ADVERTISEMENT
Fitri Annisa Rachmah
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi-Universitas Padjadjaran & Dosen Ilmu Komunikasi-International Women University.
ADVERTISEMENT
Intensitas penggunaan sosial media sebagai wadah ekspresi diri bagi seorang individu di era digital saat ini bukan lagi hanya sekedar untuk mengucapkan selamat ulang tahun, update kegiatan harian ataupun sharing perjalanan liburan saja.
Kini linimasa digital telah berubah menjadi ruang tepat individu menumpahkan kegelisahan, mengungkapkan kemarahan, membagikan pencapaian bahkan seringkali mereka menceritakan luka yang bahkan belum tentu diketahui oleh orang-orang terdekatnya.
Kita dengan sangat mudah menemukan sebuah postingan dengan tema kehilangan, terluka, berduka atau bahkan cerita tentang pencapaian dengan tajuk “seporsi kemenangan hari ini…”.
Tipikalitas sosial media yang memberikan ruang bagi kita untuk bebas mendeliveri perasaan pada saat kejadian secara realtime, menjadikan media sosial saat ini memiliki fungsi secara ruang dan waktu untuk menvalidasi kondisi hati pengguna.
Cara para pengguna memilih kata, memberikan respon terhadap isu sosial, menanggapi kolom komentar, hingga membagikan rutinitas harian mereka menjadi potongan-potongan cerita untuk kemudian membentuk identitas yang tersusun rapi dalam ruang digital.
Fenomena tersebut menggelitik saya sebagai seorang akademisi untuk mempertanyaan, mengapa seseorang bisa jauh lebih terbuka dalam ruang sosial media mereka dibandingkan ketika berbicara secara langsung?
Keyakinan terbesar dalam benak saya tentu tidak sesederhana “karena ingin viral” semata atau “pansos untuk mencari perhatian”, namun lebih daripada itu, dalam proses pengamatan yang saya lakukan ketika berselancar dengan bebas di sosial media, saya melihat proses secara psikologi dan tentu saja secara komunikasi yang bekerja secara simultan di balik layar.
Dunia Digital Mendorong Kita Untuk Lebih Berani Membuka Diri?
Pakar Psikologi John Suler pada tahun 2004, memperkenalnan konsep Online Disinhibition Effect, sebuah teori yang berbicara bahwa seseorang cenderung menunjukan perilaku yang lebih bebas ketika berinteraksi di internet dibandingkan saat bertemu secara langsung.

Dalam kontek komunikasi tatap muka, manusia secara intensif membaca ekspresi lawan bicara. Kita melihat tatapan mata, perubahan mimic wajah, memahami nada suara dan bahkan jeda dalam percakapan yang dimana semua itu menjadi sinyal sosial yang membuat kita lebih berhati-hati dalam berbicara.
Sebaliknya, sosial media menghilangkan sebagian besar sinyal tersebut. Yang tersisa hanyalah layar, teks, visual foto, tombol unggah dan tentu saja respon ekspres seperti likes, comment, reshare, saved dan fitur validasi lainnya.
ketika hambatan sosial berkurang, seseorang akan merasa memiliki ruang yang lebih aman untuk mengatakan hal-hal yang selama ini mereka pendam. John Suler, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perasaan anonym, tidak adanya kontak fisik secara langsung, komunikasi yang berlangsung secara asynchronous hingga kecenderungan memandang lawan bicara hanya sebagai representasi digital.
Semua faktor inilah yang membuat seseorang cenderung merasa lebih lepas dalam mengekspresikan dirinya.
Sosial Media menjadi Ruang Pengungkapan Diri
Sosial media selama bertahun-tahun mendapatkan kesan sebagai panggung pencitraan. Kritik tersebut tidak sepenuhnya salah.
Akan tetapi, melihat sosial media hanya sebagai ruang pamer sama saja dengan kita mengabaikan fungsi lainnya yang lebih subjektif, atau sebagai ruang personal dengan makna subjektif penggunanya.
Banyak orang menggunakan sosial media sebagai ruang untuk memproses pengalaman hidupnya, menjadi saksi, mencatat keresahannya dalam format digital diary.
