ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Situasi ketidakpastian menyelimuti sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kawasan Timur Tengah. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, mereka diliputi rasa cemas sekaligus terus memantau perkembangan kondisi keamanan di negara tempat mereka bekerja.
Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah serangan militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang menargetkan sejumlah wilayah yang memiliki pangkalan militer Amerika Serikat, termasuk di Qatar, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Seorang WNI asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang telah bekerja di Abu Dhabi selama sekitar 1,5 tahun, mengaku mulai merasakan dampak ketegangan tersebut sejak awal Maret 2026.
ADVERTISEMENT
Farhan: Risiko Bencana di Bandung Bukan Hanya Faktor Alam, tapi Juga Perubahan Tata Kota
“Kami mulai merasakan situasinya sejak awal Maret. Serangan pertama ke daerah Musaffah yang dekat dengan pangkalan militer AS terjadi akhir pekan kemarin,” ujar pria berusia 30 tahun itu saat dihubungi Koran Mandala, Jumat, 6 Maret 2026.
Narasumber yang bekerja di sektor food and beverage (FnB) tersebut meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Ia mengaku sempat mengalami momen menegangkan ketika salah satu serangan rudal terjadi tidak jauh dari lokasi tempat tinggalnya.
“Yang ketiga kalinya itu suaranya sangat keras sampai dinding apartemen terasa bergetar. Sepertinya lokasinya cukup dekat,” tuturnya.
Peringatan Serangan Muncul di Ponsel Warga
Meski dalam beberapa hari terakhir intensitas serangan mulai menurun dibandingkan hari-hari awal, ia mengatakan sistem peringatan dini di UEA masih sangat aktif.
Setiap warga, kata dia, akan menerima notifikasi otomatis di telepon genggam jika terdeteksi ancaman serangan rudal atau drone.
“Kalau ada ancaman, muncul notifikasi yang menyuruh kita meninggalkan gedung atau mencari tempat terbuka. Kemarin saja dalam satu malam ada empat kali notifikasi,” ujarnya.
Serangan Iran di wilayah UEA juga dilaporkan menyasar sejumlah fasilitas strategis, termasuk kawasan sekitar Dubai International Airport. Dampaknya, operasional bandara sempat dihentikan sementara sehingga mengganggu jadwal penerbangan internasional.
Menurut narasumber, salah satu rekannya yang dijadwalkan pulang ke Indonesia pada 9 Maret 2026 harus menunda keberangkatan karena operasional bandara belum kembali normal.
“Bandara masih tutup. Informasinya mungkin baru dibuka sekitar 18 atau 19 Maret, itu juga tergantung perkembangan situasi,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, narasumber mengaku telah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di UEA. Pihak kedutaan saat ini membuka jalur komunikasi dengan para WNI serta melakukan pendataan sebagai langkah antisipasi.
Pendataan tersebut dilakukan untuk memetakan keberadaan warga negara Indonesia jika sewaktu-waktu diperlukan proses evakuasi.
“KBRI meminta kami mengisi formulir pendataan untuk mempermudah proses evakuasi kalau situasi semakin memburuk,” ujarnya.
Ia juga menyebut informasi yang diterimanya menyatakan bahwa proses evakuasi WNI di kawasan Timur Tengah mulai dilakukan secara bertahap dari wilayah yang dinilai paling rawan.
“Saya dengar evakuasi sudah mulai dilakukan dari Teheran lebih dulu,” tambahnya.
Meski diliputi kekhawatiran, pria asal Garut tersebut mengaku untuk sementara masih bertahan di Abu Dhabi sembari memantau perkembangan situasi keamanan.
Keputusan itu diambil karena ia masih memiliki kontrak kerja yang berlaku hingga September 2026.
“Kalau situasinya memanas lagi mungkin saya akan memilih resign dan pulang. Tapi kalau tetap aman, saya rencananya menyelesaikan kontrak sampai September,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya di Garut telah meminta dirinya untuk segera kembali ke Indonesia demi keselamatan.
Namun, menurutnya kondisi di Abu Dhabi saat ini masih relatif terkendali. Aktivitas masyarakat, termasuk bekerja dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan, masih berjalan seperti biasa.
“Memang masih ada rasa khawatir, tapi aktivitas sehari-hari masih normal. Pemerintah setempat juga menjaga keamanan dengan cukup ketat,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






