0leh : Prof. A. Maman Djauhari
Saat ini adalah kesempatan emas bagi Presiden Prabowo. Kesempatan yang tak terkira nilainya dan tidak akan pernah datang lagi. Kesempatan apa? Kesempatan menggandeng, mengajak, dan memimpin semua anak bangsa dalam meraih Nobel Prize untuk dipersembahkan sebagai hadiah Ulang Tahun Emas Republik Indonesia (kita singkat saja UTERI) pada 2045 yang tinggal belasan tahun lagi.
Saat ini persiapan merayakan UTERI pada tahun 2045 telah terasa geloranya. Namun, kita patut bersikap bijak. Tahun itu bukan tahun Indonesia Emas akan tetapi tahun di mana Republik Indonesia (RI) berulang tahun emas (keseratus tahun). Narasi “Indonesia Emas” adalah salah kaprah, yang didengungkan oleh mereka yang berniat melakukan political engineering dengan maksud mengelirukan rakyat. Sama kelirunya dengan narasi “Saya Pancasila” dan “Saya NKRI”.
Saat ini kita berada jauh sekali dari pintu gerbang menuju era Indonesia Emas. Perlu kita fahami bersama bahwa bangsa ini akan tetap sulit memasuki era Indonesia Emas selama,
1.Kualitas pendidikan kita masih jauh di bawah kualitas pendidikan kelas dunia (world class), dan
2.Meritokrasi tidak dijadikan panglima dalam seluruh sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.
Walaupun begitu, saya yakin, saat ini banyak anak bangsa yang brilliant dan berkelas dunia yang mau dan mampu menyiapkan generasi peraih Nobel Prize untuk menyambut UTERI.
Oleh karena itu, besar sekali harapan saya Presiden Prabowo berkenan menggandeng, mengajak, dan memimpin mereka dalam sebuah gerakan nasional meraih Nobel Prize untuk dipersembahkan sebagai hadiah UTERI tahun 2045. Jejak-jejak saintifik mereka ada di berbagai international scientific database (ISDs) yang berkelas.
Sungguh saya prihatin yang amat dalam apabila menengok Pakistan yang memiliki 2 peraih Nobel Prize, Bangladesh dengan 1 peraih Nobel Prize, atau bahkan Timor Leste yang juga memiliki peraih Nobel Prize.
Akibat salah baca
Menurut International IQ Test tahun 2026, IQ rata-rata nasional kita adalah 89,96 (peringkat 126 dunia). Angka dan peringkat ini turun dari tahun sebelumnya yakni 93,18 (peringkat 98 dunia). Sumber: https://international-iq-test.com/en/test/IQ_by_country (diunduh 02/04/2026).
Mengapa angka-angka itu begitu menyeramkan? Karena hingga kini kita belum serius melaksanakan amanat konstitusi “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Memang benar, usia kemerdekaan RI sudah sebaya dengan usia manusia yang sangat mapan baik dalam AQ, IQ, EQ maupun dalam SQ. Namun, kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara masih seperti anak remaja usia 15 – 17 tahun.
Saya melihat, salah satu sumber masalah crucial yang kita hadapi selama ini ada pada kekeliruan kita dalam menafsirkan amanat konstitusi tersebut di atas. Amanat yang tersurat memang begitu bunyinya. Namun, kalau kita telaah konteksnya, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa amanat yang tersirat adalah “mencemerlangkan kehidupan bangsa” bukan sekadar “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Kata “cemerlang”, maksudnya adalah cemerlang di antara bangsa-bangsa berperadaban maju.
Mencerdaskan kehidupan bangsa mah jauh lebih mudah ketimbang mencemerlangkan kehidupan bangsa. Tidak diragukan, dengan semakin banyak Doktor dan Guru Besar, bangsa kita semakin cerdas. Tapi, mengapa kita tidak juga cemerlang? Jawabannya karena imajinasi kita belum sampai menjangkau kesana sehingga sebagai bangsa, kita abai dan lalai dalam meraih kecemerlangan bangsa.
Bahkan, sangat mungkin, kita belum faham bahwa indikator kecemerlangan bangsa ada di arena GIR (Global Intellectual Racing). Bangsa yang kehidupannya cemerlang adalah bangsa yang mampu memasuki gelanggang GIR sebagai peserta terpandang. Di arena ini, Nobel Prize (dan sejenisnya) adalah wujud puncak prestasi.
Mendaki sampai puncak
Nobel Prize adalah showroom yang menampilkan, kepada dunia, kecemerlangan intelektual dan kecemerlangan pendidikan anak bangsa. Bagaimana cara meraihnya? Langkah pertama, optimalkan fungsi otak dan fungsi matahati setiap anak bangsa. Lalu, langkah kedua, berstrategi. Ketiga, jangan salah berguru. Dan terakhir, keempat, jadilah peserta terpandang di gelanggang GIR.
Di bawah ini strategi (langkah kedua) yang saya sarankan. Adapun saran untuk ketiga langkah lainnya kita simpan untuk lain kesempatan.
1. Kita mulai dengan membangun Gen-G, yakni generasi anak bangsa yang bermain di arena global dalam bidang STEM. Gen-G adalah pra-kondisi sebelum membangun Gen-N yakni generasi (calon) peraih Nobel Prize.
2. Pilihlah hard science dan soft technology sebagai playgrounds Gen-G dan Gen-N. Alasannya, kedua playgrounds ini hanya memerlukan divine faculty yang inherent dalam diri setiap anak bangsa (ketajaman pikiran, keluasan imaginasi, dan kepiawaian akal); biaya risetnya murah dan eksperimennya pun tidak memerlukan peralatan canggih.
3. Fokuslah pada bidang Ekonomi; sesuai dengan Butir 2, bidang ini adalah yang paling menjanjikan dalam upaya meraih Nobel Prize.