Dalam perspektif komunikasi, tindakan tersebut merupakan bentuk keterbukaan diri. Jika dahulu keterbukaan hanya bersifat intim, diberikan pada keluarga atau sahabat dekat, namun kini batas tersebut menjadi lebih fleksible.
Tipikalitas audiens sosial media bisa terdiri dari teman lama, rekan kerja, komunitas, anonym, atau bahkan ribuan pengikut lainnya yang belum pernah ditemui secara langsung. Ironinya, sebagaian pengguna lebih nyaman bercerita atau bahkan memberikan keterbukaan informasi terkait perasaan, achievement, duka, atau kebahagiaannya pada pada ‘stranger’ di dunia maya dibandingkan kepada orang-orang terdekat yang ditemui sehari-hari, hal ini ditenggarai untuk meminimalisir reaksi justifikasi yang diberikan secara langsung dan tatap muka.
Jejak Digital Merekam Biografi kita
Sebagaimana kita ketahui bahwasannya, algoritma secara diam-diam namun pasti belajar mengenali siapa kita. Bukan hanya apa yang kita sukai, kita tonton saat scrolling, kebiasaan belanja, pola tidur, bahkan kondisi emosional kita.
Sosial media bekerja seperti cermin perlahan merekam dan merefleksikan kepribadian seseorang, apa yang hari ini diunggah bisa muncul kembali bertahun-tahun kemudian dalam konteks yang sangat berbeda dengan kondisi saat awal diunggah.
Berkaca pada fenomena Dwi Sasetyaningtyas atau para netizen menyapanya dengan Mbak Saset, yang bersangkutan viral dan secara singkat mendapatkan justifikasi sosial atas statementnya yang mengatakan :
“Cukup saya saja yang WNI anak saya jangan”
Statement yang kemudian menjadi buah simalakama bagi Mbak Saset, sebagai seorang Awardee LPDP untuk studi Doktoralnya yang bersumber dari pajak masyarakat dan dikelola oleh Kementrian Keuangan untuk kemudian digunakan dalam program beasiswa sosok muda harapan bangsa untuk bisa mengenyam Pendidikan tertinggi.
Mbak Saset yang saat itu dalam pandangan pribadi saya mengeluarkan statement tersebut sebagai bentuk ekspresi diri, namun Mbak Saset lupa bahwa sosoknya bukanlah ‘warga biasa’ dalam ranah sosial media, statusnya sebagai entrepreneurship muda, penggagas ekonomi hijau dan Awardee menjadi timpang dan dianggap melanggar etika kepercayaan masyarakat.
Dalam pandangan Online Disinhibition Effect, kejadian ini disebut sebagai Benign Disinhibition, yaitu sebuah fenomena keterbukaan yang membawa dampak positif. Orang atau pengguna menjadi lebih berani dalam meminta bantuan, mengekpresikan pendapat, berbagi pengalaman hidup, memberikan dukungan atau pengungkapan emosi yang selama ini dipendam.
Namun di sisi lain, kacamata Toxic Disinhibition juga perlu digunakan untuk melihat reaksi yang ditimbulkan dari statement yang dilontarkan. Ketika seseorang merasa dilindungi oleh layar gadget mereka, sebagian dari mereka memiliki kecenderungan untuk mudah menghina, menghakimi, menyebarkan ujaran kebencian, menyerang karakter orang lain atau membocorkan informasi pribadi mereka tanpa memikirkan dampak yang akan datang.
Fenomena ini menjelaskan bagaimana seseorang yang dikenal sosok yang santun dalam kehidupan nyata bisa berubah 180o menjadi sangat agresif ketika berada di kolom komentar atau penyajian kontennya. Layar memberikan jarak emosional yang seringkali pada akhirnya membuat empati kita turun.
Orang lebih mudah mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah diucapkan apabila berhadapan langsung dengan lawan bicaranya. Besarnya dampak yang ditimbulkan yang mungkin saja diluar kuasa kita sebagai manusia, menambah pertanyaan baru: “Lantas bagaimana langkah penanggulangan yang perlu kita lakukan apabila semua ini terlanjur terjadi?”
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






