ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kebijakan pengawasan jam malam bagi pelajar di Kota Bandung kembali menjadi sorotan. Program yang sempat dinilai efektif menekan aktivitas negatif remaja di malam hari, kini disebut melemah bahkan nyaris tak terlihat implementasinya di lapangan.
Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKB, Mochamad Ulan Surlan, menilai kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memicu kembali maraknya kenakalan remaja, termasuk aksi kekerasan terhadap pelajar yang berujung fatal.
“Di awal program, pengawasan jam malam ini cukup efektif. Ada kontrol, ada pengawasan. Tapi sekarang seolah hilang, tidak terlihat lagi implementasinya di lapangan,” ujar Ulan saat diwawancarai.
ADVERTISEMENT
Persib Bandung Tumbangkan Semen Padang 2-0, Ramon De Andrade Souza Jadi Pahlawan
Menurutnya, lemahnya pengawasan ini berbanding lurus dengan meningkatnya potensi konflik antar pelajar, terutama pada malam hari. Ia menyoroti insiden terbaru yang menewaskan seorang pelajar belum lama ini yang diduga kuat akibat tawuran.
“Ini harus jadi alarm serius. Ketika pengawasan melemah, anak-anak kita rentan terlibat dalam aktivitas berbahaya. Bahkan sampai merenggut nyawa,” tegas Pria yang akrab disapa Om Ulan tersebut.
Ulan yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi I itu, secara tegas menyebut peran Pemerintah Kota Bandung dalam menjaga konsistensi program tersebut belum berjalan optimal. Ia menilai perlu ada evaluasi menyeluruh, baik dari sisi pengawasan, koordinasi lintas instansi, hingga penegakan aturan di lapangan.
“Pemerintah kota harus hadir secara konsisten. Jangan sampai program hanya kuat di awal, tapi melemah seiring waktu. Ini menyangkut keselamatan generasi muda,” katanya.
Ia juga mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari aparat kewilayahan, sekolah, hingga orang tua, untuk bersama-sama mengawasi aktivitas pelajar di luar jam belajar.
Lebih lanjut, Ulan meminta Pemkot Bandung untuk segera melakukan evaluasi terhadap kebijakan jam malam pelajar, termasuk memperjelas mekanisme pengawasan dan sanksi bagi pelanggaran.
“Kalau memang ini dianggap penting, maka harus ditegakkan secara konsisten. Jangan setengah-setengah. Harus ada kejelasan siapa mengawasi, bagaimana pengawasannya, dan apa konsekuensinya,” ujarnya.
Ia menegaskan, tanpa langkah konkret dan berkelanjutan, potensi kejadian serupa akan terus berulang dan mengancam keselamatan pelajar di Kota Bandung.
Sebut dia, kasus tewasnya pelajar akibat dugaan tawuran ini menjadi pengingat bahwa persoalan kenakalan remaja bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga membutuhkan kehadiran negara melalui kebijakan yang konsisten dan pengawasan yang nyata di lapangan oleh pemerintah.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






