ADVERTISEMENT
Oleh: Widi Garibaldi
Masih ingat dengan anggota Polri yang bernama Firli Bahuri ? Tentu. Dia, bukan anggota Polisi sembarangan. Ada 3 bintang di pundaknya. Itu menandakan ia berpangkat Komisaris Jenderal. Satu bintang lagi untuk menjadi Jenderal penuh ! Sayang, tatkala memegang jabatan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ia tak mengindahkan nama baik corps-nya yang tercemar. Pada tahun 2021, ia dituduh memeras Menteri Pertanian SYL.Bahwasanya bukti-bukti, cukup memperkuat tuduhan itu, menjadikan dia pada tanggal 22 November 2023 sebagai tersangka. Kendati demikian, sudah lebih dari 2 tahun berlalu, statusnya tak pernah beranjak. Tetap sebagai Tersangka !
Lain lagi cerita anggota Polisi yang bernama Teddy Minahasa. Ada 2 bintang yang bertengger di pundaknya.Maklum ia mengepalai anggota Polisi di suatu daerah provinsi. Ketika membawahi Polda Sumatra Barat, ia terlibat perkara obat-obataan terlarang. Sebagai seorang Jenderal ia memerintahkan anak buahnya untuk menyisakan 5 kilo gram Metamfetamin yang dikenal dengan istilah sehari hari sabu, ketika akan dimusnahkan. Karena berbentuk kristal putih dan tidak berbau, sabu itu ia tukar dengan tawas yang wujudnya hampir serupa. Nah, sabu seberat 5 kg sebagai hasil penukaran dengan 5 kg tawas itu, ia jual. Jenderal Polisi itu tak hirau berapa puluh ribu anak bangsa yang akan menjadi korban akibat perbuatannya. Pokoknya, ia berhasil mengantongi tak kurang dari Rp300 juta.
Polisi yang militeristik
Sosok Firli Bahuri dan Teddy Minahasa memang merupakan sosok buram dari wajah kepolisian kita dewasa ini. Kalau yang berpangkat jenderal saja sudah demikian ulahnya, apalagi bawahannya. Lalu, masyarakat ingat pepatah “ guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Tak mengherankan kalau banyak cerita tentang pemerasan-pemerasan yang dilakukan oleh mereka yang berseragam coklat itu. Bila Anda lapor kehilangan kambing, siap-siaplah akan kehilangan sapi. Begitu pula dengan peredaran Narkoba yang semakin luas, kendati Media berulangkali menyiarkan berita keberhasilan Polisi menangkap Bandar dan Pengedarnya. Bagaimana mungkin peredaran narkoba dihentikan kalau narkoba yang tertangkap diedarkan kembali untuk dijual kemudian ditangkap kembali ?
ADVERTISEMENT
Gambaran Polisi di benak Masyarakat itu memang tak pernah dihiraukan dengan sungguh-sungguh oleh Pimpinan Polri.Mereka sibuk mematut diri agar menyamai ujud militer yang diperlengkapi senjata serbu dan kendaraan berlapis baja. Rupanya, pengertian tugas di bidang keamanan negara sudah dikaburkan dengan tugas di bidang pertahanan.
Kerancuan inilah yang kelihatannya akan dibenahi oleh Komisi Percepatan Reformasi Polri yang baru-baru ini telah menyerahkan hasil kerjanya kepada Presiden.Begitu banyak dan luasnya kepincangan-kepincangan yang diamati oleh Komisi yang kemudian mereka rangkum dalam 10 buku berisi 3.000 halaman yang mencakup aspek struktural, kultural dan instrumental.
Mengharap hasil kerja Komisi segera dilaksanakan dan wajah Polri kita akan membaik mulai HUT ke 80 tanggal 1 Juli mendatang ? Nah, itu namanya “menggantang-gantang asap”. Itu semua, tergantung Presiden***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