Jangan salah berguru
Maksudnya, tentu berguru kepada para Nobelists bidang ekonomi. Caranya dengan mempelajari jejak-jejak mereka, mengambil pelajaran dari jejak-jejak itu, lalu kemudian menjadi peserta GIR.
Sepanjang jejak-jejak mereka itu dapat kita saksikan bahwa,
1. Riset yang berkelas Nobel Prize adalah breakthrough research untuk kemanfaatan umat manusia. Riset ini berada di ranah fundamental research, a.k.a. research for advancement (R&A), bukan di ranah research for development (R&D) atau yang lainnya.
2. Kemampuan menggunakan divine faculty secara optimal diperlukan untuk melakukan R&A. Sayangnya, sebagai bangsa, kita kerap memubazirkan fungsi otak dan fungsi matahati. Kita masih jauh dari optimal dalam menggunakan kedua divine faculties itu dalam berpikir, berimaginasi, dan berakal.
Catatan:
Otak adalah tempat kita mengasah pikiran dan menajamkan akal. Sedangkan matahati berfungsi melatih memperluas jangkauan imaginasi. Pikiran memungkinkan manusia mampu MELIHAT TANDA-TANDA adanya pelajaran pada setiap fenomena alam. Sedangkan matahati memungkinkan manusia mampu MENYAKSIKAN KEBERADAAN pelajaran tertentu. Adapun akal adalah fakulti manusia yang berfungsi MENGAMBIL pelajaran itu.
Bidang Ekonomi sebuah rekomendasi
Jejak-jejak para Nobelists Jean Baptiste Perrin, Paul Samuelson, Robert Frederick Engle III, dan Clive Granger patut dijadikan referensi utama apabila kita berkeinginan serius membangun Gen-G dan Gen-N.
Riset keempat Nobelists itu sungguh sangat inspiratif. Mereka membuktikan bahwa Nobel Prize bisa diraih melalui riset dengan dana yang amat murah. Yang diperlukan adalah ketajaman pikiran, keluasan imaginasi, kepiawaian akal, dan jiwa patriot; atau jiwa kejuangan dalam memberikan kontribusi terbaik untuk umat manusia.
Oleh karena itu, dalam upaya meraih Nobel Prize untuk dipersembahkan sebagai hadiah UTERI, saya rekomendasikan;
1. Pilihlah bidang ekonomi, karena manfaatnya memiliki jangkauan yang amat sangat luas dan biaya riset pun sangat murah. Selanjutna, tempuhlah jalur fundamental research di ranah mathematics dan/atau statistical science dengan orientasi kepada riset terobosan (R&A).
2. Tirulah Jean Perrin, yang meraih Nobel Prize tahun 1926 berkat karyanya yang memberikan BUKTI eksperimental akan kebenaran teori Albert Einstein (1905) tentang proses Brownian Motion (BM). Proses ini diperkenalkan oleh Robert Brown (1827). Catatan: Teori Einstein itu kemudian direvisi oleh Louis Bachelier menjadi Geometric BM sehingga Bachelier mampu menjelaskan fenomena yang terjadi di bidang financial economics. Akhir abad ke-20, Bachelier lahir sebagai Bapak Matematika Finansial.
3. Tirulah pula Paul Samuelson, peraih Nobel yang pertama bidang Ekonomi (1970). Karyanya membuat Ekonomi menjadi ilmu yang sangat MATEMATIS; lebih predictable. Bukunya, “Foundations of Economic Analysis” yang terbit 1947, menjadi standar dalam analisis ekonomi secara matematis, khususnya kalkulus dan persamaan diferensial.
4. Begitu pula, tirulah Robert Frederick Engle III yang meraih Nobel Prize tahun 2003. Karyanya berupa MODEL STATISTIK (tepatnya model ARCH) untuk menjelaskan volatility yang berubah dari waktu ke waktu.
5. Jangan lupa pula untuk meniru Clive Granger, peraih Nobel Prize tahun 2003. Karya dia juga berupa MODEL STATISTIK; model kointegrasi dan model pengujian hipotesis dalam model ARCH.
PENUTUP
Membuat model matematik dan/atau model statistik untuk menjelaskan fenomena ekonomi adalah jalan toll yang amat menjanjikan bagi anak bangsa dalam meraih Nobel Prize.
Untuk itu, syarat yang harus dimiliki adalah kemampuan membangun sinergi antara otak dan matahati. Latihan mencapai kemampuan ini sepatutnya dijadikan menu oleh setiap lembaga pendidikan, dari SDa (Sekolah Dasar) s/d SDo (Sekolah Doktor).
Sayangnya, siswa dan juga mahasiswa lebih suka melewatkan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat ketimbang melatih kemampuan tersebut di atas. Saya khawatir, perilaku seperti itu adalah resultante dari praktik pendidikan informal di kelas terbuka kehidupan bangsa.
Itulah sebabnya, adalah keharusan bagi kita semua terutama para pejabat untuk menjadi guru bangsa dan sekaligus murid yang cerdas dari setiap anak bangsa.
Apabila hari ini kita mulai membangun Gen-G dengan serius, diharapkan awal dekade 2030an sudah lahir Gen-N sehingga sebelum 2045 ada anak bangsa yang meraih Nobel Prize.
Just my 2 cents to engineer the future of Indonesia.
Maman A. Djauhari (Pensiun dari ITB tahun 2009)
1.Activist in scientific knowledge production (kata UNESCO dan kata AEGIS; Australian Experts Group in Industry Studies)
2.Gold Medal Awardee for outstanding contribution in Statistics, conferred by ISOSS (Islamic Countries Society of Statistical Sciences) 05/04/2026 ***
