Oleh: Widi Garibaldi
Sebentar lagi, kita akan merayakan hari kemenangan. Kemenangan, setelah berjuang sebulan penuh melawan hawa nafsu. Melawan diri sendiri.
Jadi sebenarnya, hakekat Idul Fitri itu adalah kemenangan spiritual, setelah berhasil berjuang sebulan penuh mengendalikan hawa nafsu yang senantiasa bergejolak di dalam jiwa manusia. Kita merayakan kemenangan setelah berhasil berjuang melawan keserakahan. Kita merayakan kemenangan setelah berhasil melawan aneka kebohongan. Selama sebulan penuh, kita ditempa agar menjadi manusia yang sabar. Manusia yang jujur. Manusia yang tidak serakah. Manusia yang menyadari mana haknya dan mana hak orang lain. Pokoknya, dengan berpuasa sebulan penuh, kita diharapkan menjadi orang yang suci.
Malangnya, hakekat berpuasa itu justru mendapat pemahaman yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Iedul Fitri dianggap sebagai saat melampiaskan hawa nafsu.Saat berhura-hura. Pemahaman yang salah ini justru berkembang luas di kalangan pemerintahan. Bupati Cilacap Syamsul Aulya Rachman ditangkap karena memeras bawahannya.Setiap perangkat daerah diwajibkannya memberi setoran hingga Rp100 juta, dengan alasan pak Bupati butuh THR. Selain untuk diri sendiri, “tunjangan hari raya” yang jumlahnya lebih dari ½ miliar itu, diperuntukkan pak Bupati untuk orang-orang yang dikehendakinya.
Lain lagi cerita Bupati Pekalongan.Bukan Bapak, tapi Ibu Bupati. Fadila Arafiq namanya. Ia dikenal sebagai penyanyi dangdut. Ia sendiri mengku tak faham akan aturan-aturan birokrasi pemerintahan. Tetapi dalam kenyataannya, ia piawai benar mengatur agar PT Raja Nusantara Berjaya, perusahaan keluarga yang didirikannya selalu memenangi tender yang diadakan di lingkungan pemerintahan kabupaten Pekalongan. Caranya, Perusahaan yang dipimpin oleh suami dan anak ibu Bupati itu selalu dapat memberi penawaran mendekati HPS karena setiap perangkat daerah diwajibkannya menyerahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Dengan cara demikian puluhan miliar rupiah berhasil masuk kantong keluarga ibu Bupati.
Operasi menjelang Lebaran
Memang, sejak dulu KPK selalu meningkatkan operasinya menjelang lebaran. Momen Lebaran ditengarai merupakan peningkatan aktifitas mencari tambahan penghasilan kendati melanggar peraturan. Rupanya Iedul Fitri tidak dimaknai sebagai kemenangan melawan godaan sebagai orang nomor satu di suatu daerah tetapi dijadikan alasan untuk dapat mengumbar nafsu. Nampaknya, makna puasa tak punya arti apa-apa bagi para pejabat negara yang melakukan korupsi itu.Mengacu kepada statistik KPK, dalam dua dekade terkahir ini saja sudah lebih dari 200 Kepala Daerah yang harus menjadi penghuni hotel prodeo Sukamiskin. Mereka itu terdiri dari 30 orang nomor satu di provinsi, alias Gubernur. Jumlah Walikota dan Bupati yang bernasib sama, tak kurang dari 171 orang. Rupanya “pelajaran” yang diberikan oleh Gubernur Aceh, A.Puteh sebagai pejabat negara pertama yang ditekuk oleh KPK telah meresap di hati sanubari para pejabat itu.
Tidaklah mengherankan kalau indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia tahun yang lalu terus merosot karenanya. Menurut Transparancy International (TI), IPK Indonesia merosot ke skor 34 dari skala 100.Turun 3 angka dari tahun sebelumnya.Dibanding 180 negara yang diteliti, negara tercinta ini menempati peringkat ke 109. Memalukan, karena berada di bawah negara Timor Leste.
Melihat kenyataan bahwa korupsi merupakan penyakit bawaan pejabat kita sejak negara ini merdeka.penyanyi dan pelawak Bing Slamet pernah menyindir tajam lewat senandungnya menjelang lebaran dengan ucapan “selamat para Pemimpin….rakyatnya makmur terjamin ! “***
