ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Sauna dan ice bath sama-sama populer sebagai metode pemulihan setelah berolahraga. Namun, keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan tidak bisa digunakan secara sembarangan.
dokter sekaligus edukator kesehatan, Tirta Mandira Hudhi mengatakan sauna lebih tepat digunakan setelah menjalani latihan beban dibandingkan olahraga kardio berintensitas tinggi. Menurutnya, terdapat penelitian yang menunjukkan paparan panas setelah latihan beban dapat membantu proses pembentukan otot.
”Ini jawabannya ku kasih tahu. Jawabannya defense. Sauna itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang habis angkat beban,” kata dr. Tirta dalam tayangan YouTube miliknya, dikutip Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, suhu hangat saat sauna dapat memperlebar pembuluh darah kapiler sehingga aliran darah menuju otot meningkat. Kondisi tersebut dinilai mendukung proses pemulihan sekaligus pertumbuhan massa otot.
”Jurnal pertama adalah jurnal yang mendukung bahwa sauna yang dilakukan habis angkat beban, itu ternyata efektif buat pertumbuhan otot. Karena terjadi pembesaran pembuluh darah kapiler sehingga meningkatkan aliran darah ke otot yang membuat otot tersebut berkembangnya menjadi cepat,” jelasnya.
Berbeda halnya dengan olahraga kardio berintensitas tinggi, seperti lari jarak jauh, CrossFit, maupun Hyrox. Untuk jenis aktivitas tersebut, dr. Tirta menyarankan metode pemulihan menggunakan berendam air es atau ice bath.
“Jurnal kedua, bahwa ice bath selama dua sampai tiga menit itu bagus untuk meredakan ketegangan atau peradangan akut bagi orang yang melakukan aktivitas high high intensity cardio. Itu justru kalau dia mencelupkan dirinya ke dalam ice bath dua menit sampai tiga menit, itu bisa mengurangi peradangan akutnya,” ujarnya.
Selain digunakan secara terpisah, dr. Tirta mengatakan terdapat pula metode pemulihan yang mengombinasikan ice bath dan sauna atau dikenal sebagai hot and cold therapy. Metode tersebut dinilai dapat membantu proses pemulihan otot setelah latihan beban.
Meski demikian, ia mengingatkan agar penggunaan sauna tidak dilakukan terlalu lama maupun terlalu sering. Paparan suhu panas dalam waktu berlebihan berpotensi mengganggu kesehatan reproduksi pria.
“Tapi, sauna yang terlalu sering dan terlalu lama, misalkan dia lebih dari 40 menit atau lebih dari 15 menit dan dilakukan terus-terusan, itu justru mengganggu kinerja sperma pada testis,” tegasnya.
Menurut dr. Tirta, organ reproduksi pria sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Karena itu, masyarakat diminta menggunakan sauna secara bijak dan tidak berlebihan.
“Maka buat teman-teman yang sauna, boleh, tapi gak sampai sejam dua jam juga. Mau ngapain juga sauna sejam. Terus, orang sauna itu biasanya habis yoga, habis angkat beban. Habis lari itu jarang orang sauna, habis lari, ice bath,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






