KORANMANDALA.COM – Banyak orang menjalani puasa karena alasan spiritual. Namun, bagaimana jika praktik ini juga menyimpan potensi manfaat dalam dunia medis bahkan untuk pasien kanker?
Sejumlah temuan ilmiah mulai menyoroti bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga memicu perubahan metabolisme yang kompleks di dalam tubuh. Perubahan inilah yang diduga memberi dampak terhadap pertumbuhan sel, termasuk sel kanker.
Salah satu rumah sakit di Abu Dhabi, Syaikh Shakbout Medical City, menyebutkan bahwa puasa dapat memberikan dukungan dalam pengobatan kanker, khususnya pada pasien yang menjalani kemoterapi. Dalam kondisi berpuasa, kadar gula darah dan hormon pertumbuhan yang berperan dalam memicu pertumbuhan sel kanker cenderung menurun. Sebaliknya, tubuh meningkatkan produksi keton sebagai sumber energi alternatif.
Zakat Fitrah Kota Bandung setara 2,5 Kg Beras, Ini Besaran dan Dalil Kewajibannya
Perubahan ini membuat tubuh lebih stabil saat menerima obat kemoterapi. Efek samping atau tingkat toksisitas obat terhadap sel sehat dilaporkan lebih rendah, sehingga proses pengobatan berpotensi berjalan sesuai jadwal tanpa penundaan akibat kondisi fisik yang menurun. Secara biologis, kualitas hidup pasien pun disebut mengalami peningkatan.
Selain itu, puasa juga meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam tubuh. Ketika glukosa berkurang, tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Kondisi ini diduga memperkuat kerja sel imun, termasuk sel pembunuh alami (natural killer cells), yang berperan dalam menghancurkan sel-sel rusak seperti sel kanker dan virus.
Temuan lain dilaporkan dalam penelitian dari University of Southern California. Studi tersebut menemukan bahwa puasa dapat membantu memperlambat pertumbuhan dan penyebaran tumor pada hewan percobaan. Dalam eksperimen terhadap tikus, sel tumor menunjukkan respons yang lebih baik ketika hewan berada dalam kondisi “berpuasa”. Jika dikombinasikan dengan kemoterapi, hasilnya bahkan disebut berpotensi membantu penyembuhan pada jenis kanker tertentu meski penelitian ini masih terbatas pada model hewan.
Sementara itu, publikasi ilmiah di platform ScienceDirect menyoroti temuan menarik lainnya puasa mampu melindungi sel normal dari stres oksidatif, tetapi justru membuat sel kanker lebih rentan. Perbedaan respons ini membuka peluang bahwa puasa bisa menjadi strategi pendamping untuk menunda perkembangan tumor.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa diperlukan studi lanjutan pada manusia untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Puasa tidak dapat menggantikan terapi medis utama, melainkan berpotensi menjadi terapi komplementer yang harus berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Dengan berkembangnya riset tentang metabolisme dan kanker, puasa kini tidak lagi dipandang hanya sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai pendekatan biologis yang menjanjikan. Namun satu hal tetap penting: setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, sehingga keputusan untuk berpuasa selama menjalani pengobatan harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
