Oleh: Widi Garibaldi
MANAKALA Anda termasuk generasi “Y” atau “X”, tentu masih ingat ketika Bandung dan sekitarnya, setiap hari diselimuti oleh debu. Jarak pandang tak lebih dari 1 meter. Rumah dan kendaraan percuma dibersihkan karena hujan debu akan mengotorinya kembali dalam hitungan detik. Peristiwa itu terjadi 44 tahun yang lalu, ketika gunung Galunggung di kabupaten Tasikmalaya, batuk batuk hingga 9 bulan lamanya.
Peristiwa yang terjadi dari tanggal 5 April 1982 hingga 8 Januari 1983 itu nyaris mengakibatkan terjadinya kecelakaan udara dramatis.Sebuah pesawat Boeing 747 British Airways yang sedang berada di ketinggian 37.000 kaki,pada tanggal 24 Juni 1982, ke-4 mesin jetnya tiba-tiba mati total.
Tanpa mesin,pesawat melayang semakin rendah. Ternyata debu Galunggung terhirup mesin pesawat ketika melintasi awan yang penuh dengan lontaran erupsi gunung yang terletak di desa Linggajati, kecamatan Sukaratu Tasikmalaya itu. Untunglah di ketinggian 25.000 kaki, para pilot yang cekatan berhasil menghidupkan kembali mesin dan pesawat berhasil mendarat di bandara Soekarno-Hatta.
Peristiwa lebih dahsyat terjadi hampir satu setengah abad yang lalu.Tatkala gunung Karakatau yang terletak di selat Sunda itu memuntahkan isi perutnya, abu vulkanik menutupi seluruh atmosfir Bumi. Air laut menerjang setiap kehidupan, sejauh apapun dari bibir pantai.Puluhan kampung, rata dengan tanah.
Kapal-kapal besar terdampar jauh di daratan. Gulungan ombak itulah yang dikenal sebagai tsunami. Tingginya, bukan kepalang. Hingga 40 meter ! Tak mengherankan kalau korban jiwa sampai 36.000 yang melayang.
Ulah anaknya
Setelah membuat dunia gelap gulita, gunung Karakatau yang telah memuntahkan isi perutnya itu menjelma menjadi gunung baru yang kemudian dikenal sebagai anak Karakatau.Setiap tahun, anak Karakatau itu tumbuh setinggi 5 meter. Setiap melalui Selat Sunda, pasti kita tak sanggup mengusik rasa kagum menyaksikan keindahan gunung ini dari kejauhan.
Ternyata, anak Karakatau ini adalah gunung yang “nakal”. Setiap tahun, dia batuk , memuntahkan lahar. Erupsi terparah, terjadi pada tanggal 22 Desember 2018. Terjadi lagi tsunami hebat. Tak kurang dari 400 orang menjadi korban.Menemui ajal.
Dalam beberapa hari ini, anak Karakatau tadi mulai lagi batuk-batuk. Belum terlalu parah. Tapi cukup membuat kita repot. Banyak bandar udara menghentikan operasinya. Termasuk bandara Husein Sastranegara di kota Bandung yang digadang gadang akan digantikan oleh bandara Kertajati, Majalengka.
Malangnya, bandara internasional yang diresmikan pada bulan Mei 2018 ini ternyata kini merupakan contoh nyata dari studi kelayakan yang asal-asalan. Rp2,6 triliun uang rakyat dihambur hamburkan hanya untuk konstruksi fisiknya saja. Belum lagi soal pembebasan lahan dan sebagainya.
Sekarang, Kertajati amat jarang didarati pesawat dan kabarnya akan diubah fungsinya menjadi bengkel. Itupun kalau pihak AS yang punya rencana akan memanfaatkan Kertajati sebagai bengkel pesawat Hercules, benar-benar tak menjadikannya sekedar sebagai siasat untuk mencampuri urusan negara lain.
Memang, kita – pemerintah maupun rakyat – harus senantiasa waspada menghadapai ancaman apapun. Ancaman yang datang dari alam seperti gunung Karakatau maupun ancaman berupa campur tangan dari negara asing.***
