ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari menjadi perhatian masyarakat. Fenomena tersebut kemudian dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung di Selat Sunda.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan hasil analisis data magnet bumi, petir, dan dinamika atmosfer mengarah pada aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai sumber fenomena tersebut.
Pakar akustik lingkungan dari Kelompok Keahlian Rekayasa Kinerja Lingkungan Binaan, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (FTI ITB), Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., menjelaskan suara dari satu sumber tidak selalu terdengar dengan tingkat kekuatan yang sama di setiap wilayah.
ADVERTISEMENT
“Suara yang berasal dari satu sumber belum tentu diterima dengan tingkat kekerasan yang sama di setiap tempat. Dalam perambatannya, suara dipengaruhi jarak, kondisi atmosfer, angin dan temperatur, kontur permukaan, hingga keberadaan bangunan atau penghalang di antara sumber dan penerima,” ujar Sugeng, Senin (7/9/2026).
Menurut Sugeng, jarak menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat suara. Dalam kondisi ideal, tingkat tekanan suara atau sound pressure level (SPL) pada sumber titik dapat berkurang sekitar 6 desibel ketika jarak dari sumber menjadi dua kali lipat.
Namun, kondisi lingkungan membuat pola perambatan suara tidak selalu mengikuti kondisi ideal.
“Jarak memang menjadi salah satu faktor utama, tetapi bukan satu-satunya. Karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa lokasi yang lebih dekat pasti selalu mendengar lebih keras, sementara lokasi yang lebih jauh pasti lebih lemah,” katanya.
Selain jarak, kondisi atmosfer turut memengaruhi arah dan jangkauan suara. Perbedaan temperatur serta kecepatan angin pada ketinggian berbeda dapat menyebabkan gelombang suara mengalami refraksi atau pembelokan.
“Atmosfer itu bukan medium yang sepenuhnya seragam. Perubahan kecepatan angin dan temperatur terhadap ketinggian dapat membuat lintasan suara membelok,” ujar Sugeng.
Kondisi tersebut memungkinkan wilayah yang memiliki jarak hampir sama dari sumber menerima tingkat suara yang berbeda.
Sugeng juga menjelaskan kondisi atmosfer pada malam hari dapat membuat suara tertentu lebih mudah terdengar di permukaan.
“Pada malam hari dapat muncul kondisi atmosfer yang membuat suara lebih banyak dibelokkan kembali ke dekat permukaan tanah. Dalam kondisi seperti itu, suara tertentu bisa terdengar lebih jelas atau menjangkau lokasi yang lebih jauh,” katanya.
Ia menegaskan, kondisi atmosfer pada malam hari bukan penyebab munculnya suara, melainkan memengaruhi bagaimana suara yang sudah dihasilkan sumber merambat menuju penerima.
Selain atmosfer, kontur wilayah, bangunan, dan vegetasi juga dapat memengaruhi perambatan suara. Gelombang suara dapat mengalami pemantulan maupun difraksi ketika melewati penghalang.
Suara berfrekuensi rendah dengan panjang gelombang lebih besar relatif dapat berdifraksi lebih jauh di sekitar penghalang dibandingkan suara berfrekuensi tinggi. Kondisi ini membuat suara masih dapat terdengar meski jalur langsung antara sumber dan pendengar terhalang.
Sugeng mengingatkan masyarakat agar tidak menentukan sumber dentuman hanya berdasarkan persepsi pendengaran.
“Kalau seseorang merasa suaranya sangat keras atau merasa datang dari arah tertentu, informasi itu tetap berguna. Tetapi untuk menentukan sumbernya, tidak cukup hanya berdasarkan persepsi pendengaran. Perlu dikombinasikan dengan waktu kejadian, data pengukuran, kondisi meteorologi, dan data dari instrumen pemantauan lainnya,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat mencatat waktu dan lokasi apabila suara serupa kembali terdengar. Masyarakat juga dapat mencatat arah datang suara, jumlah atau pola dentuman, serta kondisi lingkungan saat kejadian.
Jika memungkinkan dan tetap aman, rekaman audio atau video juga dapat digunakan sebagai dokumentasi tambahan.
“Semakin banyak informasi yang memiliki catatan waktu dan lokasi yang jelas, semakin baik untuk dibandingkan dengan data lain. Yang penting, masyarakat tidak perlu terburu-buru menyimpulkan sumber suara hanya berdasarkan keras-lemahnya suara yang terdengar di satu lokasi,” katanya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






