Oleh: Widi Garibaldi
Hampir seabad yang lalu, tepatnya 98 tahun, sekelompok pemuda-I yang terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta, mencetuskan tekad persatuan yang kemudian dikenal dan diperingati sebagai Sumpah Pemuda.
Pada saat yang sangat bersejarah itu diperdengarkan untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya karya W.R.Soepratman, yang dikemudian hari menjadi lagu kebangsaan negara Republik Indonesia.
Dalam kongres, antara lain dibicarakan betapa pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia. Dengan pendidikan, diharapkan tumbuhnya disiplin dan semangat kebangsaan serta cinta Tanah Air yang akibat penjajahan yang berkepanjangan semakin menjauh dari pikiran dan perasaan bangsa Indonesia.
Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan momentum penting dalam sejarah bangsa Indonesia, karena sejak saat itu kelompok-kelompok berdasarkan suku, adat, bahasa dan daerah dikubur dalam-dalam. Sejak saat itu tak lagi dikenal apa yang disebut Jong Java, Jong Soematra, Jong Celebes,Jong Islamieten dan sebagainya.
Semua membubarkan diri ditelan sumpah : bertumpah darah satu,berbangsa satu dan berbahasa satu yakni Indonesia.
Menyongsong Tahun Emas
Tersebutlah nama 2 budayawan Indonesia yang terkenal. Mereka adalah Koentjaraningrat dan Mochtar Loebis.Keduanya, blak-blakan menggaris bawahi sifat sifat jelek bangsanya sendiri.
Tentu saja bukan untuk menghina. Tetapi dengan mengetahui dan menyadari kekurangan-kekurangan atau penyakit diri sendiri, akan lebih mudah untuk menemukan obat, demi kesembuhan.
Selama kita menjadi bangsa yang sakit-sakitan tentu saja angan-angan untuk mewujudkan tahun 2045 sebagai Tahun Emas atau Tahun Kejayaan hanya akan menjadi angan-angan bagi bangsa Indonesia.
Menurut Koentjaraningrat orang Indonesia itu bersikap ingin mencapai sesuatu secepat cepatnya, tanpa berusaha selangkah demi selangkah.
Maunya serba instan ! Sama halnya dengan pendapat Mochtar Lubis, Koentjaraningrat tiba pada kesimpulan bahwa manusia Indonesia itu selalu enggan bertanggung jawab.
Wataknya lemah dan berjiwa feodal, begitu kata Mochtar Lubis. Watak yang lemah itu diamini oleh Koentjaraningrat,karena menurutnya manusia Indonesia itu apatis dan lesu.
Sulit membayangkan, bagaimana Tahun Emas itu dapat digapai manakala para pemuda tidak membulatkan tekad bersatu dalam satu sumpah yakni Sumpah Pemuda dengan mengubur perpecahan.
Sulit pula dibayangkan bagaimana mewujudkan Tahun Emas itu manakala sifat sifat buruk seperti yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis itu tidak segera diatasi.
Bagaimana caranya ? Hanya dengan Pendidikan, kata para pemuda hampir seabad yang lalu. Memang benar, hanya dengan Pendidikan sifat-sifat buruk seperti dikemukakan Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis itu dapat dienyahkan.
Setelah itu, baru kita boleh berharap tibanya Tahun Emas. Bukan Tahun Cemas !***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






