TPA Sarimukti
KORAN MANDALA – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat kembali berada dalam kondisi kritis.
Daya tampung sampah di lokasi tersebut hampir habis dan diperkirakan hanya mampu bertahan dalam hitungan beberapa minggu ke depan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, mengakui kondisi Sarimukti yang sudah penuh. Pemprov Jabar kini melakukan sejumlah rekayasa teknis untuk memperpanjang masa operasional TPA tersebut sambil menyiapkan alternatif pengolahan sampah.
“Iya jadi memang betul, sampai saat ini pun kami sedang melakukan beberapa rekayasa teknis di Sarimukti. Karena memang betul-betul sudah full ya, tetapi karena kita belum memiliki alternatif yang lain, jadi sesuai dengan arahan pimpinan, kami melakukan beberapa rekayasa,” ujar Ai, Kamis (5/11/2026).
Salah satu langkah yang ditempuh yakni menambah lapisan atau layer penampungan sampah di Zona 5. Penambahan kapasitas tersebut dilakukan setelah melalui kajian bersama tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Meski dinilai masih memungkinkan secara teknis, langkah tersebut hanya memberikan tambahan daya tampung dalam waktu terbatas. Ai memperkirakan Zona 5 kembali penuh dalam hitungan beberapa minggu.
“Pertama peningkatan, penambahan layer di area Zona 5. Tapi ini juga kami tidak serta-merta, karena kami juga didampingi oleh tim dari ITB. Dan itu menyatakan masih memungkinkan untuk penambahan layer. Tapi itu pun tidak berlangsung lama, itu paling hanya beberapa minggu itu akan full,” ucapnya.
Selain mengoptimalkan Zona 5, DLH Jabar tengah mengkaji kemungkinan mengaktifkan kembali Zona 4. Namun, rencana tersebut masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama risiko pergeseran konstruksi karena bagian hilir yang mengarah ke kolam stabilisasi belum dibangun.
Karena itu, DLH masih menghitung volume sampah yang aman untuk ditampung di area tersebut sebelum memutuskan langkah lanjutan.
Untuk jangka menengah, Pemprov Jabar juga menyiapkan optimalisasi sejumlah area di Zona 5 yang belum dimanfaatkan. Rencana tersebut ditargetkan mulai dilakukan pada 2027 tanpa memperluas kawasan TPA maupun membuka lahan baru milik Perhutani.
“Kita berupaya untuk tidak menambah luasan ya. Jadi kita mengoptimalkan yang ada saja. Jadi kayak misalnya nanti Zona 5 dan Zona 4 pun kalau misalnya memungkinkan untuk direaktivasi secara masif, ini tentunya nanti konstruksinya itu yang harus dibangun terlebih dahulu,” jelas Ai.
Di sisi lain, DLH Jabar tengah menjajaki kerja sama pengolahan 1.000 ton sampah menggunakan metode landfill mining. Metode ini dilakukan dengan menggali dan mengolah kembali timbunan sampah lama sehingga dapat mengurangi volume sampah yang menumpuk di Sarimukti.
Ai menyebut, pengolahan melalui metode tersebut diharapkan memberikan pengurangan volume sampah yang lebih signifikan dibandingkan sekadar menambah kapasitas penampungan.
“Kemudian kami juga tetap dalam penjajakan kerja sama untuk bisa mengolah 1.000 ton landfill mining,” katanya.
Menurutnya, upaya tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi beban Sarimukti, mengingat penambahan kapasitas melalui rekayasa teknis hanya mampu memberikan ruang tampung dalam waktu terbatas.
Sementara itu, Pemprov Jabar berharap pembangunan fasilitas pengolahan sampah regional Legok Nangka dapat menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di Bandung Raya.
Saat ini, tahapan persiapan menuju financial close masih berlangsung, termasuk penyiapan lahan untuk jalur transmisi listrik dan air baku.
Ai berharap pembangunan fisik fasilitas pengolahan sampah Legok Nangka dapat dimulai pada 2027.
“Insya Allah tahun depan itu betul-betul kita akan mulai konstruksi. Udah jalan kok, on track Insya Allah,” tandasnya.