendekatan yang komprehensif, tidak hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga melibatkan keluarga dan lingkungan sosial siswa.
“Ini bukan hanya tugas sekolah. Orang tua juga harus dilibatkan, lingkungan juga harus mendukung. Jangan sampai anak-anak ini merasa sendirian menghadapi masalahnya,” tambahnya.
Syahlevi berharap, temuan dari survei tersebut menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Bandung untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan program yang berkaitan dengan kesehatan mental pelajar.
“Jangan tunggu sampai terlambat. Ini menyangkut masa depan generasi kita. Kalau tidak ditangani serius dari sekarang, dampaknya bisa lebih besar ke depan,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






