Oleh: Widi Garibaldi
Mengapa kejahatan korupsi terus merajalela di negeri tercinta ini ? Pertanyaan klasik yang sering terlontar dalam setiap seminar hingga laporan dan tulisan ilmiah. Tak terkecuali dalam diskusi diskusi populer pod cast.
Semuanya, tak pernah mendapat jawaban tuntas. Tersangka selalu menebar senyum di layar kaca kendati mereka menggunakan seragam oranye dan tangan diborgol.
Tak terkecuali mereka yang sudah dijatuhi vonis oleh Hakim harus meringkuk di balik jeruji besi dalam bilangan tahun.
Lima belas tahun yang lalu, seorang pegawai Direktorat Pajak dijatuhi hukuman hingga 29 tahun penjara. Gayus Tambunan namanya. Kendati hukuman penjara tertinggi di Indonesia hanya 20 tahun, hukuman yang dijatuhkan kepada Gayus jauh melebihi penjara maksimal itu. Soalnya ia melakukan aneka kejahatan.Mulai dari penggelapan pajak , pencucian uang hingga pemalsuan paspor.
Walaupun harus mendekam di dalam tahanan dan penjara, Gayus pernah kepergok sedang asik menyaksikan pertandingan tenis di Bali.
Bayangkan,dari Jakarta ia leluasa pergi ke Bali untuk menyaksikan pertandingan tenis. Seorang wartawan yang bermata jeli memotretnya, walaupun Gayus menyaru dengan menggunakan wig.
Bukan itu saja, ternyata sang narapidana dipergoki wartawan ketika sedang makan di restoran dikelilingi beberapa perempuan.
Bukan di Bandung kota tempat dia harus menjalani hukuman. Tetapi di Jakarta. Bagaimana bisa ? Tidak sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena Gayus royal menghambur hamburkan uang hasil jarahannya yang berjumah puluhan miliar rupiah itu.
Bilik asmara
Ternyata, penjara itu tidak seseram apa yang dibayangkan banyak orang.Banyak keistimewaan yang diperoleh narapidana di sana.Tentu saja tak akan diperoleh dengan gratis.
Ada imbalannya. Baru baru ini, beberapa pejabat Ombudsman RI melakukan sidak ke Lapas Cibinong, Bogor. Mereka terperangah menyaksikan beberapa ruangan tak ubahnya hotel. Ada penyejuk ruangan, AC. Juga lemari pendingin dan televisi.
Di toilet mereka tidak melihat kloset jongkok.Tapi kloset duduk. Tempat tidurnya ? Bukan dipan atau tikar. Tapi spring bed dengan sprei putih bersih, seperti di hotel. Bukan itu saja. Tak jauh dari tempat tidur terdapat sofa nan empuk.
Kalau di beberapa Lapas lebih kecil dikenal adanya bilik asmara maka dengan ruangan-ruangan tak ubahnya hotel itu, sang Narapidana leluasa menerima tamu atau memadu asmara dengan isteri atau pacarnya.
Tentu saja dengan bayaran tertentu. Katakanlah Rp 1 juta, per hari ! Itu baru Rp 365 juta per tahun. Apalah artinya dibandingkan kerugian negara yang dikorup mencapai Rp 365 miliar ? Bahkan triliunan rupiah, mengingat suap, gratifikasi dan sebagainya biasanya diterima sang koruptor dalam mata uang asing AS dollar atau Singapur dollar.
Jangan lupa, mereka makan tidur di Lapas yang tak ubahnya hotel itu, gratis. Semua ditanggung negara yang sudah mereka pereteli segalanya.
Penjara yang tak ubahnya hotel itulah salah satu penyebab mengapa korupsi tak pernah dapat dikuras di Indonesia.Para koruptor itu tetap dapat menikmati kesenangan duniawi sambil menanti masa hukuman yang segera akan berakhir. Yang pasti mereka, seperti narapidana lainnya, akan memperoleh setidaknya 6 macam remisi atau pengurangan hukuman.
Pada hari kemerdekaan, sudah pasti.Remisi khusus akan mereka peroleh pada setiap hari besar keagamaan.Belum lagi remisi kemanusiaan, kalau sang Narapidana sakit atau berusia lanjut.Belum lagi remisi tambahan, kalau dianggap berjasa kepada negara atau lapas.
Karena itu, tak perlu susah payah mencari jawaban mengapa korupsi itu masih terus merajalela***
