ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata sejarah favorit di Kota Bandung.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, museum yang berada di kawasan Gedung Merdeka itu telah dikunjungi lebih dari 35.000 wisatawan, belum termasuk lebih dari 3.500 wisatawan mancanegara yang datang untuk menelusuri jejak sejarah diplomasi dunia.
Kepala Seksi Publikasi dan Nilai-nilai KAA, Christoforus Katon, mengatakan tingginya angka kunjungan menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap wisata edukasi dan sejarah terus meningkat, khususnya di kalangan pelajar dan generasi muda.
ADVERTISEMENT
Polresta Bandung Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak 13 Tahun di Ciparay
Menurutnya, Museum KAA didirikan untuk mengabadikan peristiwa bersejarah Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menjaga semangat solidaritas yang lahir dari pertemuan negara-negara Asia dan Afrika tersebut.
“Gagasan pendirian museum muncul untuk mengabadikan sejarah serta semangat Konferensi Asia-Afrika. Usulan tersebut disampaikan pada peringatan 25 tahun KAA tahun 1980, mendapat dukungan Presiden Soeharto. Akhirnya Museum Konferensi Asia-Afrika diresmikan pada 24 April 1980 bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika,” kata Christoforus dalam keterangan resminya, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, ide pembangunan museum pertama kali dicetuskan oleh Menteri Luar Negeri RI saat itu, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Gagasan tersebut muncul karena banyak kepala negara dan tamu asing yang ingin melihat langsung Gedung Merdeka, tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika pada 1955.
Museum KAA kini menghadirkan berbagai koleksi bersejarah yang membawa pengunjung mengenal lebih dekat perjalanan diplomasi Indonesia di panggung internasional. Mulai dari diorama Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika, arsip foto dan dokumen asli, peralatan jurnalistik yang digunakan saat konferensi berlangsung, hingga film dokumenter yang mengisahkan jalannya pertemuan bersejarah tersebut.
Tak hanya itu, pengunjung juga diajak memahami perjalanan Gedung Merdeka yang menjadi saksi lahirnya semangat persatuan, kerja sama, dan perdamaian di antara negara-negara Asia dan Afrika.
Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam, Museum KAA menyediakan layanan edukator atau pemandu wisata bagi rombongan yang telah melakukan reservasi. Layanan tersebut tersedia dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin sehingga dapat melayani wisatawan dari dalam maupun luar negeri.
Menariknya, seluruh layanan kunjungan ke Museum KAA diberikan secara gratis. Baik pengunjung individu maupun rombongan cukup melakukan pendaftaran melalui sistem reservasi yang telah disediakan. Khusus rombongan, proses reservasi dilakukan terlebih dahulu melalui admin museum sebelum mengisi formulir kunjungan.
Museum KAA melayani kunjungan setiap Rabu hingga Sabtu mulai pukul 09.00-15.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00-13.00 WIB. Khusus hari Jumat, jam operasional menyesuaikan waktu pelaksanaan salat Jumat.
Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, jumlah rombongan juga dibatasi. Pada sesi pagi pukul 09.00-12.00 WIB, museum menerima maksimal 250 orang, sedangkan sesi siang pukul 13.00-15.00 WIB dibatasi sebanyak 200 orang.
Christoforus menambahkan, Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada 18-24 April 1955 dan dihadiri oleh 29 negara menjadi tonggak penting dalam perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk memperjuangkan kemerdekaan, kesetaraan, serta perdamaian dunia.
“Peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955 mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama antarindividu maupun antarbangsa dalam menjaga persatuan serta perdamaian dunia,” ujarnya.
Lebih dari sekadar menyimpan benda-benda bersejarah, Museum Konferensi Asia-Afrika kini menjadi ruang edukasi yang terus menghidupkan semangat diplomasi, persaudaraan, dan perdamaian bagi generasi masa kini.
Keberadaannya di pusat Kota Bandung menjadikannya salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan sejarah Indonesia sekaligus memahami peran penting Bandung dalam percaturan dunia.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






