KORAN MANDALA – Aksi teatrikal yang menggambarkan pejabat enggan mendengarkan aspirasi masyarakat menjadi salah satu sorotan dalam demonstrasi Aliansi BEM Nusantara Wilayah Bandung di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).
Menurut Pantauan Koran Mandala, Melalui teatrikal tersebut, mahasiswa menyindir sikap pejabat yang dinilai tidak responsif terhadap suara rakyat, meskipun berbagai aspirasi telah berulang kali disampaikan melalui aksi demonstrasi.
Salah seorang peserta aksi, Nabila Fitriani, mahasiswi Universitas Islam Bandung (Unisba), mengatakan teatrikal itu menggambarkan kondisi yang dirasakan mahasiswa ketika berupaya menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun wakil rakyat.
Dalam adegan tersebut, mahasiswa digambarkan menyampaikan orasi, sementara sosok pejabat justru bersikap seolah tidak mendengar dan mengabaikan tuntutan yang disampaikan.
“Konsep awalnya kita menggambarkan kondisi kita hari ini. Saya sebagai orang yang berorasi bersama dua kawan lainnya, sementara ada sosok pejabat yang diperankan oleh mahasiswa. Pejabat itu menggambarkan sikap yang tidak mau mendengarkan aspirasi kita, sebanyak apa pun dan selama apa pun kita turun ke jalan,” ujar Nabila saat diwawancarai Koran Mandala Jum’at (6/7/2026)
Menurutnya, mahasiswa hanya ingin menyampaikan aspirasi dan membuka ruang dialog. Namun, keberadaan barikade aparat di lokasi aksi justru membuat mahasiswa merasa diperlakukan seolah-olah membawa ancaman.
“Padahal kita tidak membawa senjata, tombak pun tidak kita bawa. Kita hanya membawa kata-kata dan jas almamater dari universitas masing-masing. Tetapi kita dijaga dengan tameng seolah-olah kita ini teroris,” katanya.
Nabila mengaku telah berupaya berkomunikasi dengan aparat kepolisian dan petugas negosiator untuk menjelaskan maksud kedatangan mahasiswa. Ia berharap ada pihak yang bersedia mendengarkan aspirasi mereka secara langsung agar persoalan dapat dibicarakan tanpa harus berlarut-larut.
“Kenapa mereka tidak mau turun untuk mendengarkan kita secara langsung? Padahal kalau mereka mau mendengarkan, persoalan ini bisa lebih cepat diselesaikan. Mereka juga lelah berdiri di sini, kita pun memahami itu. Tetapi kenapa tidak ada inisiatif untuk mendengarkan apa yang ingin kita sampaikan?” ungkapnya.
Ia menegaskan, aksi tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan upaya mahasiswa mendorong perubahan agar kondisi Indonesia menjadi lebih baik.
“Kita di sini bukan untuk memerangi negara sendiri. Tetapi kita ingin memajukan Indonesia agar menjadi lebih baik dan lebih cerah,” tegas Nabila.
Selain persoalan ruang dialog, Nabila juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang dinilainya semakin sulit. Ia mengaku merasakan langsung dampaknya terhadap kehidupan keluarga, terutama ketika pendapatan orang tua yang bekerja serabutan tidak menentu.
Kondisi tersebut membuatnya harus mengatur keuangan seminimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa. Bahkan, kebutuhan dasar seperti pembalut dan buku turut menjadi perhatiannya karena dinilai masih terbebani pajak.
“Sebagai mahasiswa, saya benar-benar kesulitan dalam masalah keuangan. Pengeluaran harus ditekan seminimal mungkin. Duit memang bukan segalanya, tetapi menjadi penopang kita untuk hidup,” tuturnya.
Ia pun mempertanyakan arah kebijakan pemerintah yang dinilai belum memberikan perhatian seimbang terhadap sektor pendidikan dan kebutuhan masyarakat.
“Bukan hanya MBG, MBG, MBG. Pendidikan mana? Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) bagaimana, apakah sistemnya bisa berjalan lancar atau hanya mangkrak saja?” ujarnya.
Perwakilan Bem Unisba Adjeng, mengatakan aksi tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bandung. Ia menyebut belum adanya kejelasan tindak lanjut atas aspirasi dalam aksi sebelumnya menjadi salah satu alasan mahasiswa kembali turun ke jalan.
“Belum ada tindak lanjut sama sekali dari DPRD. Itulah kenapa akhirnya kita memutuskan bekerja sama dan berkoordinasi dengan kampus-kampus lain untuk turun aksi hari ini,” ungkapnya.
Ia menegaskan, mahasiswa akan melanjutkan koordinasi dan konsolidasi apabila tuntutan mereka kembali tidak mendapat tanggapan.
“Pastinya bakal ada koordinasi dan konsolidasi lanjutan. Karena yang kita bawa ini adalah suara rakyat, jadi tidak mungkin kita lepas begitu saja tuntutan yang kita bawa hari ini,” katanya.
Ia berharap DPRD Jabar memberikan tindak lanjut yang jelas dan transparan terhadap aspirasi mahasiswa, bukan sekadar menerima tuntutan tanpa kejelasan proses penyelesaiannya.
“Bagi kita belum cukup, karena memang belum ada transparansi bagaimana tuntutan kita itu ditindaklanjuti,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






