ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Pesta pernikahan yang digelar mewah belum tentu membuat kehidupan rumah tangga menjadi lebih bahagia. Jika dipaksakan melebihi kemampuan ekonomi, biaya pesta justru bisa berubah menjadi beban utang setelah pasangan resmi menikah.
Hal tersebut menjadi perhatian Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau akrab disapa Om Zein. Ia mengaku pernah bertemu pasangan yang justru menghadapi persoalan ekonomi setelah menggelar pesta pernikahan cukup besar.
Om Zein menceritakan, sekitar enam bulan setelah menikah, salah seorang pengantin kembali menemuinya dalam kondisi menangis karena menghadapi persoalan rumah tangga.
ADVERTISEMENT
Abang Ijo Dorong Penguatan Ekonomi Warga Lewat Program Purwakarta Berhaji
Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan beban ekonomi yang muncul setelah pasangan itu memaksakan pesta pernikahan di luar kemampuan keuangannya.
“Uangnya terbatas, tapi dia ingin pestanya begitu meriah. Mengundang banyak orang, menyiapkan makanan banyak, sampai menanggap hiburan,” ujar Om Zein.
Keinginan menggelar pesta besar membuat pasangan tersebut harus mengeluarkan biaya cukup banyak. Mereka berharap uang pemberian dari para tamu dapat membantu menutup biaya pesta.
Namun, harapan tersebut tidak sepenuhnya terwujud. Setelah pesta selesai, masih terdapat biaya yang harus dibayar sehingga pasangan tersebut akhirnya membawa utang ke dalam kehidupan rumah tangga.
Kondisi itu kemudian membuat biaya yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga harus dialihkan untuk membayar utang pesta.
Om Zein menilai, persoalan tersebut sebenarnya dapat dicegah jika pasangan tidak memaksakan pesta mewah di luar kemampuan ekonomi.
Menurutnya, esensi pernikahan bukan terletak pada seberapa meriah pesta yang digelar, melainkan kesiapan pasangan menjalani kehidupan setelah akad.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta bersama Kementerian Agama mendorong program nikah gratis bagi masyarakat.
Program tersebut dihadirkan sebagai alternatif bagi pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan tanpa harus terbebani biaya pesta.
Dalam program tersebut, calon pengantin cukup mempersiapkan diri untuk melangsungkan akad. Sejumlah kebutuhan pendukung juga disiapkan agar pasangan tidak perlu mengeluarkan biaya besar.
Fasilitas yang diberikan antara lain kendaraan bagi pasangan, rias pengantin, perangkat alat salat, hingga bantuan mahar bagi pasangan yang mengikuti program tersebut.
“Tidak usah bayar, gratis. Bawa diri saja, kebutuhan pernikahannya disiapkan,” kata Om Zein.
Menurut Om Zein, program nikah gratis tidak sekadar membantu masyarakat dari sisi biaya. Program tersebut juga diharapkan dapat mencegah pasangan memulai kehidupan rumah tangga dengan beban utang akibat pesta pernikahan.
Sebab, setelah pesta selesai dan para tamu pulang, pasangan harus menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Kebutuhan tempat tinggal, makan sehari-hari, biaya anak, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga baru dimulai setelah akad.
Karena itu, Om Zein mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kemewahan pesta sebagai ukuran keberhasilan sebuah pernikahan.
Ia berharap pasangan lebih mengutamakan kesiapan mental dan ekonomi untuk menjalani kehidupan bersama.
Dengan adanya program nikah gratis, pasangan dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap dapat melangsungkan pernikahan secara layak tanpa harus memaksakan diri menggelar pesta besar.
Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang satu hari perayaan. Di balik akad dan pesta yang berlangsung singkat, terdapat kehidupan panjang yang membutuhkan kesiapan mental, tanggung jawab, serta kemampuan ekonomi dari kedua pasangan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






