ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Isu yang menyebut konsumsi makanan pedas disertai minuman panas dapat menyebabkan kerusakan pada organ limpa tidak memiliki dasar medis.
Penjelasan tersebut disampaikan dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, yang meluruskan anggapan tersebut melalui kanal YouTube miliknya.
Ia menjelaskan bahwa limpa atau spleen merupakan organ yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh serta proses pembentukan dan penyaringan sel darah. Karena fungsinya tersebut, organ limpa tidak terdampak langsung oleh makanan pedas, asam, maupun makanan bersuhu tinggi yang dikonsumsi seseorang.
”Mitos kalau itu. Spleen (limpa) itu fungsinya kan memproduksi darah kita, sementara makanan-makanan pedas, minum-minuman asam, dan makanan-makanan bersuhu tinggi itu mempengaruhinya ke esofagus sama lambung,”kata dr. Tirta, dikutip Senin (2/8/2026).
Menurutnya, makanan pedas dan panas justru lebih berpengaruh terhadap saluran pencernaan bagian atas. Konsumsi berlebihan dapat memicu gangguan pada lambung maupun kerongkongan, bukan pada limpa.
Ia menuturkan, biji cabai yang tidak dapat dicerna tubuh dapat memicu iritasi saluran cerna sehingga menyebabkan diare dan sensasi panas saat buang air besar. Sementara makanan yang terlalu asam berpotensi mengganggu lambung apabila dikonsumsi terlalu sering.
“Makan makanan pedas terlalu sering, kan biji cabai itu nggak bisa dicerna, jadi akan menyebabkan diare, anusnya panas. Makan makanan terlalu asam, bisa menyebabkan gangguan pada lambung kalau terlalu sering,” jelas dia.
Selain itu, dr. Tirta mengingatkan bahwa makanan dengan suhu terlalu tinggi dapat melukai jaringan pada rongga mulut dan kerongkongan. Kondisi tersebut dapat memicu peradangan pada mukosa mulut maupun esofagus apabila berlangsung berulang.
”Makan makanan yang terlalu panas, itu membuat mukosa esofagus dan mulut jadi melonyot, lidahnya jadi radang. Jadi yang terganggu adalah sistem pencernaan bagian atas,” pungkas dr. Tirta.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






