ADVERTISEMENT
Oleh: Widi Garibaldi
Dua puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya tanggal 12 Mei, tragedi Trisakti terjadi sebagai puncak demonstrasi mahasiswa yang turun ke jalan dengan tujuan mengakhiri pemerintahan Presiden Soeharto yang sudah 32 tahun berkuasa.
Aksi damai mahasiswa dibalas tembakan tembakan peluru tajam oleh aparat keamanan. Akibatnya, 4 mahasiswa gugur.
Puluhan ribu mahasiswa turun ke jalan menuntut reformasi total agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya yang dipenuhi praktik praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Harga bahan pokok yang terus menerus mencekik ibu rumah tangga tak mampu dibendung oleh Soeharto yang lebih sibuk mengurus kepentingan keluarganya sendiri.
ADVERTISEMENT
Mengapa puluhan ribu mahasiswa harus turun ke jalan ? Karena saluran demokrasi sudah tersumbat total. Para “Wakil Rakyat” yang ditunjuk oleh Soeharto menjelma menjadi “tukang stempel” dan “pemukul gong” setiap keputusan yang diambil oleh Jenderal besar Berbintang lima itu.
Akhirnya, Gedung MPR/DPR yang dibangun oleh Ir.Sutami, tempat bersemayam para wakil rakyat itu diduduki oleh puluhan ribu mahasiswa. Dengan dukungan rakyat, pendudukan gedung parlemen yang dianggap sebagai peristiwa monumental, mengakhiri pemerintahan Suharto yang otoriter.
Belajar dari Sejarah
Kondisi 28 tahun yang lalu, tentu bisa saja terulang kembali manakala tak ditanggapi serius oleh pemerintah.
Harga kebutuhan sehari hari yang terus meroket, dipicu oleh harga Pertamax, dinaikkan diam-diam oleh pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto yang dikenal sebagai menantu Presiden Soeharto yang berhasil digulingkan oleh para mahasiswa 28 tahun yang lalu.
Pemborosan uang rakyat yang terjadi, tak ubahnya seperti yang dapat disaksikan rakyat hampir 30 tahun yang lalu. MBG, makan bergizi gratis, menghabiskan uang rakyat ratusan triliyun, karena dikelola serampangan, walau tujuannya mulia.
Upaya memberi makanan bergizi untuk puluhan juta anak bangsa, akhirnya menjadi cemoohan karena dikelola “semaunya”. Dana yang berlimpah, sejak semula memang dijadikan bancakan oleh pimpinannya.
Banyaknya “tikus – tikus” yang tertangkap menjadi pertanda bahwa pemerintahan memang dikuasai oleh pejabat-pejabat yang “bertangan kotor.
Dalam keadaan demikian, memang sulit mengharapkan perekonomian yang diwariskan oleh Soeharto dapat ditangani dengan memenuhi kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan dalam Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945
Itulah sebabnya para mahasiswa sangat mengharapkan agar Prabowo yang Presiden RI ke-8 tidak meniru apa yang dikerjakan oleh mertuanya. Begitu besarnya harapan itu, menyebabkan perjalanan bolak baliknya ke luar negeri-pun, mendapat protes keras.
Mengapa para mahasiswa kembali turun ke jalan, terulang kembali akibat tersumbatnya saluran demokrasi di Lembaga Legislatif Senayan. 80 % “Wakil Rakyat” yang sudah ada dalam genggaman Prabowo,menjadikan Lembaga itu sebagai “Pemukul Gong” belaka.
Nah,contoh yang jelas sudah diperlihatkan oleh Yang Maha Kuasa kepada Prabowo. Tinggal pilih. Akan mengulangi sejarah mertuanya atau akan menorehkan sejarah negara ini dengan “tinta emas” ?***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





