ADVERTISEMENT
Oleh : Widi Garibaldi
Perang Dunia pertama yang membakar Bumi ini sejak tahun 1914 hingga 1918 sebenarnya “hanya” dimulai dengan aksi pembunuhan sebagai gara-gara. Putera Mahkota Austria-Hungaria, Franz Ferdinand beserta permaisurinya Sophie, terbunuh di kota Sarajevo pada tanggal 28 Juni 1914. Pembunuhnya seorang nasionalis Serbia.Pembunuhan yang menimbulkan bara itu segera menyala menjadi lidah api yang menjilat dahsyat ketika dunia terpecah dalam aneka ragam perjanjian pertahanan antara negara-negara seideologi. Akibatnya, perang antar negara pun, tak dapat dihindarkan. Jepang dan AS tak ketinggalan karena merasa berkewajiban membela sekutunya. Akibatnya,15 hingga 22 juta jiwa melayang sebagai korban.
Berbeda dengan perang dunia pertama, perang dunia berikutnya pecah Ketika Jerman menginvasi Polandia 1 September 1939. Dengan strategi perang “Blitzkrieg”, dalam 2 hari saja Polandia bertekuk lutut. Tak kurang dari 6 juta orang direnggut jiwanya.Di belahan dunia lain, Jepang beraksi 2 tahun kemudian.Tepatnya tanggal 7 Desember 1941, Jepang membombardir pangkalan armada Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour Hawai.Tak kurang dari 2.400 personil militer dan sipil AS menemui ajal.Serangan mendadak yang mematikan ini mengakibatkan kerusakan hebat kapal-kapal perang AS.
Quo Vadis Indonesia ?
Ancaman Perang Dunia III yang mengerikan, kini terbuka lebar,tatkala AS dan sekutunya Israel menyerang Iran di akhir Februari yang lalu.Kehebatan intel Israel kembali terbukti tatkala mereka dan sekutunya,AS berhasil mengetahui dimana dan kapan pemimpin tertinggi negara Islam Iran itu, berkantor. Ayatollah Ali Khamenei,pimpinan tertinggi Iran gugur jadi mangsa senjata seteru utamanya. Israel dan AS. Masa berkabung pun diumumkan selama 40 hari, untuk memperingati kepergian Presiden Iran yang menjadi korban serangan brutal di bulan Ramadhan itu.
ADVERTISEMENT
Baku tembak pun akhirnya tak dapat lagi dicegah. Teheran, ibu kota Iran dihujani bom. Begitu pula dengan Tel Aviv ibu kota Israel. Jadi sasaran rudal Iran. Tak terkecuali pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.Dihujani rudal Iran.
Perang belum akan semakin parah, mungkin sekali karena rakyat Iran masih berkabung atas gugurnya Presiden mereka, Ayatollah Ali Khamenei.Mungkin juga, bulan Ramadhan mencegah umatnya berseteru.Atau barangkali karena Presiden baru Iran,pengganti Ayatollah Ali Khamenei belum lagi terpilih. Manakala ketiga momentum itu telah berlalu, perang dahsyat diramalkan akan mengguncang Dunia. Seandainya Rusia dan China ikut memasuki arena perang karena membela Iran, Perang Dunia III diramalkan bakal pecah. Perang dahsyat dan mengerikan karena senjata nuklir bakal ikut bicara.
Sambil berdoa agar Perang Dunia I dan II tidak bakal disusul Perang Dunia III, menarik untuk mengetahui dimana posisi Indonesia yang dengan “gagah”nya telah menempatkan diri sebagai pendamping AS di Board of Peace, bentukan Donald Trump, Presiden AS yang kini ternyata mengacak-acak perdamaian di Timur Tengah.
Akankah Indonesia yang dikenal sebagai negara pelopor anti kolonialisme/imperialisme ini bakal diam seribu bahasa ?***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





